Published On: Wed, Mar 16th, 2016

Indonesia, Negeri Atlantis dan Poros Maritim Dunia

Oleh: Letkol Laut (P) Salim*

Letkol Laut (P) Salim

Letkol Laut (P) Salim

Bila seseorang mengatakan Atlantis itu tidak ada, misalnya maka orang itu sudah terlebih dahulu memikirkan suatu konsep tentang “Atlantis yang telah ada”

Korelasi antara visi presiden poros maritim dunia dan keberadaan Nusantara sebagai negeri atlantis yang hilang sangatlah kuat. Dari hipotesa yang dikemukakan oleh Prof. Arysio Santos dalam bukunya yang berjudul, “Atlantis: The Lost Continent Finally Found” yang terbit pada tahun 2005, mengemukakan benua hilang itu kemungkinan berada di Indonesia yang menjulang hingga Laut China Selatan. Begitu pula dalam buku NAGA-RA ATLANTIS yang ditulis oleh Dr. Waryani Fajar Riyanto seorang antlantiolog muslim yang di dalam bukunya menyebutkan “Bila seseorang mengatakan Tuhan itu tidak ada, misalnya maka orang itu sudah terlebih dahulu memikirkan suatu konsep tentang Tuhan yang ada. Barulah setelah itu, konsep Tuhan yang dipikirkan orang itu disanggah olehnya sendiri dengan mengatakan Tuhan itu tidak ada. Dengan demikian Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh orang itu sebenarnya “ADA” walaupun hanya dalam imajinasi pikirannya sendiri”.

Kaitan sama negeri Alantis, “Bila seseorang mengatakan Atlantis itu tidak ada, misalnya maka orang itu sudah terlebih dahulu memikirkan suatu konsep tentang “Atlantis yang telah ada”. Barulah setelah itu, konsep atlantis yang dipikirkan orang itu disanggah olehnya sendiri dengan mengatakan “Atlantis itu tidak ada”. Dengan demikian Atlantis sebagai yang dipikirkan oleh orang itu sebenarnya ada, walaupun hanya dalam imajinasi pikirannya (Durna) sendiri.

Daerah itu yang dahulu dikenal dengan nama Nusantara yang kini sebagiannya menjadi Indonesia merupakan pusat peradaban manusia di dunia terlebih dalam sudut pandang penguasaan lautnya. Plato (427-347 SM), seorang filsuf Yunani, mencatat cerita soal benua hilang itu dalam dua karyanya, Timaeus dan Critias. Keduanya adalah karya terakhir Plato, yang ditulis pada 347 SM. Pada tahun yang sama pula Plato meninggal. Dikisahkan di kedua karya itu, Atlantis adalah kota dengan peradaban tinggi dan teknologi sangat maju.

Atlantis, kata Plato, punya kekuatan maritim dahsyat, dan berada di depan “Pilar-pilar Hercules.” Tanahnya subur, rakyatnya makmur. Dia semacam surga di bumi, yang wilayahnya meliputi barat Eropa hingga Afrika. Plato mengatakan, Atlantis  hadir sekitar 9.000 tahun sebelum mazhab Solon, atau 9.600 tahun sebelum zaman Plato hidup.

Kejayaan Atlantis, kata Plato, mulai pudar setelah gagal menguasai Athena, negeri para dewa dan dewi. Petaka menimpa Atlantis sehingga pulau itu hilang ditelan laut dalam hitungan hari. Para penghuni yang selamat pergi mencari tempat baru. Atlantis akhirnya menjadi “surga yang hilang” dan penuh misteri hingga saat ini.

Memang, banyak orang ragu pada cerita Plato yang mirip dongeng itu. Namun, seperti dijelaskan Alan Cameron dalam buku “Greek Mythography in the Roman World” terbitan Oxford (2004), mitologi adalah tiang bagi budaya elit bangsa Yunani. Meski banyak yang meragukan kebenarannya, tapi kisah itu bisa jadi refleksi peristiwa tertentu di masa lalu. Saat ini misteri itu sedikit demi sedikit mulai terungkap.

Di awal peradaban modern, kisah Atlantis itu dihidupkan kembali oleh para penulis aliran humanis di era Renaissance Eropa. Salah satunya Francis Bacon, yang menerbitkan esei berjudul “New Atlantis” pada 1627.

Dalam tulisannya, Bacon melihat Atlantis sebagai suatu masyarakat utopis yang dia sebut Bensalem. Letaknya di pesisir barat benua Amerika. Penulis lain tak mau kalah. Olaus Rudbeck, melalui tulisannya pada 1679, beranggapan Atlantis berada di negara kelahirannya, Swedia. Negara itu disebut Rudbeck sebagai awal lahirnya peradaban, termasuk bahasa.

Ilmuwan kenamaan Inggris, Sir Isaac Newton pun unjuk pendapat. Pada 1728, penemu teori gravitasi itu menerbitkan karya berjudul “The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended.”  Newton juga penasaran mempelajari penjelasan mitologis terkait Atlantis.

Meski tak menyinggung khusus Atlantis, Newton memaparkan peristiwa bersejarah di sejumlah tempat, yang punya masa gemilang mirip Atlantis versi Plato. Misalnya,  kejayaan Abad Yunani Kuno, Kekaisaran Mesir, Asuriah, Babilonia, Kuil Salomon, dan Kerajaan Persia.

Salah satu teori yang paling kontroversial mengenai Atlantis ialah yang ditulis oleh Prof. Arysio Santos. Dia menyebutkan kalau Indonesia merupakan lokasi sebenarnya di mana benua dalam legenda itu berada. Wilayah semenanjung Melayu, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga ke Papua-Australia dulunya merupakan satu benua besar yang disebut Sundaland.

Secara logika, ketika dunia masih masa zaman es, pastilah hanya wilayah yang berada tepat di atas garis tropis atau khatulistiwa yang dianggap paling nyaman, karena matahari menyinarinya lebih hangat ketimbang daerah lainnya.

Ilustrasi Negeri Atlantis

Ilustrasi Negeri Atlantis

Sehingga hanya di wilayah itu yang kemudian dapat menopang sistem pertanian dan kehidupan manusia pada masa itu. Pada akhir zaman es, terjadilah banjir besar akibat mencairnya es dan menenggelamkan sebagian dataran Sundaland yang akhirnya membuat sebagian benua tersebut ada di bawah air.

Akibatnya, di masa lalu hanya ada satu daratan besar, kini akhirnya hanya menyisakan daratan-daratan terpisah atau disebut sebagai pulau-pulau, seperti yang kita kenal sekarang. Pulau-pulau itu terbentuk dari daratan-daratan yang tinggi pada masa zaman es di daerah Sundaland, atau kini disebut daerah Indonesia.

Setelah bumi menjadi lebih hangat, maka para leluhur manusia yang ada di atas garis tropis di Indonesia itu mulai berani untuk bermigrasi ke arah atas dan bawah dari wilayah khatulistiwa dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Banjir bandang inilah yang diyakini telah melahirkan legenda tentang Atlantis yang disebarkan oleh para imigran, termasuk Plato, di “benua baru” atau di “tanah baru”, yaitu wilayah atau benua-benua di luar Indonesia.

Teori Negeri Saba

Jauh sebelum  Profesor Arysio Santos, yang meneliti selama 30 tahun baru dapat menyimpulkan Benua Atlantis adalah Indonesia, seperti yang dia ungkap dalam bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally Found’, dalam Kitab Suci Al Qur’an sudah disebutkan keberadaan Negeri Saba. Yaitu negeri yang subur dan berperadaban maju yang pernah disinggahi oleh Nabi Sulaiman AS.

Fakta-fakta itu pernah diungkapkan oleh KH. Fahmi Basya seorang perintis penemuan Borobudur sebagai peninggalan Nabi Sulaiman AS yang tertulis dalam Al Qur’an di Surat Saba. Secara letaknya, posisi 3 buah candi terletak segaris lurus yaitu pada Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut menurut Basya merupakan isyarat karena yang membuat Candi Borobudur bukan dari golongan manusia saja, tetapi juga dari bangsa jin. Maka segaris lurusnya tiga candi yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut bukanlah hal yang kebetulan karena jin bisa melihatnya dari atas.

Lalu Untuk apa mereka membuat ketiga candi tersebut segaris lurus? Ya, itu untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Candi Borobudur adalah Matahari, Candi Pawon adalah Bulan dan Candi Mendut adalah Gambar Bumi. Kenapa Mendut mewakili bumi? Karena di sana ada sebuah patung manusia, sebagai wakil penduduk bumi. Mengapa Candi Borobudur mewakili Gambar Matahari? Karena dulunya Ratu Saba yang bernama Ratu Balqis itu Penyembah Matahari. Jadi Arsy’ itu ada nuansa mataharinya.

Diceritakan pula di dalam Al Qur’an, istana Ratu Balqis berbentuk piring-piring dan patung-patung yang ditemukan di kompleks Candi Ratu Boko. Sementara itu, di Candi Borobudur juga berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir sebagai Patung Nabi Sulaiman AS dan tempat dipindahkannya Arsy Ratu Balqis dengan kecepatan sebelum kedipan mata sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Balik lagi dalam korelasinya dengan Negeri Atlantis, maka gambaran Negeri Saba yang diurai oleh KH Fahmi Basya sangat terkait. Bahkan Hadist Rasulullah Saw yang menyebutkan “Uthlubul al ilma walau bi ash-shin” atau ”tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China” merupakan penafsiran yang keliru. Karena kata “as-shin” yang dimaksud dalam hadist tersebut bukanlah negeri China melainkan Nusantara yang kini bernama Indonesia. Karena pada mulanya daratan China masih bersatu dengan Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Atau dengan kata lain hadist tersebut diatas adalah petunjuk tersirat tentang pencarian Sundaland Atlantis yang merupakan pusat dari segala jenis ilmu pengetahuan.

Kata kuncinya, negeri yang dimaksud Rasulullah Saw itu memiliki kriteria gemah ripah loh jinawi di mana iklim tropis dan bersahabat dilindungi oleh langit biru yang ceria serta dihiasi oleh banyak mahkluk indah berwarna-warni beterbangan, dilengkapi oleh dataran  hijau yang subur kaya hayati maupun nabati disertai dengan terbentang luasnya lautan nan biru penuh isi. Itulah negeri yang merupakan kepingan surga yang jatuh serta mendapat berkah dari langit maupun bumi.

Sangat tidak tepat bila negeri yang dimaksud itu ialah Negeri China yang notabene hanya satu daratan saja. Hadits ini disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa kenabiannya (610-633) masehi. Di mana kondisi di muka bumi pada saat itu sedang dikonsumsi oleh demoralisasi secara masif yang bersifat jahilliyah (kebodohan-red) yang dapat berakhir kepada kemunduran bahkan kehancuran peradaban kemanusiaan itu sendiri.

Kendati hadist itu banyak dipertanyakan oleh sebagian ulama mengenai kebasahannya, namun penulis berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw sudah memonitor negeri di timur yang gemah ripah loh jinawi itu sebagai pusat peradaban dan berkembangnya ajaran yang disampaikannya, pemimpin akhir zaman. Ya, satu-satunya negeri di dunia yang bangsanya merdeka kemudian mendirikan negara di atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan (ukhuwah), Musyawarah dan keadilan sosial hanya ditemui di Indonesia.

Temuan Situs Gunung Padang

Setelah diurai dengan berbagai teori dan penelitian baik oleh ilmuwan asing maupun dalam negeri, hipotesa Indonesia sebagai Negeri Atlantis kembali diperkuat dengan adanya temuan Situs Gunung Padang. Situs Megalitikum Gunung Padang yang ditemukan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat merupakan situs piramida jenis pundan berundak peninggalan leluhur tertua di dunia. Dari hasil penanggalan karbon atau carbon dating, situs ini dibuat sekitar 9.000 hingga 20.000 tahun lalu, mengalahkan piramida Mesir yang dibuat hampir 5.000 tahun lalu.

Hal ini diungkapkan oleh ahli Geologi Dr. Danny Hilman. Menurutnya, situs yang ditemukan sekitar 1914 ini merupakan salah satu situs peninggalan sejarah terbesar di Indonesia dan situs megalithikum terbesar di Asia Tenggara.

Situs ini terpencil, terletak di antara gunung berapi, pohon pisang dan perkebunan teh serta berada 885 meter di atas permukaan laut. Situs ini berada sekitar 120 kilometer di selatan Ibu Kota Jakarta.

Situs yang terdiri dari puing-puing vulkanik yang dimulai dari lereng gunung ini dianggap sakral oleh masyarakat lokal Sunda. Hilman sendiri juga mengatakan bahwa situs itu sepertinya memang dibangun untuk ibadah.

“Jika memang itu untuk melakukan ritual ibadah, orang-orang pra sejarah pasti harus mendaki sambil menumpuk batu-batu itu untuk dibuat piramida. Cara menumpuk memang cukup kuno dalam pembangunan,” katanya, seperti dilansir dari surat kabar Daily Mail.

Hilman yang merupakan ahli geologi dari Pusat Geoteknik Indonesia mengatakan, sebagian orang masih berpikir bahwa orang-orang prasejarah itu primitif, namun dari monumen yang mereka tinggalkan rupanya hal tersebut tidak benar.

Dia percaya, piramida seperti yang ada di Gunung Padang itu akan jadi bukti peradaban kuno yang maju di Nusantara dan sejalan dengan teori Atlantis yang dikemukakan oleh Prof. Arysio Santos.

Becermin pada Sejarah

Jika hipotesa tentang santos memang benar dan diteruskan oleh tim Atlantis Nusantara dalam bukunya Waryani Fajar Riyanto, serta peneliti KH Fahmi Basya tentang Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman AS. Penulis juga mengikuti ekspedisinya yang ke 19 dan 45 serta banyak belajar dari beliau Basya mengenai semua yang berada di tanah air kita.

Tentunya, tugas kita saat ini adalah sangat penting agar Indonesia bangkit kembali menjadi bangsa maritim yang besar. Kita harus bangkit dan perlu kesadaran, bagaimana agar kita kembali menjadi bangsa bahari yang besar yang tinggal di kodratnya sebagai negeri bahari yang pernah jaya. Dengan prinsip itu kita bangkitkan ilmu penghetahuan dan teknologi untuk mengubah jalannya sejarah Lemuria yang selama ini sudah salah arah.

Kejayaan masa lalu akan peradaban yang tinggi tidak hanya untuk dikenang, atau hanya untuk dibangga-banggakan tetapi merupakan suatu “energi penggerak”sebagai tugas kita memikul tanggung jawab demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban yang pernah ditakdirkan di lintasan Sabuk Zamrud Nusantara. Tidak untuk bangsa ini saja akan tetapi untuk kelanjutan seluruh species yang hidup diseluruh alam semesta.

Dengan mempelajari sejarah kita akan menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia, maka jangan pernah menganggap remeh sejarah. Menurut Ibnu Khaldun, sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi.

Dalam hakekat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran, keterangan mendalam tentang sebab dan asal muasal benda, serta pengetahuan tentang substansi, esensi, serta musabab terjadinya suatu peristiwa. Dengan demikian, sejarah benar-benar terhujam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai salah satu cabang filsafat yang akhirnya menjadi filosofi kehidupan dari suatu bangsa.

Poros Maritim Dunia

Dari uraian mengenai keterkaitan Indonesia dengan Negeri Atlantis membuka tabir bahwa visi poros maritim dunia yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo saat dilantik menjadi presiden menjadi suatu keniscayaan. Secara arti kata, ‘poros’ yang berarti sumbu atau titik tumpu dianalogikan sebagai ‘center of gravity’ atau pusat kekuatan serta peradaban dunia.

Bung Karno sudah canangkan Indonesia menjadi pusat peradaban dunia

Bung Karno sudah canangkan Indonesia menjadi pusat peradaban dunia

Terlebih dalam penguasaan samudera untuk kepentingan umat manusia pada umumnya dan kepentingan nasional pada khususnya, poros maritim memberi arti dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia yang dahulunya bangsa Nusantara sebagai penghuni Negeri Atlantis.

Babak baru sejarah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang telah disimbolkan dalam bangunan Candi Borobudur mengisyaratkan bangsa ini akan menjadi bangsa maritim yang besar dan menerangi peradaban dunia.

Konsep Mercusuar Dunia yang dicetuskan oleh Bung Karno dan Laboratorium Dunia yang digagas oleh Tan Malaka menjadi kesinambungan tatkala poros maritim dunia didengungkan pada era abad 21 ini. Indonesia dengan falsafah Pancasilanya akan menjadi poros maritim yang notabene poros peradaban dunia dengan tata kehidupan masyarakat yang berke-Tuhan-an (beriman dan bertaqwa), bergotong royong dan bermusyawarah mufakat untuk kesejahteraan umat manusia.

 

*Penulis adalah Perwira Menengah TNI AL yang berdinas di Staf Asisten Operasi Panglima TNI

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com