Published On: Thu, Jan 18th, 2018

KKP Dorong Diversifikasi Usaha Perikanan sebagai Reorientasi Industri Surimi

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja beserta jajarannya pada Selasa (16/01), melakukan pertemuan dengan pengusaha dari 14 perusahaan surimi guna membicarakan reorientasi pengembangan industri perikanan tangkap.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja beserta jajarannya pada Selasa (16/01), melakukan pertemuan dengan pengusaha dari 14 perusahaan surimi guna membicarakan reorientasi pengembangan industri perikanan tangkap.

MN, Jakarta – Dalam rangka mendorong geliat usaha dan menjaga keberlanjutan bisnis di sektor perikanan Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) tengah mengupayakan diversifikasi bisnis perikanan. Hal ini dilakukan sebagai solusi atas melemahnya industri surimi akibat menipisnya bahan baku yang tersedia.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja beserta jajarannya pada Selasa (16/01), melakukan pertemuan dengan pengusaha dari 14 perusahaan surimi guna membicarakan reorientasi pengembangan industri perikanan tangkap. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budi Wibowo.

Sjarief menjelaskan, karakter perikanan Indonesia sangatlah unik. Laut Indonesia seluas 5,8 juta km persegi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian Papua yang secara geografis melekat pada Benua Australia; bagian barat Indonesia hingga Kalimantan yang secara geografis melekat dengan benua Asia; dan bagian Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masuk pada samudera lepas.

Ketiga bagian tersebut juga memiliki spesies ikan yang berbeda-beda. Di bagian barat misalnya, ditemukan jenis ikan kerapu, kakap merah, lobster, udang, dan sedikit ikan kembung, ikan layang, dan tongkol. Sedangkan di perairan bagian Papua terdapat spesies seperti cumi, kakap merah, ikan gulama, udang, dan beberapa spesies lainnya. Adapun di bagian samudera lepas hidup migratory fish, seperti tuna, tongkol, dan cakalang.

Meskipun laut Indonesia kaya akan berbagai spesies ikan, menurut Sjarief jumlah masing-masing spesies tidaklah banyak, sehingga industri yang hanya mengandalkan satu spesies ikan saja tidak akan bisa bertahan lama. Terlebih jika industri tersebut bersifat massif. Begitu pula dengan industri surimi yang berbasis pada ikan kurisi saja atau ikan kuniran atau ikan mata goyang atau ikan-ikan tertentu lainnya. Kecepatan produksi pada industri ini jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan regenerasi ikan yang digunakan sebagai bahan baku, sehingga dalam waktu dekat industri akan kesulitan menemukan bahan baku.

“Negara kita berbeda dengan Argentina, Chili, Alaska, atau Kanada, di mana mereka memiliki jenis ikan misalnya Anchovy atau Alaska Pollock yang jumlahnya jutaan ton atau massif. Tapi negara kita tidak seperti itu, kita memiliki banyak jenis ikan tetapi volumenya sedikit. Oleh karena itu, kami mengusulkan kepada pelaku usaha Surimi agar membuat industri perikanan yang berbasis pada spesies lokal,” papar Sjarief.

Menurutnya, industri surimi tidak dapat hidup sendiri, melainkan harus dikombinasikan dengan jenis usaha perikanan lainnya seperti frozen seafood, fillet, loin (tuna) ataupun ikan segar. “Kita bisa kombinasikan dengan fresh frozen kakap merah, fillet kakap merah atau gulama, atau misalnya loin tuna, atau bahkan jual ikan segar langsung. Kita harus bisa multiproduk, multispesies dengan added value (nilai tambah) yang tinggi. Kalau hanya mengandalkan surimi, maka populasi ikan itu sendiri akan lebih cepat menipis,” Sjarief menjelaskan.

Menurut Sjarief, jika diversifikasi usaha perikanan tangkap tidak segera dilakukan, industri surimi tak akan bertahan lama. Nelayan tidak dapat menyediakan bahan baku yang dibutuhkan industri, dan dengan semakin tidak dapat tangkapan, semakin intensif dan efisien jaring yang mereka gunakan. Ujung-ujungnya akan semakin merusak lingkungan.

“Satu pabrik surimi butuh 1.500 ton ikan sebulan, kalau ada 10 perusahaan saja, sudah berapa ikan yang dibutuhkan. Kalau kita memaksakan pemenuhan kebutuhan itu, ikan pasti akan habis. Jadi kita akan mendorong surimi untuk menurunkan kapasitasnya dan beralih ke unit usaha baru. Untuk itu, pemerintah menawarkan kerja sama untuk mulai membuka unit baru, tidak di Jawa, tetapi di sentra-sentra perikanan kita,” tambah Sjarief.

Adapun lokasi yang ditawarkan di antaranya Merauke, Dobo, Tual, Saumlaki, Timika, Sebatik, dan Natuna. Sebagai tindak lanjut rencana ini, KKP akan memboyong pengusaha untuk melihat sentra-sentra perikanan tersebut dan fasilitas-fasilitas yang tersedia. Untuk mengukuhkan kesepakatan ini, dalam waktu dekat KKP dan industri surimi akan melakukan penandatanganan kontrak kerja sama.

“Kita siapkan armada kapal angkut dari Merauke ke Jawa (untuk mengangkut produk). Dengan begini, nelayan-nelayan yang sudah berpindah ke timur (Indonesia) juga tak perlu khawatir siapa yang akan membeli ikan tangkapan mereka,” tandas Sjarief.

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha