Published On: Wed, May 24th, 2017

Akdemisi Untirta: Hanya Fokus bangun Infrastruktur, ini Poros Maritim untuk Siapa?

Foto Bersama: Penulis dan para Pembedah Buku Konsep Neogeopolitik Maritim Indonesia Abad 21, Ancaman Zionis dan China, di Untirta (23/5)

MNOL, Serang – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang Banten menggelar seminar bedah buku bertajuk Konsep Neogeopolitik Maritim Indonesia Abad 21, Ancaman Zionis dan China, di ruang teleconference, Gedung C, Untirta, Serang (23/5).

Acara ini merupakan wujud kepedulian Untirta untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia. Pasalnya buku yang ditulis oleh Letkol Laut (P) Salim itu mengandung semangat bagaimana membangun kemariitman Indonesia yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kebangsaan Indonesia.

Ungkap penulis dalam pemaparannya, kendati Indonesia saat ini memiliki visi maritim dalam pembangunannya namun belum dapat dikatakan sebagai negara maritim.

“Sekarang kalau ada yang bilang kita negara maritim yang besar itu salah besar. Karena masih proses, sementara maritim sendiri berbicara soal pengelolaan potensi di bawah, permukaan dan di atas laut dengan baik,” kata Salim.

Lebih lanjut, Pamen TNI AL yang banyak menerima penghargaan dari Angkatan Laut negara lain itu menjelaskan hingga saat ini, Indonesia pun belum memiliki strategi dan doktrin  maritimnya. Tanpa itu, sangat sulit cita-cita membangun Poros Maritim Dunia dilaksanakan.

“Hal yang paling penting adalah mencari nakhoda dalam memimpin negeri ini yang harus memiliki visi maritim yang baik tanpa meninggalkan nilai-nilai yang dikandung di dalam Pancasila dan UUD 1945 hingga membangun turunannya dalam bentuk strategi dan doktrin maritim,” tandasnya.

Apalagi di tengah ancaman Zionis dan China di abad 21 ini membuktikan bahwa nuansa penjajahan di atas dunia masih ada. Khususnya di Indonesia pasca berubahnya haluan negara saat memasuki era Reformasi seperti sekarang ini. Penjajahan dalam bentuk yang sangat halus melanda negara kita.

“Ancaman Zionis dan China bukan hanya terjadi sekarang ini, sudah dari zaman VOC kita sudah terkena ancaman ini. Sementara sekarang bentuknya sudah berubah dan semakin soft yang membuat kita makin tidak sadar,” pungkasnya.

Penanggap buku dari kampus Untirta, Dr. Nurprapti Wahyu W, M. Si menyatakan buku ini sangat penting untuk menggugah rakyat Indonesia khususnya mahasiswa untuk memiliki jiwa atau semangat membangun kemaritiman.

“Buku ini menjadi media yang baik dalam menstimulasi pemuda untuk bangkit mewujudkan kemaritiman Indonesia di tengah ancaman dari Zionis dan China sebagaimana yang dijelaskan oleh buku ini,” ungkap Nurprapti.

Ia melanjutkan, generasi muda sebagai tulang punggung bangsa di masa depan merupakan Generasi Z dengan karakteristik yang familiar dengan kemajuan teknologi. Tetapi kalau tidak diiringi dengan nilai-nilai dasar seperti agama, patriotisme dan semangat kemaritiman ini maka akan membahayakan.

Sambung dosen Untirta ini, dalam mengkritik buku kelima Letkol Laut (P) Salim itu adalah buku ini masih banyak mengandung unsur subjektivitas ketimbang objektivitas. Selain itu studi ilmiah secara empiris juga masih sangat kurang dalam buku ini sehingga sulit dijadikan referensi dalam dunia akademis.

“Menurut saya isinya lebih banyak berisikan safar dakwah ketimbang ilmiah empirisnya. Dalam bukunya juga masih banyak nuansa pesimis yang solusinya hanya dengan people power. Seharusnya bukan dengan amarah dan hopeless sebagai rekomendasi dari buku ini,” bebernya.

Meskipun demikian Nurprapti tetap salut dengan isi buku itu karena melihat kondisi saat ini perlu dibangun semangat khususnya bagi mahasiswa sebagai agent of change. Selorohnya, profesi sebagai dosen juga bisa disebut sebagai provokasi karena hanya dengan cara itulah benih-benih patriotisme dalam perubahan sosial bisa ditanamkan.

Mengkritisi fenomena saat ini dalam visi Poros Maritim Dunia, Nurprapti tidak melihat komitmen pemerintah dalam membangun SDM maritim dan pembenahan dunia pendidikan yang berlandaskan kemaritiman. Baginya yang tampak saat ini hanya pembangunan infrastruktur saja sehingga ia melayangkan pertanyaan ini poros maritim untuk siapa?

“Seharusnya mulai dari pendidikan dan pembangunan SDM, bukan seperti sekarang yang terlihat hanya pembangunan infrastruktur saja, kemudian apa benar ini poros maritim Indonesia atau poros maritim untuk negara lain,” tegasnya dengan bimbang.

Indonesia dengan kekayaan alam dan letaknya yang strategis dalam jantung pelayaran dunia memang menjadi primadona untuk negara lain dalam menancapkan hegemoninya. Ia pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada penulis buku ini agar kita terus waspada.

“Saya kira langkah yang paling efektif dari kampus dan akademisi dalam rangka perwujudan itu tetap membangun budaya kajian dan menulis. Masa mahasiswa kalah dengan TNI aktif  dalam menulis buku,” tutup Nurprapti dengan diikuti tepuk tangan dari seluruh audiens.

Sebelum bedah buku ini, dilakukan launching buku ‘Komunikasi Antar Budaya’ yang ditulis oleh akademisi Untirta Dr Rd Nia Kania Kurniawati. Bertindak sebagai moderator dalam acara itu ialah dosen Untirta Faisal Tomi Saputra.

(Anug/MN)

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha