Published On: Thu, Mar 3rd, 2016

Menyongsong Sea Power Indonesia, Letkol Laut (P) Salim: Jangan Lupa Sejarah!

Letkol Laut (P) Salim (DokPribadi)

Letkol Laut (P) Salim (DokPribadi)

Maritimnews, Jakarta –  Dalam mewujudkan Sea Power atau kekuatan maritim Indonesia dalam bingkai poros maritim dunia, maka sejarah dan karakteristik suatu bangsa menjadi bagian yang penting selain daya dukung teknologi. Hal itu disampaikan oleh Pabandya-3/Gunkuat Spaban IV/Ops Sops TNI Letkol Laut (P) Salim saat menjadi dosen dalam Dikreg-54 Seskoal, Bumi Cipulir, Jakarta, (3/3/16).

Dalam sesi yang berdurasi 3 jam itu, lulusan AAL tahun 1995 ini membawakan materi bertajuk “Classic Of Sea power to Indonesia Maritime Power, Implementasi Sea power Dalam  Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia”. Dalam pemaparannya, pria asal Surabaya itu memulai dengan karakteristik Indonesia sebagai bangsa bahari.

“Indonesia memiliki 4 choke points dan pulau sebanyak 17.499. Pernakah kita berfikir kenapa Indonesia dianugrahi ruang yang demikian? Untuk lebih meresapi kita harus mengenali dulu karakteristik tanah air kita,” ungkapnya.

Selanjutnya, Salim masuk pada pembahasan sejarah maritim Nusantara, yang dimulai pada masa kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Tidore, Banten, Demak dan sebagainya. Bahkan lebih dari itu, pria yang malang melintang dalam penugasan di KRI itu mengurai Nusantara merupakan negeri yang dimaksud dalam kitab suci (Al Qur’an-red) sebagai negeri Saba.

“Di negeri ini pernah terlahir orang-orang hebat. Misalnya Pati Unus pernah menyerang Portugis di Selat Malaka menggunakan lebih dari 10.000 armada pada tahun 1512. Kok 500 tahun kemudian kita malah lemah kayak gini,” selorohnya.

Banyak pertempuran-pertempuran laut dalam sejarah Nusantara yang sudah dibukukan oleh Danseskoal Laksda TNI Herry Setianegara. Namun, kecenderungan orang saat ini lebih banyak mengambil referensi dan literatur dari luar negeri. Pria yang juga sering menjadi pembicara wawasan maritim di berbagai universitas itu menyatakan kita tidak akan menjadi besar bila hanya mempelajari sejarah orang lain.

“AT Mahan juga menulis doktrin Sea Power Amerika berdasarkan sejarah kebesaran Amerika yang dipakai hingga saat ini. Tiongkok pun juga begitu, yang kini menghidupkan kembali maritime silkroad seperti zaman Laksamana Cheng Ho. Harusnya kita juga bisa mencontoh orang-orang hebat negeri ini karena mereka punya konsep kita juga punya konsep,” tandasnya.

Berdasarkan pepatah terkenal seperti yang diungkapkan AT Mahan, siapa yang menguasai lautan maka dia akan menguasai dunia, maka Salim melihat posisi strategis Indonesia yang kerap menjadi ajang pertempuran, seperti yang baru-baru ini yaitu konflik Laut China Selatan.

“Kalau kita belum punya doktrin maritim yang kemudian diturunkan dalam strategi maritim dan strategi pertahanan maritim akhirnya hanya menjadi penonton saja dan poros maritim dunia ini hanya akan jadi mimpi saja,” imbuhnya.

Menurutnya, para pakar di Indonesia sendiri masih meributkan istilah yang dipakai, seperti istilah ‘maritim, kelautan atau bahari’. Kemudian istilah poros maritim juga masih diributkan seperti istilah Global Maritime Axis atau Global Maritime Fulcure. Sehingga hal-hal tersebut tambah meruncingkan ego sektoral dan kemunduran maritim Indonesia meskipun presiden sudah menggaungkan poros maritim dunia ke segala penjuru.

Lebih lanjut, penulis buku Dzikir Daud dan Kodrat Maritim Nusantara itu mengungkapkan kalau kita belum memiliki konsep yang matang hingga doktrin dan strategi maritim akan tiba masanya kita dijajah kembali.

“Dulu kita membayar upeti kepada bangsa lain seperti Tiongkok dan Eropa, sekarang infrastruktur kita dibangunkan oleh bangsa lain lalu apa bedanya? Sama saja itu, bahkan jati diri kita pun saat ini hilang entah kemana,” kritiknya dengan tajam.

Belajar dari Sejarah

Padahal dalam membangun negara maritim yang besar tidak hanya membutuhkan piranti keras saja seperti infrastruktur dan teknologi. Tetapi piranti lunaknya yang berupa karakter juga harus dibangun. Salim menyampaikan Pancasila dan UUD 1945 tetap menjadi perangkat dalam membangun poros maritim dunia, jika ditinggalkan maka yang terjadi adalah poros maritim dunia semu.

“Saat ini UUD 1945 judah berubah, Pancasilanya juga entah kemana. Padahal dulu Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 bisa berjalan saat Dekrit Presiden tahun 1959 yang isinya kembali ke UUD 1945, sehingga munculah kemudian wawasan nusantara,” ulasnya.

Dengan berubahnya UUD 1945, yang menghilangkan fungsi MPR dan meniadakan GBHN, menurut analisisnya akan sulit membangun poros maritim dunia karena tidak ada cantolan yang kuat terhadap konsep maritim presiden. Sehingga dalam perjalanan poros maritim beserta 5 pilar pembangunannya tentu akan memiliki banyak hambatan.

Mengutip pernyataan Danseskoal Laksda TNI Herry Setianegara yang menyatakan kejayaan maritim Nusantara runtuh karena pengkhianatan, Salim juga mengimbau kepada seluruh Pasis Dikreg-54 agar menjadi perwira TNI AL yang baik dan penuh pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Pengabdian itu bukan kepada orang, tetapi instansi TNI AL dan negara, jadi jangan sampai kalian hanya mengharapkan pangkat, jabatan dan harta saja dalam bertugas, karena semua itu urusan Tuhan,” katanya.

Pembangunan Kekuatan TNI AL

Pembangunan Kekuatan TNI AL

Dalam memperjuangkan kemaritiman sebagai sebuah kebenaran, Pamen TNI AL berpangkat Melati Dua itu juga mengingatkan untuk penuh kesabaran dan keikhlasan karena betapa sulitnya memperjuangkan hal tersebut. Dia yakin ketika kita sudah berkomitmen untuk memperjuangkan tanah airnya, maka Tuhan akan menunjuki jalan dan memberi perlindungan.

Di akhir penyampaiannya, Salim juga memaparkan mengenai peranan TNI AL ke depan sebagai role model antara pembangunan keamanan dan strategi nasional.

“Strategi maritim yang kemudian menyangkut strategi keamanan maritim nasional memerlukan peranan TNI AL dan Coast Guard yang lebih dinamis lagi dalam menjaga perairan Indonesia. Seperti itu konsep pimpinan kita dalam membangun World Class Navy,” pungkasnya. (TAN)         

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com