Published On: Fri, Dec 1st, 2017

Menggali Sejarah Papua dari Tidore

Sultan Tidore Husain Syah

MN, Tidore – Kesultanan Tidore yang merupakan salah satu kesultanan tua di Maluku Utara, memiliki sejarah panjang dalam proses penyatuan Indonesia. Kesultanan ini erat kaitannya dengan pulau paling timur Indonesia, yakni Papua.

Saat ditemui di Kedaton Kesultanan Tidore, Maluku Utara, (17/11), Sultan Tidore Husain Syah menceritakan secara jelas sejarah Papua yang menurutnya istilah itu berasal dari Bahasa Tidore.

“Orang sering tertukar mengartikan Papua dari Bahasa Tidore yang artinya Papa ua. Arti dari istilah itu adalah tidak memiliki ayah atau orang tua. Padahal yang benar ialah Papo ua, yang berarti tempat yang jauh,” ujar Sultan Tidore.

Karena bila pulau ini dianggap sebagai Papa ua, yang artinya tak memiliki bapak maka akhirnya identik dengan tanah tak bertuan. Artinya, siapa pun bisa memiliki Papua. Sultan Tidore dengan tegas menepis anggapan itu.

Sambungnya, Pulau Papua merupakan pulau yang jauh bagi orang-orang Tidore dahulu saat berlayar. Meskipun tercatat armada Tidore pernah tiba di Kepulauan Pasifik, namun tetap saja, bagi orang-orang Tidore tanah Papua menjadi daerah yang jauh di seberang lautan.

Ia pun menepis jika ada yang menyatakan nama asli pulau itu ialah Irian sesuai pemberian Bung Karno yang diakronimkan Ikut Repuplik Indonesia Anti Netherland. Menurut informasi yang telah dihimpun sebelumnya, konon nama Irian itu berasal dari istilah Arab, Ar-Rayan, yang berarti Tanah Surga.

Mengingat pulau ini kaya akan sumber daya alamnya ditambah dengan panorama alamnya yang indah ibarat penggalan surga yang jatuh ke bumi. Di pulau itu pun terdapat burung surga, yakni cinderawasih.

“Itu hanya persepsi saja kalau ada yang menyebut Irian berasal dari kata Ar-Rayan. Karena menurut cerita orang-orang tua kami, pulau itu karena dianggap jauh makannya disebut Papo ua. Saya tidah tahu kenapa dialeknya akhirnya menjadi Papua,” terangnya.

Kesultanan Tidore yang berjaya pada masa pemerintahan Sultan Nuku, menurut berbagai sumber pernah mengangkat bala tentara laut asal Biak yang dipimpin oleh Gurabesi. Karena ketangguhan dan kecakapannya dalam memimpin perang laut, akhirnya Gurabesi dan pengikutnya diberikan tempat di daerah Raja Ampat.

Ia pun diangkat menjadi raja di wilayah itu dan memiliki 4 orang anak yang masing-masing memimpin 4 pulau besar di gugusan kepulauan itu. Perlu diketahui, istilah Maluku berasal dari Bahasa Arab, Al Mulk, yang berarti negeri para raja. Hingga saat ini kepala suku atau kepala adat yang mendiami kepulauan Maluku disebut sebagai raja.

Menurut cerita Sultan Tidore, pendahulunya banyak mengangkat orang menjadi raja di pulau-pulau hingga ke arah Maluku bagian tenggara bahkan Papua. Sehingga tidak heran jika Tidore disebut sebagai induk tanah adat Maluku.

Ruang kerja Sultan Tidore, terdapat lukisan Sultan Nuku dan peta wilayah Tidore, termasuk Papua di dalamnya.

Kembali ke persoalan Papua, yang kini setiap tanggal 1 Desember bagi orang-orang yang anti NKRI diperingati sebagai hari jadi Papua, karena di tanggal itu tahun 1961, Kerajaan Belanda telah memberikan kemerdekaan kepada Papua.

Pemberian kemerdekaan itu yang kemudian memancing kemarahan Bung Karno, yang selanjutnya mengeluarkan Tri Komndo Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961. Bung Karno menganggap bahwa Belanda telah mengingkari isi Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, yang akan mengakui wilayah Indonesia seluruhnya dari Sabang hingga Merauke.

Sedangkan dalam isi konferensi itu, masalah Papua akan diselesaikan selambat-lambatnya 1 tahun kemudian. Namun dalam kurun waktu setahun itu tidak ada tindakan apa-apa dari Belanda.

Awalnya, Bung Karno mencoba secara diplomasi upaya pengembalian Irian Barat. Kemudian dilanjutkan dengan nasionalisasi asset Belanda hingga pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda pada tahun 1956. Bung Karno pun membentu Provinsi Irian Barat yang beribukota di Soasiu, Tidore, dengan Sultan Tidore saat itu, Zainal Abidin Syah, didaulat sebagai Gubernur pertama Irian Barat (Papua).

Hingga 1 Mei 1963 melalui prosesi perjuangan militer dan diplomasi di PBB, akhirnya Irian Barat resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Berdasarkan kisah itu, sejak masa Sultan Nuku hingga Bung Karno, sejarah Papua begitu erat dengan Tidore. Maka dari itu, Sultan Tidore saat ini juga dianggap sebagai Bapak oleh orang-orang Papua.

Sultan Tidore Husain Syah (Duduk paling kiri)

Husain menceritakan pernah ada pemuda Papua yang ingin bertemu dengannya untuk menyerahkan sebilah pedang asal Papua. Permintaan pemuda itu hanya satu, yaitu pedang itu dipajang di kesultanan.

“Ya saya tepati janji kepada pemuda Papua itu, namanya David. Sehabis memberikan pedang ke saya lalu ia kembali ke Papua dan kemudian dikabarkan telah meninggal dunia,” kenangnya.

Husain pun atas nama Kesultanan Tidore menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya David. Hingga kini pedang pemberian pemuda itu, terpajang di kedaton bersama pusaka-pusaka lainnya.

Di akhir penjelasannya, Husain berharap agar persatuan NKRI tetap terus terwujud bahkan hingga kiamat nanti. Ikrar itu pernah ia sampaikan juga di Parlemen Afrika Selatan.

“Tidore tetap bagian integral dari NKRI begitu juga Papua,” pungkasnya.

 

(Adit/MN)

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha