Published On: Fri, Apr 21st, 2017

Nuning Kertopati, Kartini Intelijen Maritim

Pengamat Intelijen Susaningtyas NH Kertopati

MNOL, Jakarta – Sosoknya yang anggun dan kritis dalam berbagai hal membuat wanita kelahiran Jakarta, 30 Agustus 1964 ini menjadi figur Kartini masa kini di bidang intelijen dan pertahanan Indonesia. Dalam nuansa memperingati Hari Kartini 21 April 2017, tak lengkap rasanya jika ia tidak dikaitkan dalam perjalanan mewujudkan Poros Maritim Dunia, visi pemerintah saat ini.

Wanita yang memiliki nama lengkap Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati ini merupakan pengamat intelijen dan pertahanan sekaligus pengajar di beberapa Perguruan Tinggi. Kendati menjadi pengamat intelijen dan pertahanan dalam konteks luas, namun bidang maritim tetap menjadi fokusnya sejak menjadi Anggota Komisi I DPR RI periode 2009–2014.

Menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Hanura, Nuning biasa akrab disapa termasuk anggota yang kritis dalam menyuarakan pemutakhiran alutsita pertahanan laut dalam konsep Minimum Essensial Force (MEF) saat itu. Usai menjadi Anggota DPR RI, aktivitasnya sebagai Dosen Intelijen Maritim di Universitas Pertahanan (Unhan) dan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) kerap mengisi hari-harinya.

Tidak jarang pula, wanita yang juga menjadi Anggota DPR RI periode 1999-2004 dari Fraksi PDI-Perjuangan ini muncul di layar kaca dalam mengulas fenomena yang berkaitan dengan bidangnya.

Pada Hari Kartini ini ia menuturkan bahwa perjuangan RA Kartini di masanya merupakan inspirasi bagi setiap wanita Indonesia yang ingin mendarma baktikan hidupnya untuk kemajuan bangsa dan negara.

“Mari kita maknai peringatan perjuangan RA Kartini tidak hanya sekadar emansipasi wanita. Kita perlu membuktikan sebagai sosok tangguh yang mampu tegar dalam hadapi setiap masalah,” ujar Nuning.

Ia pun mengajak kepada seluruh wanita Indonesia untuk aktif dalam rangka mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terlepas apa pun profesinya. “jadilah yang berkwalitas dalam profesinya,” tandasnya.

Saat ini, Nuning sudah membuktikan dalam profesinya untuk menjadi yang berkwalitas dalam memajukan bangsa dan negara.

Pemerhati Intelijen Maritim

Di era Pemerintahan Jokowi–JK dengan visi maritimnya, istilah ‘intelijen maritim’ kian popular baik dalam tataran akademis maupun praktis. Di Unhan, intelijen maritim menjadi salah satu mata kuliah di Prodi Keamanan Maritim, di mana dirinya menjadi dosen di sana.

Kepada redaksi maritimnews, ia menyampaikan pentingnya Network Centric Warfaware (NCW) dalam ranah intelijen maritim. NCW yang dikenal juga sebagai Technical Inteligent merupakan metode pengumpulan informasi melalui penggunaan teknologi untuk menghasikan current intelligence/real-time intelligence dalam model keamanan maritim.

Metode itu telah diterapkan di negara-negara maju yang memiliki orientasi maritim seperti Inggris dan AS. Metode ini mengisyaratkan adanya sistem teknologi berbasis IT mutakhir yang terintegrasi serta dapat dioperasikan secara  bersama-sama (interoperability) dalam bentuk Joint Task Force Command,” jelasnya.

Hal itu, tentunya masih menjadi PR bersama di Indonesia. Dengan lautannya yang luas dan terletak di jalur strategis, Indonesia masih ketinggalan dalam hal teknologi dan maraknya ego sektoral antar lembaga intelijen.

“Kita juga masih abai terhadap pentingnya “Man Behind The Gun” yang selama ini menjadi potensi Indonesia. Terbukti dari berbagai prestasi militer Indonesia di dunia internasional karena adanya faktor itu,” pungkasnya mengakhiri.

(Adit/MN)

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha