Published On: Thu, Dec 28th, 2017

Lambatnya Pelayanan Bongkar Batubara di PLTU Suralaya, Akibat Cuaca Ekstrem

PLTU milik PT Indonesia Power

MN, Merak – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, Merak, Provinsi Banten milik PT Indonesia Power anak usaha PT Perusahan Listrik Negara merupakan PLTU terbesar di ASEAN, ternyata harus mengakui kedigdayaan cuaca ekstrem yang berdampak melambatnya pelayanan bongkar batubara di PLTU tersebut.

Bayangkan apabila cuaca ekstrem yang dklaim oleh PLTU Suralaya menjadi penyebab lambatnya kegiatan bongkar batubara dari kapal sungguh ironis. Apalagi diprediksi cuaca buruk bakal terus berlanjut hingga bulan Februari 2018 mendatang, sehingga produktivitas bongkar batubara diprediksi terganggu dalam dua bulan ke depan.

Pihak Indonesia Power melalui Manajer Perencanaan dan Inventori PLTU Suralaya, Joko Widodo menjelaskan, pelayanan bongkar kerap terlambat di PLTU Suralaya khususnya saat cuaca ekstrem yang muncul di penghujung serta awal tahun. “Bila kecepatan angin di atas 16 knot maka alat bongkar batubara terhenti otomatis. Aktifitas dapat dimulai lagi setelah angin normal,” ujarnya.

“Beberapa bulan terakhir memang produktivitas bongkar batubara sangat rendah akibat cuaca buruk,” terang Joko Widodo kepada Maritimnews ketika pertemuan bersama dengan Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Merak, Abdul Aziz di Merak, Rabu (27/12).

Menurut Joko Widodo, ketika cuaca ekstrem produktivitas bongkar batubara di PLTU Suralaya hanya mampu dilakukan sekitar 600 – 700 ton per jam. Padahal saat cuaca normal, biasanya untuk membongkar batubara dari kapal kapasitas angkut 65.000 ton cukup membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 hari saja.

Seperti diketahui, saat ini di PLTU Suralaya terdapat tiga kapal curah batubara tipe Panamax yang antre menunggu kegiatan bongkar yakni MV Suryawati yang tiba sejak 3 Desember 2017 hingga kini masih menunggu bongkar, MV Karunia tiba 24 Desember 2017 dan MV Andhika Nareswari tiba 22 Desember 2017.

Sedangkan terkait MV Suryawati, kapal milik PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk yang mengangkut 67.000 ton batubara, Joko menegaskan bahwa MV Suryawati merupakan subkontrak PT Bahtera Adiguna (BAG), anak perusahaan PT PLN. “Kedatangan MV Suryawati tanggal 3 Desember lalu, tidak memberitahukan sebelumnya kepada kami, baik dari Arpeni maupun BAG,” pungkasnya.

(Bayu/MN)

About the Author

- Jurnalis Maritimnews.com

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com