Published On: Sat, Aug 27th, 2016

Bedah Buku My Fish My Life, Letkol Laut (P) Salim: Jangan Sampai Laut kita Terus Dikuasai Asing!

Penulis Buku My Fish My Life, Letkol Laut (P) Salim dalam acara Bedah Buku di UNDIP, (27/8).

Penulis Buku My Fish My Life, Letkol Laut (P) Salim dalam acara Bedah Buku di UNDIP, (27/8).

MNOL, Semarang – Acara Bedah buku berjudul My Fish My Life: Ketahanan Pangan dari Laut, Sea Power Perspective, karya Letkol Laut (P) Salim, di Aula Dekanat Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (UNDIP) pada 27 Agustus 2016 mengupas soal bagaimana laut menjadi sumber ketahanan pangan di NKRI.

Penulis buku tersebut sekaligus pembicara dalam diskusi itu menuturkan bahwa biota laut Indonesia merupakan karunia alam dari Tuhan YME yang lama tersia-siakan.

“Nilai ekonomi kelautan per tahunnya mencapai tujuh kali APBN tahun 2010. Tapi baru digarap hanya 10 persennya,” ujar Salim dalam acara itu.

Lebih lanjut, lulusan AAL tahun 1995 itu juga menerangkan soal Laut China Selatan (LCS) merupakan potensi yang luar biasa kekayaan lautnya. Namun, dibalik itu, masih ada mental-mental pejabat yang ingin menjual teritorialnya kepada asing.

“Bermunculan brutus-brutus gaya Orde Baru yang mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dari polemik Laut China Selatan,” tandasnya.

Dia mencontohkan adanya tragedi ‘Papa Minta Saham’ merupakan bentuk berkeliarannya para elit penjual bangsa yang siap menggunting dalam lipatan.

“Akibat dipandang sebagai pulau ‘terluar’ bukan ‘terdepan’, kita mempersilahkan illegal fishing Rp250 triliun per tahun berlangsung aman. Ini jadi bukti kalau nelayan di perbatasan masih lemah, bandingkan dengan China yang dikawal oleh militernya dalam mencari ikan,” selorohonya.

Menurutnya, kekayaan yang bernilai ratusan triliun ini hanya dinikmati oleh asing melalui perusahaannya yang akhirnya menjadi hak milik mereka.

“Tak heran bila masyarakat Natuna terendah IPM (Indeks Pembangunan Manusia)-nya, ironis memang,” imbuhnya.

Maka dari itu, buku ini menjadi jawaban dari permasalahan itu semua. Pamen TNI AL yang rajin menulis buku itu pun mengutip poin dalam tulisan bukunya yakni menghidupkan kembali konsep bahari yang berfilosofi ‘Lautan yang ditaburi Pulau’.

“Kembali ke jati diri bangsa sebagai bangsa yang memiliki peradaban maritim yang luhur dan itu harus dituangkan dalam konsep ocean leadership pada national character-nya,” terang mantan Komandan KRI Untung Suropati yang rajin Puasa Daud (sehari puasa sehari tidak) itu.

Selain Letkol Laut (P) Salim, pembicara dalam bedah buku itu ialah Tenaga Ahli Utama bidang Maritim, Kantor Staf Presiden (KSP), Riza Damanik. Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI) itu dalam pemaparannya menekankan peningkatan taraf hidup nelayan dalam setiap sektor.

“Dalam percepatan poros maritim perlu digalakkan peningkatan kesejahteraan nelayan. Tidak mungkin terwujud poros maritim dunia bila nelayannya masih hidup dibawah garis kemiskinan,” kata Riza.

Selain sektor perikanan, Riza juga mengimbau agar setiap sektor kemaritiman juga diprioritaskan. Jangan sampai visi yang sudah dicanangkan sejak tahun 2014 ini bergeser kembali kepada visi daratan.

Praktis, pemaparan dari para pembicara itu mengundang banyak pertanyaan dari para audiens yang sebagian besar merupakan mahasiswa jurusan Kelautan dan Perkapalan UNDIP.  (Tan)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com