Published On: Fri, Dec 22nd, 2017

Mitologi Sang Ibu Ratu Bahari yang Melegenda

Picture: Nyi Roro Kidul

MN – Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu guna mengenang peristiwa bersejarah yakni adanya kongres para ibu/wanita usai kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Para ibu/wanita dalam kongres 22 Desember 1928 tersebut, juga berikrar yang sama terhadap isi Sumpah Pemuda yang menandakan lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia.

Biasanya peringatan Hari Ibu selalu diaktualisasikan dengan mengucapkan selamat kepada para ibu dan perayaan atau seminar yang sarat dengan masalah ke-ibu-an di Indonesia. Namun dalam konteks kebaharian, di Indonesia khususnya masyarakat Jawa mengenal mitologi tentang penguasa Laut Selatan yang menguasai samudra atau yang biasa dikenal Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul.

Sosok yang melegenda itu memiliki nuansa magis dan penuh misteri dalam kehidupan masyarakat Jawa. Baik dalam sisi positif maupun negatif, sosok ini kerap dikaitkan dengan berbagai simbol yang melekat dalam perjalanan sejarah masyarakat Jawa.

Asal usul Nyi Roro Kidul

Dalam berbagai cerita rakyat terdapat berbagai versi soal legenda Nyi Roro Kidul. Bahkan setiap daerah memiliki kisah yang berbeda-beda dalam menceritakan asal usul ratu yang identik dengan warna hijau ini. Kisah yang paling santer diceritakan secara turun temurun soal nama asli Nyi Roro Kidul ialah Dewi Nawangwulan.

Dalam cerita rakyat Jawa Timur, Dewi Nawangwulan merupakan istri dari Jaka Tarub yang berasal dari langit alias bidadari. Nawangwulan tidak bisa kembali ke langit karena selendangnya dicuri oleh Jaka Tarub saat sedang mandi. Akhirnya Nawangwulan diperistri oleh Jaka Tarub hingga memiliki seorang anak. Namun karena suatu kejadian akhirnya Nawangwulan pergi meninggalkan Jaka Tarub. Kepergiannya itu akhirnya berujung di pantai selatan.

Kisah berikutnya ialah Biding Laut yang berasal dari Sumatera Utara. Biding Laut, seorang wanita yang berparas cantik saat dibuang oleh saudaranya, akhirnya ia memutuskan untuk berlayar ke Jawa. Di tanah Jawa, ia kemudian dipersunting oleh Raja Jawa. Karena dituduh selingkuh dengan punggawa kerajaan, Biding Laut akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Karena raja suda sangat cinta terhadap Biding Laut, ia tidak rela jika istri kesayangannya dihukum mati. Akhirnya bersama para punggawa kerajaannya, raja mengatur siasat untuk menyelamatkan Biding Laut dengan berlayar menggunakan perahu menyusuri pantai selatan. Alkisah, sesampainya di Laut Selatan, perahu yang membawa rombongan Biding Laut dihantam badai. Kemudian sosok Nyi Roro Kidul yang kerap muncul itu dipercaya sebagai arwah dari Biding Laut.

Ada juga yang menyebut, Nyi Roro Kidul merupakan Dyah Pitaloka, putri Kerajaan Sunda yang akan dipersunting oleh Raja Majapahit, Hyam Wuruk dalam kisah Perang Bubat. Karena siasat Gajah Mada, akhirnya Dyah Pitaloka tidak jadi dipersunting oleh Hyam Wuruk. Kemudian ia lari menuju ke pantai selatan dan menemui ajalnya di sana dan menjelma menjadi Nyi Roro Kidul.

Di daerah Sukabumi, Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai Putri Lara Kadita, seorang putri permaisuri raja yang terkena teluh ilmu hitam akibat ulah selir yang iri hati. Wajah Putri Lara Kadita menjadi buruk dan mengeluarkan bau. Akhirnya raja mengsirnya dari istana, Putri Lara Kadita selanjutnya pergi menuju Laut Selatan. Setelah mendapat bisikan untuk mencemplungkan diri ke laut, akhirnya wajah Putri Lara Kadita kembali cantik dan akhirnya ia menjelma menjadi Ratu Pantai Selatan.

Kisah lain yang sangat fenomenal tentunya yang menyebutkan Nyi Roro Kidul merupakan Ratu Bilqis, yang merupakan istri dari Nabi Sulaiman AS. Hal ini sejalan dengan kisah Nabi Sulaiman di tanah Jawa dalam membangun Borobudur. Namun ada versi lain bahwa Nyi Roro Kidul merupakan anak Ratu Bilqis yang bernama Dewi Aurora yang juga dikenal dalam mitologi Yunani sebagai Dewi Fajar.

Serentetan kisah mengenai asal usul Nyi Roro Kidul di atas tak lain hanya sebuah pemaknaan yang bisa kita tarik intisarinya sebagai pelajaran yang berharga dalam membangun kehidupan saat ini. Belanda memanfaatkan kisah-kisah itu untuk tujuan sebaliknya, yakni mengkerdilkan bangsa ini agar menjauhi laut.

Dihembuskan lah cerita turunannya, yakni sosok Nyi Blorong yang kerap meminta tumbal di Pantai Selatan. Sehingga banyak orang enggan pergi ke laut, apalagi mengelola lautan. Hingga saat ini mitologi Nyi Roro Kidul terus berkembang di tengah masyarakat kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya untuk kehidupan yang lebih konstruktif.

Nyi Roro Kidul dan Maritim

Kisah yang telah melegenda secara turun temurun itu jika kita cermati tentunya sarat dengan nilai-nilai dekonstruktif bahkan mengarah ke tahayul atau kemusyrikan. Sangat tidak dibenarkan kita menyembah selain dari pada Tuhan YME dengan memuja apalagi menyembah Ratu Pantai Selatan.

Kisah Raja Jawa bernama Sutawijaya ketika ingin membangun Kerajaan Mataram, ia telah membuat perjanjian terlebih dahulu dengan Nyi Roro Kidul dan kemudian menikahinya. Hal itu tentu bisa kita lihat secara multi makna. Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati itu memiliki keturunan yang tentunya merupakan hasil perkawinannya dengan manusia juga, bukan dengan Nyi Roro Kidul.

Cerita rakyat yang berkembang, putra Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul ialah Raden Ronggo yang memiliki kesaktian luar biasa. Namun dalam sejarah tertulis, tokoh itu tidak pernah ada. Tradisi perkawinan dengan Ratu Pantai Selatan itu terus dilakukan oleh keturunan Panembahan Senopati hingga Sultan Hamengkubuwono IX.

Tak hanya itu, Presiden RI pertama, Bung Karno juga disebut-sebut pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Panembahan Senopati dahulu. Kamar Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu, disebut sebagai tempat pertemuan antara Bung Karno dengan Nyi Roro Kidul.

Terlepas dari kisah itu semua, Kolonel Laut (P) Salim dalam buku Kodrat Maritim Nusantara berpandangan bahwa kisah itu hanya menggambarkan seorang pemimpin tidak boleh mengingkari laut. Atau bahasa Presiden Joko Widodo saat ini tidak boleh memunggungi laut. Jadi dengan istilah ‘mengawini/menikahi’ Nyi Roro Kidul, pemimpin memiliki komitmen yang tinggi untuk mengelola lautan.

Sejatinya orang Indonesia memang senang dengan penganalogian atau sanepo (Bahasa Jawa-red) dalam memberikan suatu pelajaran buat rakyatnya. Orang seperti Bung Karno pun berpandangan untuk membina rakyat agar ‘melek’ maritim perlu menggunakan dialektika yang mudah dimengerti dan dipahami oleh rakyat itu sendiri.

Inti dari pengangkatan sosok Nyi Roro Kidul, Sang Ratu Bahari dalam peringatan Hari Ibu ini ialah agar bangsa Indonesia terpatri jiwa bahari dalam sanubarinya. Sehingga kelak ketika melahirkan seorang pemimpin, maka tentunya pemimpin yang berjiwa bahari, Indonesian Ocean Leadership. Selamat Hari Ibu, Jalesveva Jayamahe!

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha