Published On: Tue, Feb 7th, 2017

Dr Marsetio: STIP Merupakan Aset Bangsa untuk Poros Maritim Dunia

Ketua Dewan Pengawas Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Laksamana TNI (Purn) Dr Marsetio dalam kuliah umumnya di Kampus STIP, Marunda, Jakarta. (Foto: Beritatrans)

MNOL, Jakarta – Sekolah pelaut ini adalah kumpulan orang hebat dan kita tak akan mengulangi kesalahannya di masa lampau. Mari kita melangkah ke arah lebih baik sesuai aturan dan ketentuan hukum dan UU yang berlaku untuk wujudkan poros maritim dunia. Demikian tandas Ketua Dewan Pengawas Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Laksamana TNI (Purn) Dr Marsetio dalam kuliah umumnya di Kampus STIP, Marunda, Jakarta (6/2/17).

Mantan Kasal tahun 2012 – 2015 itu berjanji akan mendorong STIP menjadi institusi yang mampu menyongsong Sea Power Indonesia, di mana dalam proses perwujudannya memerlukan SDM yang terampil dan berkwalitas.

“Taruna adalah aset dan calon pemimpin masa depan. Mereka harus dididik dan disiapkan menjadi perwira pelaut yang andal dan profesional,” jelas Marsetio di hadapan para Taruna STIP.

Kuliah umum bertajuk “Peran STIP Dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia” itu, Marsetio menekankan kedisiplinan adalah hal yang utama dalam mencetak SDM maritim yang berkwalitas dalam menopang visi tersebut.

Namun pengawasan dan pengasuhan dalam kampus tetap harus dioptimalkan agar penegakan disipilin itu tidak melampaui batas hingga melanggar hukum yang berlaku.“Pelanggaran disiplin apalagi sampai melakukan kekerasan tidak sangat tidak boleh,” imbuhnya.

Pengasuhan yang baik menurutnya berjalan secara dinamis antara hubungan senior junior yang tercipta kondisi saling asah, asih dan asuh untuk pengembangan SDM dalam mencapai cita-cita.

“Jika semua itu bisa direalisasikan dan sambil berjalan terus menigkatkan kwalitas diklat, diyakini STIP Jakarta mampu bangkit lagi,” pungkasnya.

Pasca kejadian meninggalnya Taruna STIP akibat tindak kekerasan oleh senior, kampus yang dahulu bernama Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) ini mendapat sorotan publik. Bahkan tuntutan untuk pembubaran juga mengemuka di berbagai kalangan.

Hal itu yang menjadi tantangan dari pria yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Kemenhub untuk International Maritime Organization (IMO) ini  Meski bagaimanapun, STIP merupakan asset bangsa yang harus dijaga untuk menciptakan SDM maritim yang andal.

Karena sekolah yang dibangun di era Bung Karno (tahun 1957) ini merupakan satu-satunya sekolah pelayaran untuk menopang pembangunan Indonesia sebagai negara maritim yang besar saat itu. Hanya berselang 4 tahun dari berdirinya Institut Angkatan Laut (IAL) di Surabaya yang kini menjadi Akademi Angkatan Laut (AAL).

Selain memperbaiki pola pengasuhan, Marsetio juga menekankan pendalaman ilmu pengetahuan buat para Taruna.

“Kalian merupakan calon pemimpin di kapal saat berlayar. Jadilah pemimpin yang baik dengan ilmu yang luas untuk mengharumkan nama bangsa,” pesannya guna membangkitkan semangat STIP. (An/MN)

 

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha