Published On: Mon, Oct 16th, 2017

Adharta Ongkosaputra: Optimalkan Tol Laut dengan LCT

Ir. Adharta Ongkosaputra, CEO PT Aditya Aryaprawira

MN, Jakarta – Program Tol Laut yang dicanangkan oleh Pemerintahan Jokowi-JK sebagai penjabaran dari visi Poros Maritim Dunia dan Nawacita, menjadi tulang punggung perekonomian yang menghidupkan daerah-daerah Terpencil, Terpelosok, dan Terdepan (3T). Keberhasilan Tol Laut yang menekankan pada hilangnya disparitas harga dan lancarnya arus logistik ke daerah 3T tadi, belum begitu tampak pada 3 tahun berjalannya program ini.

Menanggapi hal tersebut, pelaku usaha yang sudah berkecimpung selama 25 tahun di bidang logistik, Ir. Adharta Ongkosaputra menilai program ini baru dinikmati oleh kota-kota besar saja. Terutama kota-kota yang memiliki fasilitas pelabuhan yang baik dan dapat disinggahi oleh kapal besar.

Ya, memang program Tol Laut ini ditopang oleh 5 pelabuhan utama yakni Kuala Tanjung, Jakarta, Makassar, Surabaya dan Sorong yang diperkuat oleh pelabuhan pendukung yang tersebar di beberapa titik.

Menurutnya, hal itu belum mampu menjamah pulau-pulau lain terutama yang belum memiliki dermaga. Maka dari itu diperlukan suatu terobosan dan inovasi untuk mengoptimalisasi berjalannya program ini yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

“Saya usulkan Tol laut itu menggunakan LCT (Landing Craft Tank-red), karena dia bisa menuju ke daerah-daerah yang tak memiliki dermaga, cukup tepi pantai saja dia sudah bisa menurunkan barang,” tandas Adharta saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

LCT biasa digunakan oleh TNI AL dalam menurunkan tank amfibi dan pasukan. TNI AL sendiri memiliki beberapa unit kapal LCT yang masih layak digunakan terutama dalam mendukung optimalisasi Tol Laut.

Sambung CEO PT Aditya Aryaprawira ini, Indonesia perlu memiliki LCT dalam jumlah banyak. Mengingat negara ini memiliki 17 ribu pulau dan banyak yang letaknya terpelosok, maka sarana transportasi yang efektif perlu ditingkatkan jumlahnya.

“Kapal ini (LCT) melakukan operasi kerja dengan cara Roll on Roll Off (Roro) atau beaching di tepi pantai, sejauh pantai tersebut memiliki lokasi yang aman dan kedalaman air yang memadai untuk bongkar muat,” terangnya.

Bongkar muat tersebut bisa dilaksanakan di ramp door yang berada di depan kapal. LCT ini juga terdiri dari beberapa ukuran dead weight ton (DWT) yang bisa disesuaikan menurut lokasinya.

Sarana berikutnya sebagai alternatif adalah dengan menggunakan dermaga apung (floating dock). Dermaga apung ini bisa terbuat dari tongkang-tongkang yang disusun dan bisa menampung bongkar muat dari kapal-kapal cargo yang besar baru kemudian dibawa oleh kapal-kapal kecil.

“Jadi tak perlu tunggu lama-lama lagi suatu kapal besar yang ingin kirim barang ke daerah-daerah terpencil,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) itu.

Untuk mengoperasionalkan arus logistik dalam bentuk digitalisasi, Adharta juga sudah menggagas ABC Online untuk memperbaiki biaya ekonomi tinggi. Hal itu dilakukannya guna mengonsep format logistik masa depan yang murah dan menguntungkan seluruh pelaku usaha.

 

(Adit/MN)

 

 

About the Author

- Redaktur Maritimnews.com Penulis Kajian Kemaritiman Indonesia

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com