Published On: Thu, Oct 12th, 2017

Ketua STIP: Membangun Pelayaran, membangun Bangsa!

Capt. Sahattua Simatupang (tengah) bersama para pembicara FGD INSA di Jiexpo Kemayoran (11/10)

MN, Jakarta – Dalam acara Indonesia Transport, Logistics and Maritime Week (ITLMW) yang berlangsung di Jiexpo Kemayoran, 10-12 Oktober 2017, berbagai rangkaian digelar untuk mewujudkan kemajuan industri pelayaran dan kemaritiman Indonesia. Salah satu Focus Grup Discusion (FGD) ialah diselenggarakan oleh Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), membahas soal permasalahan dalam dunia kepelautan dan pelayaran nasional.

FGD yang dimoderatori oleh Capt. Zaenal Hasibuan itu menghadirkan narasumber antara lain Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Capt. Sahattua. P Simatupang, Nova Mugiyanto dari INSA, Agus Widjaja dari PT Biro Klasifikasi Indonesia, serta Ahmad Jauhari dan Hutakemri Ali Samad dari INSA.

Dalam pemaparannya, Ketua STIP Capt. Sahatua menjelaskan dalam mencetak SDM maritim atau pelaut yang tangguh dan terampil diperlukan suatu manajemen yang baik. Bermula dari kondisi saat ini hingga penerapan tata laksana yang baik dengan mengacu dari hukum internasional soal kepelautan.

“Penerapan sistem metodologi tata laksana dan tata kelola harus membentuk karakter industri. Di sini peraturan seperti ISM Code, ISPS Code, ISO 9001 harus kita tanamkan sejak masih di Pendidikan pelaut,” ungkap Sahat biasa akrab disapa.

Sebagai Ketua STIP, Sahat menjelaskan bahwa saat ini STIP terus berbenah diri untuk menjadi yang terbaik di level Asia Tenggara bahkan Asia. Beberap hal telah dipenuhi mulai dari sarana dan prasarana hingga peningkatan mutu pendidikan.

“Kita menambahkan dari sistem manajemen mutu hingga keselamatan dan perlindungan lingkungan untuk mencapai hasil yang terbaik, yaitu pola pendidikan tinggi pelayaran berkarakter industri,” tandasnya.

“Kita selalu perlu inovasi, perubahan zaman adalah suatu yang tak bisa dihindari. Oleh karena itu produk pendidikan berupa lulusan yang berkarakter industri perlu kita kedepankan. Inilah pola pikir kita,” tegas Sahat.

Menanggapi soal kwalitas pelaut kita yang masih dibawah pelaut negara tetatangga, Sahat menepis anggapan tersebut. Ia yakin pendidikan pelaut di Indonesia saat ini masih unggul dibanding negara-negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia.

Ia menepis bahwa tak perlu pelaut kita belajar dari pelaut Filipina. Ia pun menjamin bahwa lulusan sekolah pelaut kita berani menghadapi tantangan dan persaingan global saat ini.

“Saya sudah mengunjungi sekolah pelaut di sana baik yang di bawah pemerintah maupun swasta, kwalitasnya masih jauh di bawah sekolah pelaut kita,” imbuh dia.

Menghadapi dinamika dalam dunia pelayaran yang cukup tinggi, Sahat mengajak seluruh stakeholder untuk bersama-sama membangun SDM pelaut kita serta kwalitas industri yang baik.

“Kita mengenal istilah when we build shipping, we build a nation. Ketika kita membangun pelayaran, kita telah membangun bangsa,” pungkasnya.

Permasalahan

Sementara itu, Hutakemri Ali Samad menambahkan bahwa kebutuhan suplai pelaut dunia untuk periode 2005-2015, mencapai 1.647.500 pelaut. Indonesia masih masuk deretan 5 besar negara penyuplai pelaut.

“Tetapi survey Perusahaan BIMCO 2015, Indonesia bukan lagi di 5 besar, ini ada apa? Berati ada penurunan di kwalitas pelaut kita,” ungkap Ali.

Ketua bidang Tugs and Barges di INSA ini menyebutkan, pelaut Indonesia kerap menemui beberapa permasalahan seperti kemampuan Bahasa Inggris dan IT yang lemah.

Belum lagi permasalahan dunia Pendidikan pelayaran Indonesia bnayak melibatkan pemangku kepentingan dan sulit mencapai standar STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers-red).

‘Sekolah pelayaran kita harus mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan Aproval Kemenhub. Walaupun mendapat akreditasi dari BAN tetapi belum tentu mendapat Aproval dari Kemenhub,” terangnya.

Menurut data, dari 178 SMK Pelayaran hanya 5 yang di-approved. Dari 32 pendidikan tinggi pelayaran hanya 7 yang di-aprroved

“Tanpa approval, sekolah pelayaran menyelenggarakan pendidikan seperti sekolah pada umumnya. Akibatnya, para lulusan tidak dapat mengikuti ujian kompetensi,” tutup Ali.

 

(Adit/MN)

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha