Published On: Sun, Jun 11th, 2017

Islam, Nusantara dan Peradaban Bahari

Ilustrasi

Oleh: Letkol Laut (P) Salim*

Sejarah Indonesia berada pada kebudayaan bahari, sehingga apa yang menjadi potensi dalam bidang maritim dapat dimanfaatkan dan digunakan bagi kemakmuran bangsa, tujuan utamanya adalah membangun kembali peradaban bahari sesuai kodrat penciptaannya”

Ketika penulis menemukan sebuah arti yang besar sebagai energi penggerak bangsa, bahkan arti kelahiran sebuah negeri yang telah Tuhan ciptakan, berselimutkan awan tebal yang kini telah ditutupi oleh tangan-tangan jahiliyah yang ingin membenamkannya. Tetapi yakin Allah Maha Kuasa akan mengungkap kembali, karena inilah bagian dari proses pencipataan dunia dan sejarahnya.

Nusantara sejak kita masuk Sekolah Dasar hingga saat ini diartikan oleh bangsa Belanda yang berarti Nusa dan antara, diantara pulau-pulau dan sejenisnya itu. Atau sering dihubung-hubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit untuk mencari kebenarannya. Tetapi tahukah bila artinya NUSANTARA berasal dari kata NUH = NABI NUH dan SANTARA = TOWANG/LOWONG/KOSONG ( menurut kamus Padmosusastra, 1903, #11) jadi arti Nusantara adalah dari kata NUHSANTARA yang artinya: Tanah Nuh yang kosong/bekas banjir..”)

Selain arti tersebut bermunculan kembali bukti-bukti fisik dan peradaban Nusantara. Awal terbentuknya negeri beserta para penghuninya merupakan ikatan geografis untuk menatap masa depan, di mana 600 abad lamanya telah dibenamkan oleh kepentingan manusia-manusia yang berwatak Iblis.

Corak Islam di Negeri Bahari

Bukti tersebut berserakan dan menunjukkan kebesaran peradaban umat Islam di Nusantara. Sejarah peradaban Islam di Nusantara yang sejak awal telah dipusatkan di pelabuhan. Sehingga Islam bahari atau Indonesia bersifat kosmopolit atau mendunia.

Karena pelabuhan, Islam bahari pun menjadi agama yang terbuka, inklusif, cair, dan akomodatif. Karakter Islam di tanah air inilah yang tidak akan ditemui di negara manapun di luar negeri.

Ilustrasi: Pelabuhan di Nusantara

Contohnya  saat penulis menyelami Islam di Timur Tengah  dan Afrika hidup di padang pasir yang menyebabkan watak budaya cenderung keras, didominasi lelaki, dan tidak ada ruang untuk toleransi dan kerap menjadi pusat konflik. Sebaliknya, watak Islam tanah air adalah ekstrovet, egaliter dan penuh keterbukaan. Perkumpulan atau Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam hingga kini pun tetap memegang jalan tengah dalam bentuk toleransi dan kemoderatan pada bingkai Negara Pancasila.

Menghidupkan kembali Islam bahari yang inklusif dan kosmopolit akan menempatkan agama dalam tempat yang proporsional sebagaimana mestinya. Modernitas menjadi sebuah dimensi baru yang tak terelakkan karena terikat dengan perkembangan teknologi, yang memang mau tak mau dibutuhkan. Modernitas ini juga yang telah mengacaukan kehidupan antara sesama umat manusia di negeri ini, yang sebetulnya dari zaman dulu tak pernah ada pergolakan dan selalu hidup tenang dan damai dalam keberagaman.

Memelihara Keseimbangan Alam

Orang Islam sudah menguasai laut sebelum bangsa Barat berhasil membangun armadanya. Di Nusantara, pengaruh tersebut sangat nyata pada beberapa kerajaan. Peranan peradaban yang dimainkan Islam adalah bentukan Nabi Muhammad SAW. Beliau pun tahu akan peta politik dunia dalam usahanya menyebarkan Islam.

Ketika berdakwah kepada para pembesar Quraisy, Rasulullah bersabda; Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya” (HR Muslim).

Hal ini menunjuk-kan bahwa Rasulullah menguasai peta politik dunia pada waktu itu dan yang akan datang. Beliau juga menyadari bahwa Jazirah Arab berada dalam posisi yang diperebutkan oleh dua kekuatan besar pada waktu itu, yakni Romawi dan Persia.

Lalu Rasulullah menawarkan konsep kepada pembesar Quraisy untuk mengatasi kondisi yang mengancam eksistensi bangsanya. Tetapi tanggapan pembesar Quraisy itu lain, bahwa agama yang disebarkan Nabi Muhammad adalah agama politik yang hanya mengejar kekuasaan semata.

Rasulullah tahu persis dalam menyebarkan agama harus memahami situasi politik yang melingkupinya. Situasi politik yang berbeda itu memerlukan pendekatan, strategi dan teknik dakwah yang berbeda.

Dakwah harus dilakukan serentak pada berbagai level baik global, regional, nasional, lokal, keluarga maupun level individu. Tujuannya hanya satu yakni agar manusia mengalami kedamaian baik lahir maupun bathinnya serta menjadikan bumi tetap berada dalam titik keseimbangannya.

Kemajuan Peradaban Islam

Selanjutnya, Rasululah sadar betul akan pentingnya kemampuan menguasai laut. Seperti yang disebutkan dalam salah satu sunahnya berdasarkan Hadist Riwayat Bukhari adalah belajar berenang, di samping belajar memanah, belajar naik kuda, dll. Tanpa memiliki armada laut yang memadai maka negaranya akan dikepung dari segala penjuru dan berakibat terisolasi dari peradaban dunia yang lain.

Padahal syarat bagi kemajuan peradaban adalah kontak dengan peradaban lain, tetapi jangan sampai kita kehilangan arah dalam arus kontak peradaban dunia. Tujuan kontak peradaban adalah melengkapi peradaban kita sendiri dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan yang dikembangkan umat manusia di seluruh dunia.

Bukankah peradaban Islam dibentuk dan dikembangkan dari peradaban-peradaban besar yang sudah ada dengan tujuan menyempurnakan peradaban-peradaban itu dengan suntikan dari ruh Islam. Dengan demikian, kita harus selalu menyadari adanya kontinyuitas dan diskontinyuitas dalam suatu peradaban.

Peradaban Islam harus dipupuk dengan berbagai penelitian ilmiah dan sekaligus kesediaan belajar dan mencari informasi dari belahan dunia lain. Dan peranan laut sangat besar untuk keperluan itu, karena perjalanan darat sangat masih sangat sulit dan tentunya membutuhkan dana banyak untuk membangun sarana transportasi darat.

Setelah umat Islam berhasil mengembangkan armada laut atau sea power dalam konteks kekinian dan andal maka mereka mempunyai pengaruh yang kuat pada kerajaan-kerajaan di dunia.

Mereka menjadi pelopor dalam kemajuan di berbagai kawasan sehingga mereka memiliki pengaruh yang kuat baik di kalangan elit lokal maupun regional. Bahkan Islam mampu menjadi kekuatan utama bila elit lokal mengalami krisis yang akut seperti yang terjadi dengan Kerajaan Majapahit.

Ilustrasi

Tetapi Islam tidak memiliki ambisi untuk meng-islam-kan semua orang di dunia secara tidak rasional. Yang dipentingkan bagi umat Islam adalah ditegakkannya nilai-nilai Islam.

Ini sesuai dengan misi diutusnya Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Jadi Islam memandang akhlak mulia itu sudah ada pada suatu peradaban dan ia datang untuk menyempurnakan dan itu dilakukan secara elok dengan pendekatan yang evolusioner.

Saatnya umat Islam di Nusantara bangkit kembali bersatu menghindari perpecahan, menjadikan Islam yang rahmatan lil alamin membangun peradaban bahari demi kemakmuran dan kejayaan bangsanya. Selain itu turut menjaga perdamaian dunia dan terus menyerukan kebajikan yang berlandaskan pada nilai-nilai Tauhid.

 

*Penulis adalah lulusan AAL tahun 1995, kini menjabat sebagai Kasubdis Strategi Taktik Operasi, Mabes AL

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>