Published On: Thu, Dec 21st, 2017

Chandra Motik: Penahanan MV Neha coreng Wajah Maritim Indonesia  

 

Pakar Hukum Maritim, Chandra Motik

MN, Jakarta – Akibat tertahan selama tiga bulan oleh sekolompok preman, kapal kargo MV. Neha yang merapat di Pelabuhan Batam, mengklaim mengalami kerugian.

Hal itu disampaikan oleh pemilik MV.Neha yang juga selaku Direktur Operasi Bulk Black sea Inc,Raef S  Din di Hotel Orion, Menteng, Jakarta, (20/12). Ia menjelaskan tentang sekelompok preman yang tiba-tiba menghadang kapal siap berlayar dan telah mengantongi Surat Persetujuan Berlayar (SPB) Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Batam.

“Ketika kapal kami bergerak tiba-tiba mereka dengan menggunakan speed boad menghadang kami dan naik ke atas kapal, seperti layaknya perompak,” ujarnya,

Ia sangat terkejut apalagi pada saat segerombolan preman itu datang menahan kapal MV.Neha, tidak ada satu pun petugas keamanan, baik dari kepolisian maupun TNI AL, KPLP atau Bakamla untuk melakukan pengamanan.

“Padahal sebelumnya kami telah memohon secara tertulis kepada Polda Riau dan Lantalamal lV Tanjungpinang agar kami dilindungi, dan minta prioritas agar para awak kapal yang tertahan terlebih dahulu dievakuasi, namun mereka tidak bertindak apa-apa, bahkan seakan-akan mereka sangat kompak dengan gerombolan tersebut,” ungkap Raef.

“Gerombolan preman mengelilingi kapal bahkan mencoba naik untuk menguasai kapal  oleh karenanya kapal kami sudah tiga bulan tertahan. Biaya per hari sebesar 6.000 dolar,” kami mengalami kerugian,” sebut dia.

Sementara itu, kuasa hukum dari pemilik kapal, Chandra Motik menyampaikan bahwa sejauh ini belum diketahui motif di balik penahanan, Mereka hanya mengatakan, kapal itu sudah menjadi sitaan.

“Ini adalah tindakan premanisme, katanya, dan bukan kali yang pertama terjadi di pelabuhan Batam, ini yang ketiga kalinya. Apa seperti ini negara hukum,” tandas pakar hukum laut dari kantor hukum Chandra Motik Yusuf & Associates dan Patrikh perwakilan agen kapal tersebut.

“Sudah jelas dalam putusan pengadilan, MV Neha tidak bersalah dan boleh kembali berlayar. Bahkan sudah mengantongi SPB, tapi tetap saja ditahan. Kita ini negara maritim, anggota Dewan IMO, kok tindakannya seperti ini, Sangat memalukan! Saya berharap, peristiwa memalukan seperti ini tidak terulang,” tandasnya lagi.

Kejadian penghalangan keberangkatan kapal oleh preman sangat mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia. Terlebih dalam visi presiden Poros Maritim Dunia, tindakan ini sungguh menjadi catatan hitam kesemrawutan hukum maritim di Indonesia.

“Bagaimana mungkin kita bisa dipercaya menjadi negara maritim, kalau kelakuannya seperti ini. Ada sekelompok preman menahan kapal yang bukan kewenangannya kok aparat diam saja,” tegas dia.

Mantan ketua ILUNI UI tersebut juga menjelaskan, kalau alasan penahanan oleh sekelompok preman, bahwa kapal itu adalah sitaan, sudah sangat menyimpang.

“Tidak ada putusan pengadilan yang memerintahkan kapal itu ditahan sebagai sitaan. Status boleh sitaan, tapi tidak bisa ditahan selama tidak ada putusan pengadilan,” imbuhnya.

Terlebih lagi, penahanan dilakukan oleh sekelompok preman yang bukan menjadi kewenangannya. Kalau aparat diam saja, sambung Motik, peristiwa seperti ini bakal kembali terulang.

“Kalau sudah seperti ini, apa kita bisa dipercaya dunia internasional,” punkasnya.

Penahanan kapal secara sepihak ini diduga telah dibekingi orang kuat.  Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo juga menyatakan bahwa tindakan itu telah mencoreng nama Indoensia di dunia internasional. Ia meminta kepada semua pihak agar menjaga nama baik Indonesia.

 

(Adit/MN)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com