Published On: Tue, Dec 5th, 2017

Armada RI, Perekat Laut Nusantara

Catatan Redaksi

Armada RI, Perekat Laut Nusantara

MN – Ketika Deklarasi Djuanda dikumandangkan pada 13 Desember 1957, penegasan bahwa laut sebagai pemersatu diikrarkan kembali. Bak mengulang kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, Deklarasi Djuanda memberi arti pentingnya laut sebagai perekat Nusantara. Laut merupakan wahana yang mempererat persatuan dan kesatuan Indonesia, sehingga tak dipungkiri deklarasi tersebut merupakan pengukuh dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai lahirnya bangsa Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejarawan Bahari, AB Lapian menyebut bahwa Indonesia (dulu Nusantara) bukanlah pulau-pulau yang dikelilingi laut, tetapi laut yang ditaburi pulau-pulau. Mindset tersebut merupakan seruan bahwa laut memainkan peranan penting dalam laju kehidupan bangsa Indonesia (Zuhdi, 2014:2).

Paradigma itu pula yang terus didengungkan oleh Bung Karno sejak kembali menjadi NKRI setelah sempat terjebak dengan konsep Republik Indonesia Serikat (RIS). Murid HOS Tjokroaminoto itu pernah menyatakan “Bila laut merupakan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka laut adalah Nyawa. Dalam kepercayaan bangsa kita mengenal Bapak Angkasa, Ibu Pertiwi yang memiliki arti bahwasannya tanah airku Indonesia adalah tanah air kepulauan yang berlaut dan bersamudra, bahwa salah satu unsur untuk menjadi bangsa yang jaya adalah menguasai lautan” (Marsetio, 2014:33).

Puncak pembangunan maritim di era Bung Karno ialah ketika Dekrit Presiden 5 Juli 1959, NKRI kembali ke rel revolusi sebagai Negara Proklamasi dengan berlakunya lagi UUD 1945. Dekrit itu pula yang ibarat menjadi ‘Tombol On’ dari Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Selain memperkuat matra pertahanan laut, Bung Karno juga membangun Kompartemen Maritim dalam kabinetnya dan menggelar Musyawarah Maritim Nasional pada 23 September 1963.

Dalam pembangunan matra laut, gayung bersambut kata terjawab, seiring dengan upaya untuk merebut Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, dibentuklah Armada RI pada 5 Desember 1959. Berdasarkan Skep Kasal Nomor: A.4/2/10, tanggal 14 September 1959, ditetapkan berdirinya Armada Angkatan Laut RI yang menggabungkan seluruh jajaran kekuatan tempur laut ke dalam Armada ALRI. Seluruh unsur kekuatan maritim bertumpu pada kekuatan armada ini dengan satu tujuan, merebut Irian Barat, persatukan Indonesia!

Mission Acomplish, Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 1 Mei 1963. Armada Laut RI pun menjelma menjadi kekuatan laut dunia yang disegani di kawasan. Bukan hanya sebagai perekat Nusantara, kekuatan ini juga mampu mengamankan perairan yurisdiksi Indonesia yang berimplikasi pada tingkat kesejahteraan rakyat.

Seiring dengan dinamika kebutuhan dan ancaman yang terjadi, Armada RI yang tadinya berpusat di Surabaya, pada 30 Maret 1985 dipecah menjadi Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yang berpusat di Jakarta dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya.

Mengingat lokasinya yang strategis, yakni di Ibukota NKRI (Jakarta-red), Koarmabar memainkan peranan penting dalam menjaga Laut Indonesia wilayah barat yang terbentang dari Laut Andaman hingga Laut Jawa. Selain itu juga meliputi Samudra Hindia yang membentang dari pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa bagian barat serta Laut Natuna Utara.

Sedangkan Koarmatim yang terdapat ALKI II dan III serta berbatasan dengan perairan Australia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Malaysia juga memegang peranan penting dalam mengendalikan kawasan pasifik.

Kilas Balik Sejarah

Wilayah perairan Indonesia yang terbentang dari Pulau Sumatera hingga Papua dahulu pernah berdiri beberapa imperium besar. Sebut saja Srwijaya dan Majapahit, hingga imperium kesultanan seperti Kesultanan Samudra Pasai, Aceh, Melayu, Tulang Bawang, Banten, Cirebon, Sukadana, Demak, Gowa, Bima, Ternate dan Tidore. Keseluruhan imperium itu tercatat memiliki armada laut yang kuat.

Ternyata armada-armada laut itu bukan hanya berkutat di bidang militer dan pertahanan saja, melainkan dalam ekonomi dan perdagangan juga menjadi domainnya. Sehingga istilah armada tempur dan niaga bagi negara maritim tak dapat dipisahkan terbukti di masa itu jauh sebelum A.T Mahan mengeluarkan teori itu. Konsep itu pula yang diemban saat ini oleh negara-negara maritim yang maju seperti Amerika Serikat, Inggris, China dan sebagainya.

Dengan armada lautnya, Sriwijaya mampu mempersatukan Nusantara meskipun belum mencakup keseluruhan seperti Majapahit. Namun kekuatan lautnya telah memberikan porsi sebagai bargaining power sampai ke Negeri China. Selanjutnya, di era Kesultanan Islam, meskipun tidak ada yang disebut sebagai nation state, namun upaya untuk mempertahankan tanah air Nusantara dari ekspansi bangsa Eropa patut diacungi jempol.

Mantan Danseskoal Laksda TNI Herry Setianegara dalam bukunya Strategi Maritim pada Perang Laut Nusantara dan Poros Maritim Dunia, menyebut ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, kesultanan-kesulatanan di Nusantara yang dipimpin oleh Demak melakukan upaya untuk merebut kembali pusat perdagangan rempah-rempah itu. Penyerangan dilakukan dengan mengerahkan 10.000 armada tempur yang dibantu oleh daerah-daerah lainnya seperti Aceh, Cirebon, Palembang, dan Johor (Setianegara, 2014:17).

Itulah sekelumit cerita tentang kejayaan armada temur Kesultanan-kesulatanan Nusantara di yang tersohor. Pasca NKRI berdiri, perairan Indonesia juga menyuguhkan peristiwa perang laut yang dilakukan oleh TKR Laut. Misalnya seperti pertempuran KRI Gajah Mada di perairan Cirebon dalam menghadang Angkatan Laut Belanda. Selain itu kiprah pasukan TKR Laut di beberapa front pertempuran seperti Cilincing, Sibolga, Palembang, Lampung dan Padang dalam merebut tangsi militer Jepang dan melawan Belanda dan kisah Pasukan M di Selat Bali (Dispenal, 2014: 17).

Sejarah menjadi hukum dan lautan memiliki marwah, itulah adagium luhur bangsa kita yang melekatkan suatu peristiwa dengan tempat, di mana saat ini menjadi ruang pengabdian bagi punggawa Koarmabar dan Koarmatim. Dengan napak tilas sejarah itu, lautan wilayah barat dan timur yang dipenuhi para ‘syuhada’ pejuang laut terdahulu menjadi pancaran energi yang ampuh bagi para penjaga laut saat ini.

Menuju Poros Maritim Dunia dan World Class Navy

Perairan Indonesia yang memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan 4 choke points dunia adalah jalur pelayaran strategis yang melegenda. Karena banyak dilalui kapal niaga sehingga area ini pun menjadi incaran para perompak dan rawan dengan berbagai macam tindak kejahatan. Koarmabar dan Koarmatim sebagai salah satu unsur pengamanan laut memiliki tugas dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) untuk memberantas tindak kejahatan tersebut.

Mantan Pangarmabar Laksdya TNI A Taufiqoerrachman (saat ini Wakasal) memiliki fokus di Selat Malaka sejak dilantik memimpin Kotama ini. Pengalamannya dalam membebaskan kapal tanker Pertamina yang dibajak oleh pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka-red) dan KMV Sinar Kudus di Somalia menjadi modal utama untuk membersihkan perompak di Selat Malaka. Alhasil, di masa kepemimpinannya, status Selat Malaka sebagai selat terawan di dunia beralih menjadi selat yang aman untuk dilayari.

Salah satu tolok ukur dalam menjadi World Class Navy adalah keberhasilan dalam operasi, baik (Operasi Militer Perang) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Keberhasilan operasi Koarmabar dan Koarmatim kerap ditunjukan dalam mengamankan perairan Indonesia dari segala tindak macam pelanggaran hukum.

Tinggal tantangan ke depan, khususnya dalam menurunkan ketegangan di Laut China Selatan (LCS) dan hegemoni AS di Samudra Pasifik menuntut penambahan armada di TNI AL. Adanya Armada Ketiga tentu akan membantu pemerintah dalam visinya untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan stabilisator kawasan. Seperti itulah pesan yang disampaikan Pembukaan UUD 1945 kita untuk ikut serta mewujudkan ketertiban dunia, bukan mencari musuh. Namun kita pasti akan bermusuhan dengan negara lain saat kedaulatan kita diusik.

Adagium Si vis pacem, para bellum (Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang) adalah suatu keniscayaan terlebih di era abad 21 ini, di mana kelangkaan Sumber Daya Alam tengah terjadi dan melanda beberapa negara di dunia. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa tentu akan menjadi incaran dunia untuk mengamankan kepentingan nasionalnya.

TNI AL dalam hal ini Koarmabar dan Koarmatim dengan didukung oleh segenap rakyat tentunya harus bersiap selalu menghadapi kondisi demikian. Lautan kita yang kaya kelak akan menjadi ajang pertempuran dunia, di situlah ujian terberat Poros Maritim Dunia dengan kekuatan armada lautnya. Ketika persatuan sudah terwujud, tinggal perekatan antara kekuatan militer dengan ekonomi. Koarmabar dan Koarmatim pun dituntut untuk menjadi garda terdepan dalam proses perekatan itu. Selamat Hari Armada 5 Desember 2017, Jalesveva Jayamahe!

 

 

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha