Published On: Sat, Jul 23rd, 2016

Mengenang Semangat Islam dalam Strategi Maritim Fatahillah di Sunda Kelapa

Ilustrasi: Pasukan Fatahillah di Sunda Kelapa

Ilustrasi: Pasukan Fatahillah di Sunda Kelapa

MNOL – Sampai dengan dekade kedua abad ke-16, Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang memiliki nilai strategis secara ekonomi dan politik dari Kerajaan Hindu Pajajaran. Bandar ini menjadi pelabuhan perantara paling ramai dikunjungi para pedagang Arab, India, Cina, dan para pedagang Nusantara setelah Malaka. Di samping itu, pelabuhan ini merupakan pusat pengapalan lada yang dihasilkan dari Jawa Barat dan Lampung. Pajajaran memanfaatkan potensi tempat ini untuk mengontrol jalur perdagangan di Selat Sunda yang merupakan jalur alternatif  apabila situasi keamanan Selat Malaka tidak kondusif seperti yang terjadi antara tahun 1511 hingga 1522.

Kawasan Jawa Barat yang sampai tahun 1526 dikuasai Pajajaran menjadi fokus politik ekspansi Kerajaan Demak dengan tujuan melakukan islamisasi di wilayah itu. Menancapkan pengaruh secara politis dan mengontrol kegiatan perdagangan di pantai Utara Jawa bagian Barat dan Selat Sunda merupakan tujuan utamanya. Politik ekspansi ini berarti berhadapan dengan Kerajaan Pajajaran yang sejak tahun 1522 telah menjalin persekutuan dengan Portugis, yang merupakan musuh besar Demak.

Dalam buku Sejarah Perang Nusantara yang dikeluarkan oleh Pusjarah TNI pada tahun 2010 menyebutkan kepentingan antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran itu, kemudian dituangkan dalam bentuk perjanjian persahabatan militer dan ekonomi, yang selanjutnya dikenal sebagai Perjanjian Padrao (Padrong). Dalam skema perjanjian tersebut, Portugis akan memasok senjata dan alat-alat perang dari Eropa, sedangkan Kerajaan Pajajaran akan menyediakan kebutuhan lada, serta akses dan ijin bagi Portugis untuk membangun fasilitas gudang serta mendirikan benteng pertahanan di Pelabuhan Sunda Kelapa yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Portugis berpikir memiliki kepentingan yang sama atas Pelabuhan Sunda Kelapa dan Selat Sunda setelah keberhasilannya menduduki Malaka tidak menghasilkan keuntungan ekonomi baginya, karena para pedagang dan penguasa Melayu berupaya mengucilkan Malaka dengan meramaikan bandar-bandar baru, seperti Aceh, Pasai, Johor dan Bintan. Jalur pantai Barat Sumatera dan Selat Sunda pun menjadi rute pilihan untuk menghindari Portugis di Selat Malaka.

Selama kurun waktu 1513-1522 Portugis harus melakukan penetrasi ke bandar-bandar baru itu dan menahan upaya bekas penguasa Malaka, Sultan Mahmud untuk merebut kembali kota ini. Bagi Portugis penguasaan Malaka saja tidak cukup untuk mengontrol jalur perdagangan laut Nusantara.

Oleh karena itu, Alfonso d’Albuquerque berambisi menguasai Selat Sunda dan Sunda Kelapa dengan mengirim sebuah kapal, Sao Sebastiao, dibawah komandan Kapten Enrique Leme (Heuken:1982). Kebetulan di saat itu, penguasa kawasan itu adalah Kerajaan Hindu yang memiliki kepentingan yang sama dengan Portugis dalam memerangi kerajaan-kerajaan Islam, terutama Demak yang selalu mendukung kerajaan-kerajaan di Selat Malaka untuk berperang melawan Portugis.

Sesuai bunyi tulisan pada sebuah  Padrao  (batu peringatan)  yang ditemukan di kawasan Jakarta Utara, Portugis diberi izin membangun benteng pertahanan di Sunda Kelapa dan memasok persenjataan terutama meriam dan senapan kepada Pajajaran. Kemudian sebagai timbal baliknya, Pajajaran akan menyediakan komoditi yang diperlukan Portugis. Sampai tahun 1525 Portugis belum sempat mendirikan benteng, namun beberapa pucuk meriam telah diberikan Portugis kepada Kerajaan Pajajaran.

Kiprah Kerajaan Demak

Portugis dan Demak pun akhirnya berpacu dengan waktu untuk segera menduduki Sunda Kelapa. Pada tahun 1526, Alfonso d’Albuquerque mengirim enam kapal perang dibawah pimpinan Francisco de Sa menuju Sunda Kelapa. Kapal yang dikirim adalah jenis galleon yang berbobot hingga 800 ton dan memiliki 21-24 pucuk meriam. Armada itu  diperkirakan membawa prajurit bersenjata lengkap sebanyak 600 orang.

Ilustrasi: Perang Fatahillah

Ilustrasi: Perang Fatahillah

Pada tahun yang sama, Sultan Trenggono mengirimkan 20 kapal perang bersama 1.500 prajurit dibawah pimpinan Fatahillah menuju Sunda Kelapa. Kapal-kapal Demak terdiri dari kapal tradisional jenis Lancaran dan Pangajawa yang ukurannya jauh lebih kecil dari galleon.

Dalam buku Strategi Maritim dalam Perang Laut Nusantara yang ditulis Laksda TNI Herry Setianegara pada 2014, kapal-kapal ini digerakkan oleh layar dan dayung serta dilengkapi paling banyak delapan pucuk meriam buatan lokal yang jangkauannya tidak sejauh meriam Portugis. Berbeda dengan pasukan yang dikirim ke Malaka, prajurit Demak yang dipimpin oleh Fatahillah ini merupakan prajurit yang terlatih, sejumlah perwiranya merupakan veteran pasukan Pati Unus yang memiliki pengalaman perang laut untuk bagaimana menghadapi kapal-kapal Portugis.

Pada bulan Oktober 1526, armada Demak diberangkatkan dari Pelabuhan Jepara dengan memanfaatkan angin Barat. Konvoi kapal ini menyusur pantai Utara Jawa dan singgah di Cirebon untuk mengisi perbekalan dan mengangkut tambahan prajurit yang disediakan oleh Susuhunan Jati, penguasa wilayah itu. Kekuatan gabungan Demak dan Cirebon menjadi 1.967 prajurit. Fatahillah tidak langsung menggempur Sunda Kelapa, namun mengarahkan armadanya ke Banten yang tidak dipertahankan secara kuat oleh prajurit Kerajaan Pajajaran. Banten dapat diduduki oleh pasukan Demak dan Cirebon pada akhir tahun 1526. Penguasa Banten kemudian dipegang oleh Maulana Hasanudin, tokoh penyebar Islam dari Cirebon.

Pada awal tahun 1527, Fatahillah menggerakkan armadanya ke Sunda Kelapa, sementara pasukan Banten secara bertahap menduduki wilayah demi wilayah Pajajaran dari arah Barat. Sedangkan pasukan Cirebon bergerak menguasai wilayah Pajajaran bagian Timur Jawa Barat.

Dalam kondisi itu, Sunda Kelapa telah dipertahankan oleh Kerajaan Pajajaran secara kuat, baik di darat maupun laut. Pada akhir bulan Februari 1527, armada Fatahillah memasuki perairan Sunda Kelapa dan dihadang oleh kapal-kapal Pajajaran yang dari segi teknologi persenjataan dan pengalaman masih dibawah armada Demak. Kapal-kapal Demak melakukan taktik bombardemen jarak jauh dengan meriam, kemudian diikuti lontaran bola api dan anak panah ke arah kapal-kapal Kerajaan Pajajaran.

Kemudian dituntaskan oleh penguasaan prajurit yang berayun dari kapal sendiri ke kapal musuh. Armada Demak dengan mudah melumpukan armada kapal perang Kerajaan Pajajaran, yang kemudian segera merapat ke pelabuhan dibawah hujan peluru meriam dari pantai yang selalu meleset karena kurangnya keterampilan prajurit pengawaknya. Seluruh pasukan Demak dan Cirebon dibawah pimpinan Adipati Keling dan Adipati Cangkuang dari Cirebon berhasil didaratkan dan langsung berhadapan dengan pasukan darat Kerajaan Pajajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja.

Dalam waktu sehari Sunda Kelapa dapat dikuasai oleh pasukan Fatahillah. Oleh karena itu, Sultan Trenggono mempercayakan Fatahillah sebagai penguasa Sunda Kelapa yang baru. Kapal-kapal dan prajurit Kerajaan Demak yang disertakan dalam ekspedisi itu tetap dipertahankan di Sunda Kelapa untuk mendukung gerakan pasukan Islam yang sedang bergerak ke kawasan Pakuan (daerah Bogor) yang menjadi ibu kota Pajajaran. Selain itu, disiapkan untuk menghadapi kedatangan armada Portugis yang diketahui sedang bergerak ke arah Jawa bagian barat.

Kemenangan Fatahillah, Munculnya Jayakarta

Perkembangan politik di Sunda Kelapa ternyata tidak diketahui oleh armada Portugis. Pada bulan Juni 1527 kapal-kapal Portugis telah berada di Teluk Sunda Kelapa, dimana sebuah kapal ditugaskan merapat di pelabuhan dan menurunkan pasukan bersenjata lengkap untuk merealisasikan perjanjian membangun loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng pertahanan) antara Portugis dengan Kerajaan Pajajaran pada tahun 21 Agustus 1522. Buah perjanjian itu, Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan.

Raja Pajajaran akan memberikan Portugis seribu keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Penguasa baru Sunda Kelapa tentu saja menolak maksud Portugis itu yang berakhir dengan pertempuran di Kota Sunda Kelapa. Kekuatan yang tidak seimbang membuat pasukan Portugis mundur kembali ke kapalnya. Kapal Portugis  yang naas itu gagal meninggalkan perairan Sunda Kelapa dan tenggelam  karena dihujani tembakan meriam dari pantai dan dikepung kapal-kapal armada Kerajaan Demak yang ternyata lebih lincah untuk pertempuran pantai.

Kapal-kapal Portugis lainnya membentuk formasi di perairan terbuka untuk menghadang kedatangan armada Kerajaan Demak yang  diperkirakan akan muncul dari Teluk Sunda Kelapa. Fatahillah sengaja menahan armadanya untuk tetap bertahan di teluk lantaran mempertahankan Sunda Kelapa menjadi tujuan utamanya.

Hal ini disebabkan oleh dua perkiraan, yaitu Pertama kapal-kapal Kerajaan Demak akan sulit menghadapi armada Portugis di laut terbuka karena ketertinggalan teknologi senjata dalam hal jangkauan meriam dan menggiring Portugis untuk memaksakan pertempuran pantai yang memang menjadi spesialisasi kapal dan prajurit Demak. Kedua, pada saat itu sedang terjadi badai di perairan terbuka yang membahayakan pelayaran kapal-kapal Demak karena tonase dan ukurannya relatif kecil.

Dalam suasana yag serba mencekam dan tidak pasti itu, sebuah kapal perang Portugis mencoba memasuki teluk untuk menghindari badai. Namun, kehadiran kapal itu segera dikepung  dan ditenggelamkan oleh kapal-kapal Kerajaan Demak yang mampu mengarahkan meriam dan bola api tepat di lambung dan geladak kapal yang naas itu. Empat kapal Portugis lainnya tidak berani memasuki Teluk Sunda Kelapa dan memilih menghadapi badai. Tenggelamnya dua kapal ini membuat Fransisco de Sa memerintahkan armadanya  kembali ke Malaka.

Ilustrasi: Perang Fatahillah

Ilustrasi: Perang Fatahillah

Kemenangan pertempuran ini menunjukkan kehebatan pasukan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah. Atas kemenangan ini, kemudian Fatahillah diangkat sebagai Gubernur di Sunda Kelapa.  Untuk memperingati kemenangan armada Kerajaan Demak dalam merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran dan mempertahankannya dari Portugis, maka pada tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah mengubah nama pelabuhan ini menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan mutlak. Sehingga, tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta yang sekarang menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Yang perlu dicatat, kemenangan Fatahillah itu karena pandai memainkan strategi maritim dalam menguasai kondisi dan geografis Sunda Kelapa. Meskipun peralatannya terbatas tetapi semangat pasukan Demak yang djiwai dengan semangat  jihad fi sabililliah, mampu mengalahkan kekuatan Portugis yang juga menggunakan strategi maritim. Selain itu tidak dipungkiri kemenangan itu juga ditopang oleh keberpihakan alam, di mana saat itu Teluk Sunda Kelapa sedang dirundung badai sehingga banya kapal Portugis yang hancur akibat badai itu.

Tentu semua karena izin Allah Swt, Tuhan Semesta Alam yang memberikan setiap kemenangan bagi umatnya yang berperang di atas jalan-Nya. Dengan kemenagan itu, maka Jayakarta menjadi pusat penyebaran Islam untuk daerah Jawa Barat dan Sumatera bagian selatan.

(Dikutip dari berbagai sumber)

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com