Published On: Mon, Aug 28th, 2017

‘Benarkah’ Tawaran LNG Murah dari Singapura?

Ilustrasi

Oleh: Yuri Usman*

MN – Kehadiran perusahaan Singapura, Keppel Ofshore dan Marine pada tanggal 15 Agustus 2017 lalu di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman yang diterima langsung oleh Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan didampingi oleh Dirjen Migas dan Direktur PLN mengundang asumsi beragam. Pasalnya, kunjungan itu bermaksud menawarkan LNG lebih murah untuk kebutuhan PLN di berbagai daerah dan industri lainnya.

Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan besar di publik. Artinya terkesan ada yang tidak beres dalam tata kelola migas di tanah air selama ini baik di hulu maupun hilir.

Kejadian itu akan dibaca publik bahwa sepertinya Pak Luhut Binsar Panjaitan terkesan sudah tidak percaya lagi dengan kemampuan Menteri ESDM dan wakilnya serta Menteri BUMN dalam hal kemampuannya menyediakan harga gas murah untuk kebutuhan PLN dan industri lainnya. Padahal pada Rakor di kantor Menko Perekonomian di bulan November 2016 lalu yang dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, SKK Migas, Pertamina dan PGN telah dianalisa dan disimpulkan suatu solusi dan langkah-langkah di hulu dan hilir agar harga gas di hulu lebih murah USD 6 per MMBTU.

Berbagai skenario telah dibuat untuk kebutuhan 7 industri di antaranya pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca dan terakhir industri sarung tangan karet. Hal tersebut menunjukkan harga gas yang bisa berdaya saing dengan produk impor adalah USD 4 per MMBTU agar dapat menciptakan percepatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pendapat pajaknya.

Tentu konsekwensinya mengurangi bagian negara di sektor hulu, tetapi anehnya saat itu tidak ada sedikit pun pembahasan soal harga gas yang pantas untuk kebutuhan pembangkit PLN.

Kemudian bisa jadi kedua BUMN yang selama ini ditugaskan oleh Pemerintah yaitu Pertamina dan PGN seakan tidak mampu memberikan dukungan penuh kepada PLN untuk pembangkitnya agar mendapat kepastian pasokan gasnya dengan harga murah.

Pipa gas bawah laut ke Singapura

Padahal  selama ini semua rakyat Indonesia paham bahwa Singapura itu tidak ada sumber migas-nya. Sudah puluhan tahun kebutuhan gas untuk industri dan rumah tangganya disuplai Indonesia dari lapangan Gresik, Sumsel dan Natuna lewat pipa bawah laut.

Anehnya lagi perusahaan Keppel Offshore and Marine ini bergeraknya di bidang  pelabuhan, galangan kapal dan anjungan lepas pantai. Perusahaan tersebut sepengetahuan penulis belum pernah punya rekam jejaknya dalam dunia perdagangan gas dan tidak ada terlibat ikut sebagai participacing interest di blok migas di seluruh dunia. Serta tidak pernah tercatat juga sebagai mitra rekanan di ISC Pertamina. Praktis, kejadian ini agak membingungkan sebagian besar pedagang gas internasional dan nasional.

Sikap PLN berminat atas tawaran Keppel Offshore and Marine bisa sangat benar dengan alasan mendapat harga gas murah dan dapat menurunkan biaya produksinya. Akhirnya konsumen diuntungkan dengan harga jual listrik yang lebih murah.

Sebaliknya malah ada pertanyaan besar yang belum terjawab sampai saat ini, sejak Menteri ESDM Sudirman Said dan Jonan serta Wakilnya dan Direksi Pertamina sudah beberapa kali berkunjung ke negara Timur Tengah seperti Iran, Irak, Saudi Arabia dan Qatar untuk merintis beli gas langsung ke produsennya, tetapi mana hasilnya?

Bahkan Menko Maritim belakangan juga berkunjung ke Iran dan sangat optimis Pertamina akan memperoleh 2 blok migas di Iran dalam waktu dekat ini. Wamen ESDM Achndra Tahar mengatakan ini “good news” dan harapan kita mudah mudahan tidak “bed result”.

Belajar dari China Senangol

Penulis hanya sedikit khawatir apa mungkin kedatangan perusahaan Singapura ini bisa  mengulang cerita lama ketika sesaat beberapa hari setelah pelantikan Presiden Jokowi dan JK, tepatnya tanggal 31 Oktober 2014 kita dihebohkan oleh Perusahaan China Senangol bisa menawarkan minyak mentah murah 25 % dari harga rata-rata di pasar. Bahkan saat itu, Wapres Anggola Manuel Domingus Vicente datang menjumpai Wapres Jusuf Kalla dan menyaksikan tanda tangan MOU antara Pertamina dengan Sonangol EP,  yang konon kabarnya untuk merealisasikan rencana itu.

Saat itu pun beredar kabar bahwa Pak Enggar Lukito sibuk mengawal China Senangol di Pertamina, bahkan Direktur Pemasaran dan Niaga saat itu Hanung Budya sangat optimis kerjasama antar kedua negara akan dipersembahkan dalam “joint agreement” antara Pertamina dengan Senangol.

Untuk merealisasikan proyek di hulu dan hilir seperti membangun kilang, bahkan Husein sebagai Plt Dirut Pertamina dengan lantang mengatakan bahwa dari kerjasama itu, Indonesia 5-6 tahun ke depan akan swasembada energi.

Tetapi belakangan, rencana itu tidak jelas ujungnya. Bahkan terdengar juga kabar dibalik tawaran harga murah tersebut ternyata motif China Senangol itu ingin menguasai penuh semua kebutuhan impor minyak mentah dan BBM Pertamina dengan mengkerdilkan fungsi ISC dan Petral.

Namun  setahun kemudian kita mendapat kabar terakhir Mr. Sam Pa telah ditangkap oleh penegak hukum Negara Tiongkok pada tanggal 8 Oktober 2015 atas kasus kejahatannya berdasarkan hasil penyidikan terhadap Gubernur Provinsi Fujian yang merupakan pimpinan perusahaan minyak BUMN China Sinopec atas kasus korupsi.

Sehingga mudah-mudahan saja proyek LNG murah yang diusung perusahaan Singapura ini tidak berujung yang sama dengan cerita minyak mentah murah saat itu.

 

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI)

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha