Published On: Fri, Aug 11th, 2017

Panggilan Moral Pelaut Senior untuk Benahi Kisruh di KPI

Kantor KPI di Jakarta

MN, Jakarta – Melihat kekisruhan yang terjadi pada organisasi yang menjadi wadah SDM utama dalam pembangunan Poros Maritim Dunia yakni Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) akibat dualisme, kegagalan kongres dan sebagainya, Pelaut Senior pada 6 Oktober 2015 melayangkan Petisi Pelaut Indonesia kepada pihak Pemerintah.

Petisi itu menuntut kepada Kementerian Perhubungan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Ditjen (Ditjen Hubla) untuk memfasilitasi Kongres Luar Biasa (KLB) KPI. Karena Pelaut Senior menganggap, KLB KPI merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kekisruhan di organisasi kepelautan terbesar di Indonesia itu.

Juru Bicara Pelaut Senior Teddy Syamsuri menuturkan saat Ketua Pimpinan Sidang Kongres VII KPI tahun 2009 John Kadiaman, Wakil Presiden KPI periode 2004-2009 Hanneman Suria dan Ketua Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) Andri Yani Sanusi sowan ke Posko Pelaut Senior di Jl. Raya Jatinegara Timur No. 61-65 Balimester, Jatinegara, Jakarta Timur, mereka menyodorkan Kongres KPI VII lanjutan.

“Pelaut Senior pada komunitasnya tetap sepakat untuk menggunakan asas kolektif kolegial, maka sikap Pelaut Senior dalam menjawab penyodoran Kongres VII KPI Lanjutan baik oleh John, Hanneman maupun Andri, hanya cukup dengan jawaban wait and see,” kata Teddy.

Teddy mengungkapkan hal itu mengingat Pelaut Senior, merupakan kumpulan pelaut yang sudah pada purna layar dan kerjaan sehari-harinya banyak tersita untuk mengurus cucu. Namun, tetap merasa sebagai pihak yang dituntut oleh panggilan hati nurani atas kewajiban dan tanggung jawab moralnya untuk bisa menyelamatkan organisasi KPI yang pada dimensi kekinian dalam kondisi kerusakan terstruktur dan massif.

Terlebih setelah Hanafi Rustandi yang jabatan akhirnya selaku Penasehat KPI meninggal dunia belakangan ini. Sudah barang tentu, perjuangan yang dilakukan Pelaut Senior dengan sebatas kemampuan yang ada.

“Meski demikian perjuangan ini terus mengalir sebelum masuk ke liang kubur. Banyak celaan yang mengatakan Pelaut Senior hanya bisanya berkoar-koar belaka, hanya pintarnya mengedepankan wacana semata. Tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak saling menyakiti,” seloroh Teddy.

Sambungnya, sudah menjadi konsekuensi logis jika ada yang mencela atau mungkin yang membencinya. Ia tahu persis, uang organisasi yang milyaran mudah dijadikan ATM,  yang setiap saat bisa digosoknya untuk melanggengkan bangunan KKN di organisasi itu.

“Pelaut Senior merasakan itu. Kematian Bung Frans Manderos usai rapat di Posko Jatinegara, adalah bukti jika kematiannya disebabkan setelah membaca pesan singkat (sms) dari oknum PP KPI Cikini,

Menyusul kemudian, tepat aksi pertama PPI, lima orang Pelaut Senior baru saja memenuhi panggilan Polres Metro Jakarta Pusat atas adanya laporan pencemaran nama baik dari Mathias Tambing. Dasarnya hanya karena ada edaran di akun facebook Pelaut Senior yang menulis dugaan banyaknya aset organisasi KPI raib dan Mathias cs merasa terusik.

Pelaut Senior dalam berjuang agar organisasi KPI ada perubahan terbukti sudah memakan korban dan sudah pernah berhubungan dengan urusan polisi. Padahal komitmen Pelaut Senior jelas, tidak akan menjadi pengurus PP KPI jika KLB KPI pun bisa digelar.

“Sekalipun banyak para pelaut medesak dan memintanya untuk ngurus KPI, sekali lagi dan mohon maaf, tetap Pelaut Senior akan tolak. Prinsipnya Pelaut Senior sangat mendambakan organisasi KPI profesional dan berada di kepengurusan generasi penerusnya. Hanya itu, titik,” tegasnya.

Sejauh ini, Pelaut Senior akan melakukan kunjungan silaturahmi kepada para pihak yang dinilai harus ikut bertanggungjawab atas kerusakan organisasi KPI di bawah kekuasaan Mathias dan Sonny Pattiselano pada dimensi kekinian akibat adanya pembiaran dari para pihak tersebut. Salah satunya akan bersilaturahmi dengan Capt Agus Susanto, Manager PT Jasindo Crewing Agent.

“Tiba-tiba kami mendengar ada Surat Somasi yang dikirim John kepada Mathias dan Hasudungan yang baru dikirimkan pada tanggal 8 Agustus 2017,” ungkapnya lagi.

Tentu sangat menarik bagi Pelaut Senior karena inti isi somasinya adalah: Meminta Mathias dan Hasudungan mengosongkan kantor KPI Pusat di Cikini; Menuntut pertanggungjawaban asset organisasi KPI sepanjang Mathias menjadi Sekjen; dan Jika tidak diindahkan akan dilakukan tindakan hukum.

Menurut hemat Pelaut Senior, ini terobosan luar biasa dan patut disampaikan rasa salut kepada John Kadiaman. Mereka berharap agar KPI ke depan dapat menjadi andalan pelaut Indonesia dalam memperjuangkan nasibnya.

“Semoga saja perjuangan John mensomasi bisa terpatuhi oleh tersomasi Mathias dan Hasudungan. Dengan demikian KLB KPI sudah bisa disebut berada di depan mata. Artinya bukan Kongres VII KPI Lanjutan di samping karena sudah ada Kongres VIII KPI juga disesuaikan dengan rilis John sendiri di sebuah media online soal tuntutan KLB KPI karena Kongres VII KPI terjadi deadlock beberapa tahun lalu,” harap Teddy.

Pelaut Senior senantiasa berdoa semoga saja berhasil dan bisa merubah kerusakan organisasi KPI yang salah urus sejak tahun 2001 oleh PP KPI yang saat ini tertinggal. Hanya Hasudungan yang merupakan orang kapal atau pelaut.

“Selebihnya seperti Mathias dan Sonny, konon menurut Bung Hanneman Suria sendiri bukanlah pelaut,” pungkasnya.

 

(Adit/MN)

 

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha