Published On: Wed, Nov 1st, 2017

Kapal Pelat Datar FTUI, Solusi Pelra yang Masih Sulit Masuk Pelra

Model kapal plat datar hasil inovasi civitas FTUI yang sudah diproduksi oleh PT. Juragan Kapal dalam pameran 53 Tahun FTUI Untuk Negeri.

Model kapal pelat datar hasil inovasi civitas FTUI yang sudah diproduksi oleh PT. Juragan Kapal dalam pameran 53 Tahun FTUI Untuk Negeri.

MN, Jakarta – Kondisi pelayaran rakyat (pelra) yang merupakan salah satu identitas khas masyarakat Indonesia, masih belum banyak tersentuh oleh perkembangan oleh kemajuan berbagai bidang yang terkait dengannya, baik itu dari sisi teknologi, infrastruktur, ataupun regulasi yang menaunginya.

Ini merupakan sebuah ironi dari sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, serta saat ini memiliki visi ingin menjadi poros maritim dunia.

Utusan Khusus Kementerian Perhubungan untuk International Maritime Organization (IMO), Dr Marsetio dalam salah satu Forum Group Discussion pernah berujar bahwa pelayaran rakyat menjadi salah satu kekuatan dalam Sea Power Indonesia.

Sea power Indonesia tidak hanya dilihat dari kekuatan militernya atau naval power, tetapi juga dilihat dari kekuatan kapal-kapal pelayaran niaga dan kapal-kapal pelayaran rakyat,” ungkap mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut tersebut beberapa waktu yang lalu.

Dr. Marsetio yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis PT. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) juga terus mendorong permasalahan tentang kelayakan berlayar untuk kapal-kapal perla tersebut. Salah satu hal yang terus ia didorong adalah terkait masalah keselamatan kapal-kapal pelra yang masih sangat rendah.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI), dari 439 kecelakaan kapal di Indonesia, lebih kurang setengahnya melibatkan kapal pelra.

Ketua Bidang Hubungan Internasional APMI, Dwitya Harist Waskito juga pernah menjabarkan beberapa permasalahan terkait pelra lainnya, yang diantaranya adalah terkait konstruksi, prosduksi, dan efisiensi kapal-kapal pelra tersebut.

“Masih banyak kapal-kapal Pelra kita yang masih berbahan dasar kayu. Sehingga kita kekurangan bahan dasar itu untuk membuat kapal Pelra karena kayu sudah semakin langka,” ujarnya beberapa waktu yang lalu.

Salah satu solusi yang diterangkannya adalah dengan memadukan antara kayu yang merupakan ciri khas kapal-kapal pelra dengan pelat baja sebagai solusi untuk memperbaiki konstruksinya.

“Lambung utama kapal bisa menggunakan baja, namun bagian deck ke atas tetap menggunakan kayu. Ini untuk menjaga tradisi kapal pelayaran rakyat yang sarat dengan tradisi dan budaya suatu daerah,” terangnya.

Terkait beberapa permasalahan tersebut di atas, Fakultas Teknik Universitas Indonesia telah berhasil melakukan inovasi dengan membuat kapal pelat datar. Kapal ini dirancang sebagai salah satu solusi bagi beberapa masalah yang mendera pelra selama ini, yaitu pada aspek konstruksi kapal, keselamatan, serta efisiensi yang selama ini menjadi masalah kapal-kapal pelra tanpa menghilangkan sisi tradisional kapal-kapal rakyat tersebut yaitu penggunaan bahan dasar kayu yang masih digunakan untuk beberapa bagian kapal.

Namun, Kapal merupakan inovasi anak bangsa ini masih menemui kendala dalam sosialisasi keberadaannya. Selain terkendala masalah kepercayaan dari masyarakat yang masih kurang memercayai produksi dalam negeri, permasalahan fasilitas untuk mendapatkan kapal tersebut bagi yang nelayan yang menginginkannya juga belum tersedia.

Hal ini diungkapkan oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Dedi Priadi. Dalam wawancara khusus di sela acara ’52 Tahun FTUI Untuk Negeri’, Prof. Dedi menjelaskan bahwa dibutuhkan sinergi diantara semua pihak agar kapal pelat datar ini bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat yang pada dasarnya membutuhkan solusi seperti ini.

Menurut Prof. Dedi, beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi FTUI terkait sosialiasasi keberadaan kapal pelat datar ini antara lain:

  1. kurangnya kepercayaan dari masyarakat kita akan kemampuan serta kehebatan produksi kita dalam negeri;
  2. sosialisasi kapal pelat datar ini belum menyentuh masyarakat nalayan dan masyarakat pelayaran rakyat secara langsung;
  3. adanya ketakutan dari masyarakat nelayan dan pelra kita sendiri akan sulitnya kapal pelat datar ini saat digunakan nantinya;
  4. belum tersedianya fasilitas yang memadai bagi masyarakat nelayan atau pelra yang tertarik namun memiliki pendanaan yang terbatas.

Merujuk pada poin pertama hingga ke tiga, ini merupakan tugas yang cukup berat bagi FTUI beserta para stakeholder yang terkait kapal pelat datar ini. Bahwasanya merubah pola pikir masyarakat kita yang cenderung meremehkan produk karya anak bangsanya sendiri  bukanlah merupakan sebuah hal yang baru. Hampir setiap produsen dalam negeri kita yang hasil produksinya beririsan ataupun berbenturan dengan hasil produksi dari negara lain mengalami hal serupa.

Namun hal ini bukannya tidak bisa ditanggulangi, apabila kita berhasil mengatasi permasalahan pada poin ke dua dan ke tiga, maka permasalahan terkait kepercayaan masyarakat nelayan akan produk hasil karya anak bangsanya dengan sendirinya akan mudah tumbuh.

“Kita banyak didukung oleh Kemenristekdikti dalam pengembangan kapal pelat datar ini, namun kembali lagi kepada nelayan itu sendiri, sudahkah tercerdaskan tentang kapal pelat datar ini,” ujar Prof Dedi.

Kita bisa mencontoh beberapa produk dalam negeri pada sektor lain yang sukses memimpin pasar meski digempur oleh banyak produk luar negeri. Produk-produk seperti Zahir, Sari Ayu Martha Tilaar, Mustika Ratu, hingga Wardah adalah contoh produk dalam negeri yang sukses merajai industrinya meski dikepung oleh berbagai produksi asing.

Hal ini tentu saja tidak terlepas dari keberhasilan produk-produk tersebut meningkatkan kualitas dan yang paling penting adalah memiliki kekhasan yang cocok untuk orang Indonesia pada umumnya. Zahir sebagai startup company yang menelurkan Zahir Accounting berhasil menyingkirkan rival-rivalnya yang berasal dari luar, seperti Myob yang pada dasarnya sudah besar saat Zahir mulai merambah industri ini. Namun dengan menampilkan kekhasan yang kuat serta pemberian fitur-fitur yang terkesan mudah diaplikasikan oleh orang Indonesia, Zahir berhasil menjadi yang terdepan diantara serbuan perangkat lunak sejenis lainnya.

Bila Zahir menjual kemudahan yang diseusaikan dengan kebiasaan dan karakter masyarakat Indonesia, maka produsen produk kecantikan seperti Wardah, Sari Ayu, dan Mustika Ratu juga mengangkat hal yang hampir serupa, yaitu kesesuaian produk mereka dengan karakter bangsa Indonesia. Ciri khas masyarakat Indonesia lah yang mereka tonjolkan.

Ini sudah dilakukan oleh kapal pelat datar, di mana kapal ini tetap masih menggunakan kayu di beberapa bagian kapalnya, yang memang menjadi ciri khas kapal pelra, yaitu menggunakan kayu. Tinggal bagaimana masyarakat nelayan dan pelayaran rakyat kita bisa menerima dan percaya bahwa kapal produksi bangsa kita ini merupakan solusi terbaik untuk mereka.

Di sisi lain, apabila kepercayaan masyarakat sudah sudah timbul tantangan selanjutnya adalah bagaimana mereka bisa memperoleh kapal ini, terutama bagi mereka yang memiliki kendala di pembiayaannya. Karena hingga saat ini, belum ada instrumen yang bisa menaungi para nellayan untuk memilikinya.

Di sini peran pemerintah dibutuhkan untuk memberikan kemudahan dan berbagai fasilitas lainnya bagi para masyarakat nelayan dan pelayaran rakyat tersebut, agar bisa memperoleh kapal hasill inovasi anak bangsa ini.

“Pada dasarnya, bila nelayan tersebut sudah mengetahui, mereka mau saja menggunakan kapal pelat datar ini, namun kembali kepada kesiapan para nelayan itu sendiri, bagaimana peran pemerintah dalam menfasilitasi keinginan para nelayan tersebut, misalnya dengan memberikan kredit lunak atau fasilitas-fasilitas pendukung lainnya,” tegasnya.

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha