Published On: Thu, Jun 1st, 2017

Mengulas peran Gunboat Diplomacy saat ini (Bagian II)

Ilustrasi: Soft Diplomacy yang dilakukan oleh Angkatan Laut

Oleh: Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS*

Lanjutan

Persuasive Maritime Diplomacy

Adapun Persuasive Maritime Diplomacy terletak di antara Cooperative dan Coercive Maritime Diplomacy. Dibanding cooperative, persuasive lebih memiliki sedikit keterlibatan dalam efek politis atau dengan kata lain pengaruh yang diberikan tidak secara langsung kepada negara yang dimaksud. Kemudian, dengan coercion, diplomasi ini bertujuan untuk tidak menakuti atau memaksa pihak lain dengan kekerasan.

Persuasive maritime diplomacy ini adalah lebih untuk meningkatkan pengakuan sebagai sebuah kekuatan maritim atau kekuatan nasional, serta membangun dan meningkatkan gengsi atau nilai tawar di tingkat internasional. Diplomasi ini bukan untuk mempengaruhi suatu negara tertentu dan juga bukan untuk mengancam untuk menyerang negara yang merupakan potensi menjadi musuh. Namun, diplomasi ini untuk membujuk orang lain atau menimbulkan pengakuan negara lain bahwa angkatan laut negara tersebut ada dan efektif.

Diplomasi maritim persuasif ini juga bisa disebut dengan diplomasi “showing the flag” yaitu diplomasi yang menggunakan kapal perang dengan menunjukkan kehadiran dan kekuatan suatu negara tanpa perlu mencari atau mempengaruhi kebijakan negara lain.

Contoh yang sangat jelas adalah pada saat Presiden US, Theodore Roosevelt, memerintahkan dua skuadron battleships dan kapal perang pengawal mereka untuk dicat putih dan melaksanakan pelayaran keliling dunia mulai Desember 1907 sampai dengan Februari 1909. Operasi ini disebut Great White Fleet yang bertujuan utamanya adalah menunjukan bahwa pemerintah US ingin menunjukkan rasa cinta damai dan Amerika mampu menjangkau seluruh dunia.

Ilustrasi: Pelayaran Great White Fleet

Sebetulnya, pelayaran Great White Fleet juga merupakan co-operative maritime diplomacy sebagai kombinasi, dengan tujuan tambahan yaitu untuk memperkuat persekutuan/ aliansi dan membangun pengaruh US di dunia. Pelayaran ini merupakan keinginan untuk menunjukkan bahwa Amerika adalah salah satu negara terkuat di dunia, terutama setelah memenangkan pertempuran dalam Spanish-American War tahun 1898 dan berhasil merebut Guam, Filipina dan Puerto Rico.

Roosevelt hanya ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah kekuatan global baru. Roosevelt memberikan misi juga bukan untuk melaksanakan invasi atau menanggulangi agresi yang terjadi atau keinginan untuk berkonfrontasi dengan negara lain, namun dengan semboyan “Speak softly and carry a big stick” dalam diplomasinya.

Namun, diplomasi ini jarang dilaksanakan oleh negara-negara maritim dengan alasan misi yang cenderung tidak jelas dan memerlukan anggaran yang besar. Sangat sulit menentukan keseimbangan antara anggaran dalam menggerakkan gugus tugas dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Sehingga, persuasive maritime diplomacy sering dilaksanakan kombinasi dengan diplomasi lain, karena efek diplomatis  yang timbul sulit diukur keberhasilannya.

Dapat disimpulkan bahwa diplomasi persuasif ini mempunyai kegunaan untuk menanamkan keyakinan akan kehadiran kekuatan maritim terhadap negara lain, tanpa berusaha untuk mempengaruhi kebijakan politis suatu negara. Kesulitan dalam menyeimbangkan penggunaan anggaran operasi diplomasi ini dengan tujuan akhir yang diharapkan menyebabkan jenis diplomasi ini jarang digunakan di banding dua cara diplomasi maritim lainnya.

Coercive Maritime Diplomacy (Contemporary Gunboat Diplomacy)

Bentuk terakhir dari diplomasi maritim adalah coercive maritime diplomacy. Diplomasi ini merupakan bentuk kontemporer gunboat diplomacy yaitu mengejar tujuan melalui diplomasi dengan menggunakan kekuatan angkatan laut. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi dan peralatan tempur angkatan laut, definisi dari gunboat diplomacy menjadi tidak jelas, karena penggunaan alut sista yang berbeda. Namun secara prinsip, diplomasi jenis ini tetap dilaksanakan walaupun karakternya yang berbeda.

Kejadian yang dapat menjelaskan definisi coercive maritime diplomacy adalah diplomasi Amerika, Inggris, Rusia, dan Prancis dalam membuka jalur perdagangan ke Jepang. Pada tahun 1853, gugus tempur kapal US terdiri dari empat kapal perang, dipimpin oleh Komodor Matthew C. Perry, berlayar menuju Edo (sekarang Tokyo) mempunyai tujuan tidak hanya untuk menunjukkan kebangkitan kekuatan Imperial Amerika, namun juga untuk  membuka sistem perdagangan global.

Diplomasi ini berhasil memaksa Jepang memberikan dua pelabuhan besarnya, Shimoda dan Hakodate melalui Konvensi Kanagawa sebagai pelabuhan perdagangan dengan Amerika. Keberhasilan Amerika ini kemudian diikuti oleh negara lain dengan mengirimkan kekuatan angkatan lautnya ke Jepang yaitu Inggris pada tahun 1854, Rusia pada tahun 1855, dan Prancis pada tahun 1858, yang juga berhasil mendapatkan akses perdagangan global dan internasional dengan Jepang sebagai pelabuhan utama.

Ilustrasi: Gunboat Unyo

Keefektifan diplomasi ini kemudian diadopsi oleh Jepang pada tahun 1876, dengan menggunakan pengiriman gunboat Unyo ke Pulau Ganghwa, Korea, dan menyerang dua pelabuhan Korea. Serangan ini menghasilkan diberlakukannya Treaty of Ganghwa, dimana Korea memberikan Busan, Inchon dan Wusan kepada Jepang untuk digunakan warga negara Jepang untuk tinggal dan berdagang.

Contoh yang bisa dilihat saat ini adalah pada Januari 1968, Korea Utara melaksanakan gunboat diplomacy terhadap US dengan menangkap USS Pueblo, kapal pengumpul intelijen maritim. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuatan Korut sebenarnya melalui propaganda tersebut dan untuk menangkal misi operasi intelijen Amerika.

Berbagai contoh di atas menunjukkan berbagai macam taktik dan tujuan dengan keberhasilan yang berbeda-beda. Sehingga sangat sulit dalam mendefinisikan gunboat diplomacy secara jelas. Seorang ahli teori diplomasi bernama James Cable menjelaskan bahwa “gunboat diplomacy is the use or threat of limited naval force, otherwise as an act of war, in order to secure advantage or to avert los, either in the furtherance of an international dispute or else against foreign nationals within the territory or the jurisdiction of their own state. (Gunboat Diplomacy adalah penggunaan ancaman dengan menggunakan kekuatan angkatan laut, dalam aksi peperangan, untuk mengamankan keuntungan atau mencegah kekalahan, di dalam situasi perselisihan internasional atau dalam situasi bermusuhan dengan negara lain di dalam wilayah atau kedaulatan wilayah mereka sendiri).

Pertama, definisi Cable ini menunjukkan bahwa gunboat diplomacy hanya bisa dilakukan oleh suatu negara yang memiliki angkatan laut. Namun dengan berkembangnya taktik dan strategi peperangan, misalkan dengan berkembangnya aktor bukan negara, seperti teroris, definisi ini menjadi tidak jelas. Munculnya kelompok teroris seperti Al Shabab di Somalia dan kelompok Abu Sayyaf di Filiphina, yang menggunakan kapal dalam aksi mereka, menunjukkan bahwa gunboat diplomacy bisa dilaksanakan bukan oleh angkatan laut suatu negara saja.

Kedua, Cable menyebutkan “naval force”, bukan “naval power”, sehingga diartikan penggunaan kekuatan angkatan laut secara terbatas. Definisi naval power adalah kemampuan untuk mengendalikan lingkungan maritim, sedangkan naval force berarti penggunaan kemampuan tersebut untuk mempengaruhi suatu kebijakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa diplomasi ini adalah operasi di luar peperangan, berbeda dengan aksi yang dilakukan selama perang adalah operasi militer untuk mencapai tujuan militer atau tujuan politik.

Sebagai contoh, tenggelamnya Belgrano pada tahun 1982 bukan termasuk dalam diplomasi. Walaupun tenggelamnya Belgrano dapat memberikan pesan politik, namun intensi HMS Conqueror menembak torpedonya adalah aksi dengan tujuan militer yaitu mencegah Belgrano dan kapal pengawalnya masuk ZEE Falklands (Malvinas) yang berpotensi mengancam kekuatan tugas Inggris. Sehingga jelas bahwa tujuan gunboat diplomacy tidak sama dengan tujuan militer saat perang, namun cenderung ke tujuan diplomatik saat damai.

Perang akan dimulai saat diplomasi gagal. Gunboat diplomacy adalah sebuah usaha atau aksi penggunaan kekuatan angkatan laut untuk mengatur hubungan internasional tanpa mendeklarasikan perang.

Cable juga mendefinisikan gunboat diplomacy harus memenuhi salah satu atau dua syarat adanya diplomasi ini, yaitu kemampuan dan niat. Siapa pun aktor yang menunjukkan kemauan atau niat menggunakan kekuatan angkatan laut untuk kepentingan diplomasi adalah gunboat diplomacy.

Contoh negara yang melaksanakan diplomasi hanya dengan hanya menunjukkan kemampuan adalah China. Tahun 2009, China menyelenggarakan parade angkatan laut yang ke-60, melibatkan 52 kapal perang, termasuk memperkenalkan kapal selam nuklir pertama China tipe 092.

Tanpa menunjukkan ancaman namun pesan dan indikasi bisa disampaikan kepada Jepang dan Amerika bahwa angkatan laut China tidak dapat disepelekan. Di lain pihak, latihan Verayat 90 oleh AL Iran adalah contoh diplomasi yang menggunakan kemampuan dan niat mengancam, dengan menunjukkan kemampuan asimetris yang dimiliki.

**

Jenis diplomasi maritim dapat didefinisikan dengan melihat contoh sejarah diplomasi angkatan laut. Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa diplomasi maritim dilaksanakan saat pada masa damai. Mungkin batas antara diplomasi, terutama yang menggunakan kekuatan, dengan aksi peperangan menjadi tidak jelas.

Namun, keduanya dapat mempunyai efek politis. Seluruh kekuatan maritim, baik itu angkatan laut, coast guard atau instansi maritim lainnya, merupakan agen suatu negara dalam berdiplomasi, sehingga peran diplomasi selalu melekat.

Sehingga, jelas bahwa diplomasi maritim adalah sebuah kegiatan diplomasi dengan menggunakan atau memanfaatkan kekuatan maritim untuk mencapai tujuan tertentu, yang bukan tujuan militer saat perang. Diplomasi maritim bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri, namun sebuah spektrum kegiatan mulai dari jenis diplomasi kerja sama (cooperative maritime diplomacy) sampai dengan jenis pemaksaan (coercive maritime diplomacy/gunboat diplomacy).

Diplomasi Maritim TNI AL

Diplomasi maritim tentunya merupakan kepanjangan dari politik dengan cara lain dimana aksi ini dapat mencegah terjadinya perang berskala besar. Selain itu, diplomasi maritim merupakan kegiatan yang mampu mengisi antara perang militer dengan diplomasi sipil, dengan memberikan pilihan cara kepada pembuat kebijakan untuk dapat mencegah eskalasi yang meningkat dan mencegah terjadinya peperangan yang berkepanjangan.

Yang perlu disimpulkan bahwa, apapun jenis diplomasi maritim, baik cooperative, persuasive  dan coercive, mempunyai kesamaan yang mendasar yaitu menunjukkan kepada kawan maupun lawan melalui kemampuan dan niat. Setiap kegiatan diplomasi selalu melibatkan niat yang jelas walaupun tersembunyi, kemampuan atau kehadiran yang signifikan, dengan segala konsekuensi yang tidak diinginkan yang mungkin timbul dalam diplomasi.

*Penulis adalah lulusan AAL tahun 1998, saat ini berdinas di Srena Koarmatim

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com