Published On: Thu, Dec 7th, 2017

Mengupas peran Maritime Power dan Air Power dalam Poros Maritim Dunia

Air Power dalam Poros Maritim Dunia

MN, Jakarta – Disetujuinya Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI pengganti Jenderal TNI Gatot Nurmantyo oleh DPR RI membawa angin segar dalam konteks pertahanan maritim. Pasalnya, pengembangan Strategi Maritim dalam konteks sistem pertahanan NKRI hendaknya harus mengedepankan Maritime maupun Air Power mengingat visi pemerintah telah berani menyatakan bahwa menyongsong masa depan Indonesia melalui lautan.

“Poros Maritim Dunia sudah jelas merupakan visi Indonesia untuk menjadi negara maritim yang maju, mandiri, kuat serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai dengan kepentingan nasional,” ungkap Kolonel Laut (P) Salim di Jakarta, (7/12).

Pamen TNI AL yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubdis Strategi Taktik Operasi Mabes TNI AL itu menjelaskan sistem pertahanan maritim dan dirgantara dalam penyusunan strategi maritim, harus memperhatikan faktor geostrategis baik yang bersifat internal maupun eksternal.

“Ini berkaitan dengan upaya membangun sistem pertahanan yang didasarkan atas konsep “unified approach dan comprehensive strategy yang mencakup seluruh wilayah kepulauan Indonesia,” bebernya.

Dalam faktor yang bersifat eksternal, sebagai kemampuan untuk menangkal ancaman, Lulusan Dikreg 49 Seskoau ini menyebut pengembangan kemampuan penangkalan, diplomasi, pengintaian, dan sistem peringatan dini harus diperhatikan. Selain itu juga dalam persoalan perkembangan teknologi dan komunikasi.

Dengan adanya gap hirarki kebijakan saat ini, pada kampanye operasi gabungan khususnya pada level Grand Strategy dan absennya beberapa kebijakan menyebakan perencanaan pembangunan Maritime Power maupun Air Power belum sinergis yang berujung tidak dapat memenuhi harapan khususnya dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

“Perencanaan pembangunan maritim harus dirancang untuk menjadi sebuah gerakan dinamis dan berkelanjutan yang mampu menggabungkan elemen-elemen dalam sebuah rancangan operasional,” ulas dia.

Sambungnya, rencana pembangunan tersebut memerlukan kemampuan “sweeping visions” untuk dapat membangun pengertian akan hubungan erat antara tujuan akhir, strategi yang dipilih, cara, operasionalisasi dan juga taktis pelaksanaan operasinya.

Dalam  konsep offensive realist, negara membutuhkan kekuatan,  tidak hanya untuk menjaga posisi demi terciptanya balance of power, melainkan untuk menjadi sekuat mungkin. Dalam sebuah sistem, dimana tidak ada otoritas yang lebih tinggi daripada negara. Menjadi masuk akal bagi setiap negara untuk memiliki kekuatan agar dapat terjaga dari serangan negara lain.

“Oleh karena itu, negara-negara normal, baik dengan rezim pemerintah demokratik ataupun otoriter, akan berperilaku selalu sama; yaitu mencari dan membangun kekuatan sebesar besarnya,” ungkap Salim.

Sinergitas membangun kekuatan dalam Poros Maritim Dunia

Dalam membangun Poros Maritim Dunia, kemampuan penggunaan dan penguasaan akan  laut serta pengendalian udara, harus mampu memberikan sebuah  pemahaman dan  fleksibilitas. Begitu juga dengan pasukan yang dimiliki dan penggelarannya, serta keseluruhan spektrum operasi maritim itu sendiri.

Kolonel Laut (P) Salim

Salim memamparkan terdapat banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam proses perencanaan operasi maritim. Kemampuan dan sumber daya militer yang tidak terbatas merupakan hal mutlak. Hal itu harus terkonsentrasi untuk mencapai tujuan akhir strategi negara.

Selain itu, lanjut dia, perencanaan operasional  menjadi  penting sebagai prasyarat  utama dalam menetapkan  keberlangsungan rencana.

“Idealnya, harus ada sebuah kesatuan komando atas semua sumber daya dan logistik yang diperlukan untuk melakukan operasi maritim,” ungkapnya lagi.

Lulusan AAL tahun 1995 ini selanjutnya menerangkan soal kekuatan maritim, sangatlah  ideal untuk mendukung sebuah ‘high tempo operations’. Hal tersebut dikarenakan kemampuan mobilitas dan flesibilitasnya.

“Untuk mencapai tempo ini diperlukan inisiatif dan eksploitasi untuk mencapai kesuksesan. Dalam melakukan kampanye maritim, beberapa pertimbangan harus diberikan untuk mengidentifikasi kerentanan kritis akan ancaman,” ulasnya.

Pamen TNI AL yang aktif menulis buku ini juga mengurai soal kesadaran tentang kerentanan kritis perencanaan operasi yang efektif.

Hal ini mencakup, antara lain: kapal transport untuk pasukan amphibi, kemampuan kapal untuk menggelar combat power termasuk kemampuan kapal selamnya,  penambahan kapal dalam pengerahan pasukan,  kekuatan kemauan (will power) dan kohesi pasukan serta para komandan, kemampuan Komando dan pengendalian, intelligence, surveillance and reconnaisance unit,  “aset perang udara,” kemampuan dan ketahanan fisik dari anggota, serta terakhir, posisi geografi dari negara itu sendiri.

“Maka dari itu memelihara fleksibilitas dan kemampuan adaptasi akan perkembangan dari situasi dan lingkungan yang dihadapi sangatlah penting,” tandasnya.

Peran Air Power dalam Strategi Maritim

Strategi maritim merupakan konsep yang luas mencakup pertahanan, keselamatan maupun keamanan nasional melalui pengerahan seluruh elemen kekuatan nasional. Utamanya ditujukan untuk pengendalian maritim dan perlindungan sumber daya nasional baik di laut, pantai maupun darat.

Berdasarkan sejarah maupun posisi alamiah, Indonesia harus mampu melindungi dan menjaga keamanan serta mampu memanfaatkan eksploitasi sumber daya maritim yang dimilikinya. Pengendalian laut dan udara merupakan kunci pertahanan Indonesia mengingat sebagai negara Kepulauan yang saat ini menuju negara maritim.

“Hal penting yang akan selalu berhubungan dalam pembangunan kekuatan Poros Maritim Dunia adalah Sea and Air Control maupun Sea and Air Denial,” ulas Salim.

Pesawat Tempur TNI AU

Selanjutnya, beber pria asal Surabaya ini adalah peran utama dalam kekuatan udara pada kekuatan maritim atau the core air power role in maritime power. Menurutnya, para pemangku kebijakan harus bisa menjabarkan tiap-tiap fungsi kekuatan udara, antara lain;

Pertama, Control Air atau pengendalian udara adalah kemampuan untuk melaksanakan operasi udara dan darat dalam konteks domain maritim tanpa ada gangguan dari kekuatan udara lawan maupun kemampuan pertahanan lawan. Control air bertujuan untuk offensif counter air maupun defensif counter air.

Kedua, Strike atau kemampuan untuk menyerang dengan niatan untuk merusak, menetralisir maupun menghancurkan target dalam operasi maritim. Strike meliputi; Strategic Attack, Close air support, Air Interdiction, electronic warfare maupun information operation. Kemampuan serangan Air Power yang akan sangat berhubungan dengan kemampuan operasi maritim antara lain; Anti serangan permukaan dan anti serangan kapal selam.

Ketiga, Air Mobility atau mobilitas udara adalah kemampuan untuk mengangkut dan menggerakkan personel, materiel maupun kekuatan dengan menggunakan alutsista dalam mendukung operasi maritim. Mobilitas udara tersebut meliputi; dukungan logistik udara, airborne operation, air to air refuueling maupun evakuasi medis udara.

Keempat, Intelligence, surveillance and reconnaissance  (ISR) merupakan integrasi dan sinkronisasi perencanaan pada penggunaan sensor, assets dan proses, eksploitasi dan disseminasi system dalam bantuan langung pada saat operasi maritim yang sedang berlangsung maupun yang akan datang.

Kelima, Command and Control merupakan komando dan kendali dalam suatu proses maupun sarana untuk melaksanakan kewenangan serta legalitas pasukan yang diperintahkan dalam melaksanakan Operasi maritim.

Dengan seperti itu, akhirnya, perencanaan pembangunan maritime dan air power dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dapat terwujud.

“Ini tidak bisa ditawar lagi mengingat visi pemerintah yang telah menempatkan laut sebagai tempat kompetensi sumber daya global, laut sebagai media transportasi dan perdagangan, laut sebagai media pertahanan, Laut sebagai media pembangun pengaruh. Di laut tetap jaya di udara tetap perkasa,” tutup salim.

 

(Adit/MN)

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha