Published On: Mon, Feb 19th, 2018

Peperangan Litoral: Perang di Laut atau Perang dari Laut?

Ilustrasi

Oleh: Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS

Abstrak

Littoral Warfare adalah aspek peperangan yang semakin kompleks dan menantang dalam peperangan maritim. Negara-negara yang berteknologi maju seperti US, Swedia, dan Singapura terus mengembangkan strategi peperangan litoral (pesisir) dengan membangun kapal-kapal yang lebih efektif dalam bertempur di perairan litoral. Karena wilayah operasi bertempur angkatan laut bergeser dari operasi perairan laut dalam ke perairan litoral, evaluasi taktik peperangan pesisir saat ini mungkin diperlukan. Artikel ini menganalisis relevansi pengertian litoral, perbedaan yang mendasar dalam operasi antara area perairan dalam dan pesisir, teknologi perubahan yang digunakan pada kapal perang dan taktik peperangan pesisir saat ini yang digunakan oleh angkatan laut. Penulis membahas pengertian peperangan litoral itu sebagai “perang di laut”. Dengan memahami perubahan mendasar yang terjadi di dalam teater operasi, artikel ini diakhiri dengan rekomendasi agar evaluasi ulang taktik saat ini harus dilakukan untuk memastikan penggunaan aset yang paling efisien untuk tugas peperangan litoral.

Introduksi

Kembalinya mindset kita akan kemaritiman Indonesia mewajibkan TNI Angkatan Laut harus lebih siap untuk berperang di daerah pesisir daripada masa sebelumnya. Pengembangan jenis senjata dan taktik harus mengikuti untuk memproyeksikan kekuatan di perairan litoral. Ancaman yang dihadapi pun sudah berubah baik secara dimensi dan karakter. Kita tidak lagi menghadapi ancaman yang terdefinisi dengan baik di lautan terbuka. Namun sebagai gantinya kita menghadapi ancaman yang tidak jelas di perairan sempit yang dangkal, terutama di daerah kepulauan. Hal ini berarti bahwa senjata, taktik, dan prioritas perlu diubah untuk fokus pada tantangan yang dihadapi dalam peperangan pesisir atau dalam bahasa militer adalah peperangan litoral. Perubahan ini perlu dirancang dengan baik karena daripada mengedepankan berperang di laut terbuka, Angkatan Laut harus mampu untuk bertempur di perairan dangkal dan terbatas melawan musuh yang tidak jelas. Angkatan Laut harus memperbaiki atau memperbaiki kemampuan pendukung pada peperangan anti udara (PAU), anti kapal selam (AKS), anti kapal permukaan (AKPA), anti ranjau (PR) dan sistem persenjataan yang sesuai.

Secara mendasar, “Perang-di-laut”, baik di daerah pesisir atau di perairan dalam yang terbuka, pasti terjadi baik secara mandiri maupun bersamaan dalam tiga dimensi peperangan : Anti Air Warfare/ Peperangan Anti Udara,  Anti Submarine Warfare/Peperangan Anti Kapal Selam, dan Anti Surface Warfare / Peperangan Anti Kapal Permukaan. Peperangan di ketiga dimensi ini akan sangat berbeda secara signifikan jika terjadi antara di laut dalam dan lingkungan pesisir.

 “Perang-di-Laut” Anti Udara

Pada “perang di laut” di taktik peperangan anti udara di lingkungan laut yang terbuka, menentukan suatu kontak udara pada umumnya tidak terlalu sulit. Arena ini mudah digunakan untuk mendeteksi, mengidentifikasi, mengklasifikasi, memverifikasi, dan menargetkan kontak musuh. Sebuah kapal kelas frigat yang mempunyai radar udara canggih, akan sangat mudah mengidentifikasi dan mengklasifikasi kontak-kontak udara di perairan terbuka dan ruang udara yang luas. Kapal tipe Penjelajah (Cruiser) anti udara yang dilengkapi rudal anti udara jarak menengah dan jarak jauh, sekelas Ticonderoqa milik US Navy, adalah merupakan unsur utama dalam pertahanan anti udara suatu konvoi gugus tugas. Kapal tersebut memang dirancang untuk berlayar dan bertempur di tengah arena pertempuran sebagai payung perlindungan terhadap kapal High Value Unit (HVU) yang didukung oleh radar udara canggih jenis SPY-1. Radar ini mampu menangkap ratusan kontak secara bersamaan. Kemampuan ini sangat ideal jika digunakan di laut terbuka, karena sangat mudah membedakan identifikasi kontak udara, antara pesawat teman maupun musuh. Pesawat kawan yang memancarkan IFF akan memungkinkan diidentifikasi dan menampilkannya di layar radar. Sementara pesawat musuh, sistem IFF yang tidak unik dan ketidaksamaan kodenya, akan mudah diidentifikasi dengan jelas.

Sebaliknya, di laut pesisir, tidak hanya ada pesawat teman dan pesawat musuh yang akan terdeteksi, tapi juga ada pesawat sipil yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai jenis, baik rotary maupun fixed-wing. Radar SPY-1 tidak bisa membedakan antara pesawat militer musuh dan sipil, karena kode IFF yang disetel memang tidak ada kesamaan dengan kode IFF sebagai unsur kawan. Itu berarti bahwa faktor manusia sebagai operator radar harus mampu untuk mengevaluasi ratusan kontak dalam sehari dan sekaligus membedakan antara pesawat musuh dan pesawat sipil hanya dengan menganalisa profil penerbangan dan tingkah laku mereka di radar.

Pada saat dalam pertempuran yang sedang berlangsung sengit, operator IFF dan radar mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk menentukan identifikasi kontak secara positif. Sebagai contoh sebuah insiden di mana sebuah pesawat udara sipil secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh rudal militer adalah insiden jatuhnya pesawat sipil Airbus Iran Air ditembak oleh rudal permukaan ke udara jenis Standard Missile Block 2 Medium Range dari USS Vincennes di perairan litoral Iran.

Peta Iran

Iran Air Flight 655 adalah penerbangan pesawat udara sipil yang dijadwalkan dari Teheran ke Dubai. Pada tanggal 3 Juli 1988, pesawat yang beroperasi pada rute ini ditembak jatuh oleh kapal penjelajah (Cruiser) berpeluru kendali AL Amerika Serikat USS Vincennes. Insiden tersebut terjadi di wilayah udara Iran, di perairan teritorial Iran di Teluk Persia, dan di jalur penerbangan penerbangan yang normal. Pesawat dengan tipe Airbus A300 B2-203, dihancurkan oleh rudal permukaan-ke-udara SM-2MR yang ditembakkan dari USS Vincennes. Semua penumpang sejumlah 290 orang meninggal.[1] Dalam kecelakaan ini, kapal penjelajah USS Vincennes bermanuver untuk memasuki perairan teritorial Iran sebagai respons setelah salah satu helikopter USS Vincennes mendapatkan peringatan ancaman dari kapal cepat Iran yang beroperasi di dalam batas wilayah pesisir Iran.[2]

Menurut pemerintah Amerika Serikat, awak kapal Vincennes salah dalam mengidentifikasi Airbus A300 Iran yaitu sebagai pesawat tempur Tomcat F-14A yang akan menyerang. Situasinya adalah kru Pusat Informasi Tempur (PIT) Vincennes dalam kondisi peran tempur untuk antisipasi serangan F-14 Iran yang akan datang datang dari daratan Iran. Laporan intelijen memberikan informasi bahwa pesawat F14 Iran dilengkapi dengan bom serta rudal Maverick.[3] Dilaporkan bahwa Kru Vincennes telah berusaha untuk menghubungi awak pesawat tersebut pada frekuensi radio militer dan sipil, namun tidak mendapat tanggapan.[4] Pihak Organisasi Penerbangan Sipil Internasional mengatakan bahwa awak pesawat seharusnya memantau frekuensi sipil.

Sebaliknya menurut pemerintah Iran, Vincennes dengan lalai menembak jatuh pesawat sipil tersebut: pesawat tersebut membuat kode IFF dalam Mode III dan IIIA (bukan Mode II yang digunakan oleh pesawat militer Iran), sebuah sinyal yang mengidentifikasinya sebagai pesawat sipil.[5] Kasus ini menunjukkan bahwa tingkat kesulitan yang sangat tinggi dalam mengevaluasi dan mengidentifikasi target di lingkungan pesisir walaupun dengan kecanggihan teknologi sensor yang dimiliki.

Upaya peningkatan kecanggihan dan pengadaan radar udara baru yang lebih baik dari radar SPY-1 bukan menjadi solusi yang tepat. Anggaran pengadaan alut sista militer yang terbatas menjadikannya upaya tersebut menjadi tidak dapat ditingkatkan secara tepat, karena harga radar berteknologi terbaru yang sangat mahal. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah harus ada perintah dan kontrol yang lebih jelas dari para pengambil keputusan sebelum berperang.

Sebelum angkatan laut beroperasi dan bertempur di wilayah perairan manapun, seorang pemimpin atau panglima angkatan laut harus secara jelas mengumumkan kepada masyarakat internasional bahwa pertempuran kemungkinan terjadi dan pesawat terbang sipil harus menghindari daerah tersebut. Pengumuman ini yang disebut Notice To Mariner (NOTAM). Di lain sisi, pengumuman ini tidak akan menghalangi angkatan laut melancarkan serangan mendadak atau meluncurkan rudal tanpa peringatan karena bisa dilaksanakan setelah pengumuman disampaikan.

USS Independence

Pada tingkat taktis, kapal-kapal yang terlibat dalam pertempuran harus mengoordinasikan aksi dan serangan mereka terhadap ancaman udara yang ditangkap oleh radar. Koordinasi ini bisa mencakup penyebutan klasifikasi target oleh lebih dari satu unsur atau mendapatkan visual pada target sebelum melaksanakan penyerangan. Tahap pembentukan gambaran peperangan harus jelas, cepat dan seluruh kontak teridentifikasi secara positif.

Bahkan dengan semua tindakan komando dan kontrol terbaik, akan tiba saatnya pada saat satu unsur kapal perang yang memiliki sasaran di radar dan tidak ada memiliki pesawat terbang kawan sebagai Target Reporting Unit (TRU) untuk digunakan sebagai platform visual, dimana solusinya jatuh tepat di tangan komandan kapal. Komandan kapal harus membuat aksi terbaiknya guna melindungi kapalnya. Beroperasi di lingkungan litoral yang rawan adalah misi yang sangat berbahaya; karena pada situasi dimana aturan pelibatan diterapkan, secara sederhana, Komandan harus beraksi cepat dalam menerapkan hak untuk membela diri di perairan litoral.

“Perang-di-Laut” Anti Kapal Selam

Taktik peperangan anti kapal selam di zona litoral saat ini adalah tidak sesuai dengan kebanyakan sistem persenjataan dan alut sista yang dimiliki angkatan laut saat ini. US Navy sebagai kiblat kekuatan angkatan laut terbesar, menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan saat ini pertama kali dirancang untuk beroperasi di perairan laut dalam melawan kapal selam bertenaga nuklir Soviet. Sementara, di daerah pantai, peperangan anti kapal selam dilakukan di perairan dangkal melawan kapal selam diesel/listrik. Perbedaannya secara signifikan karena dua alasan.

Pertama, kapal selam diesel/listrik hampir tidak mungkin dideteksi dengan sonar pasif saat menyelam yang hanya menggunakan daya baterai. Sementara, kapal selam nuklir saat menyelam relatif menimbulkan suara akustik yang lebih bising dan seringkali dapat dideteksi pada jarak yang jauh di laut terbuka. Kesulitan dalam mendeteksi kapal selam diesel/listrik berarti bahwa kapal atas air harus menggunakan sonar aktif untuk mendapat kesempatan yang kuat dalam mendeteksinya. Di pihak lain, kapal selam dapat mendengar ping sonar aktif secara konstan pada jarak yang cukup jauh sehingga kapal selam dapat dengan mudah berada di luar jangkauan deteksi sonar aktif tersebut.

Kedua, di masa depan adalah sangat tidak mungkin bahwa satu negara akan beroperasi secara sendiri melawan musuh yang kemungkinan akan mengoperasikan kapal selam yang sama kelas. Sesuai dengan filosofi peperangan AKS dan prinsip-prinsip perang tentang “Fog of War”, bahwa menemukan kapal selam diesel elektrik yang beroperasi di bawah air selama masa perang akan sangat sulit.

Kapal Selam Litoral

Tidak seperti masalah dalam peperangan anti udara yang harus ditangani melalui perubahan prosedural, untuk anti kapal selam harus dipecahkan dengan perubahan teknologi serta perubahan taktik. Masalah dengan deteksi dan klasifikasi kapal selam diesel/listrik memerlukan pengembangan sensor baru, baik akustik maupun non-akustik, dan pengembangan prosedur yang memungkinkan untuk mengintegrasikan kapal selam kawan ke dalam gugus tugas anti kapal selam. Gugus tugas AKS harus mengintegrasikan kapal selam, kapal permukaan AKS dan kapal ranjau ke dalam gugus tugas ini.

John F. Morton menulis untuk majalah Naval Institute “Proceedings” dengan jelas menyatakan tantangan AKS di masa depan adalah sebagai berikut: Angkatan Laut percaya bahwa skenario AKS regional yang paling mungkin akan terjadi dalam periode pra-konflik yang berkepanjangan dan akan melibatkan kapal selam diesel. Jika demikian, peperangan AKS yang ideal akan dimulai dengan penyebaran secara cepat aset pengamatan yang canggih, kapal selam nuklir dan pesawat patroli maritim (inipun belum dikalkulasi jika ada ancaman udara) serta diikuti oleh kapal permukaan yang memiliki Towed Array Sonar (TAS) di Look Zone dan Reaction Zone.

Aset AKS dan gugus tempur bergerak bersama, kemudian akan memulai operasi pembersihan area di daerah operasi pantai. Begitu mereka memiliki pengendalian laut, gugus tempur laut bisa melanjutkan dengan operasi blokade dan pendaratan amfibi. Jika terjadi masa pra-permusuhan yang singkat, komandan harus memiliki taktik yang inovatif. Sebagai contoh, beberapa kapal perang AKS akan dilengkapi dengan dua helikopter dengan dipping sonar, baik yang diterbangkan dari kapal sendiri maupun dari darat.

Meningkatnya jumlah helikopter AKS dalam gugus tempur, seperti yang diungkapkan dalam artikel Morton tersebut akan membutuhkan anggaran yang signifikan. Helikopter operasi sebagai platform penting dalam pencarian AKS sebagai bagian dari taktik inovatif adalah sebuah konsep yang menarik namun pemahaman tentang bagaimana penggunaan helikopter AKS dalam pertempuran harus sudah matang. Helikopter AKS telah digunakan sebagai unsur AKS reaktif yang memiliki mobilitas dan kecepatan aksi, yaitu dalam menanggapi kontak sonar yang didapat oleh sensor lain dalam gugus tempur. Helikopter tersebut akan diluncurkan dan beroperasi di area aksi (Scene of Action). Begitu berada di area tersebut, helikopter mengoperasikan sonar celup (dipping sonar) dengan harapan bisa mendapatkan sebanyak mungkin peluang mendapatkan kontak kapal selam.

Setelah kontak diperoleh, helikopter akan mulai memperbarui kontak untuk mencapai kriteria penyerangan dengan torpedo. Dalam area interoperabilits, sistem datalink adalah komunikasi data antara helikopter dan kapal pengontrolnya. Link data adalah sistem pengarah dengan “pensil-beam” yang berarti bahwa kapal hanya bisa terhubung dengan satu helikopter. Mengoperasikan heli AKS tanpa informasi datalink secara signifikan akan menurunkan kemampuannya untuk memproses data akustik yang diterimanya dari sonar celupnya.

“Perang di Laut” Anti kapal permukaan

Pertarungan terakhir “perang-di-laut” adalah peperangan anti kapal permukaan, dimana peperangan ini juga sangat terpengaruh di daerah pesisir. Seperti dua peperangan sebelumnya, masalah berkisar pada cara mendeteksi dan/atau mengidentifikasi ancaman pada saat peran tempur. Perairan di daerah pesisir bisa sangat padat. Rudal anti kapal utama milik angkatan laut adalah rudal Exocet, meski memiliki sistem panduan yang canggih, namun tidak dapat memilih kontak musuh dari beberapa kontak yang ada, termasuk tidak dapat membedakan kapal besar dan kapal kecil yang memiliki pertahanan diri. Dengan menugaskan pesawat jet tempur dalam melawan kapal kecil adalah menunjukkan penurunan misi utama terhadap kemampuan utama mereka sehingga berdampak negatif pada keseluruhan operasi. Satu-satunya senjata yang tersedia adalah helikopter bersenjata. Sayangnya, satu-satunya rudal yang kompatibel dengan helikopter di inventaris angkatan laut kita, rudal Strell/AL1M, yang memiliki jarak dekat, sehingga helikopter harus beroperasi dalam jarang jangkau senjata kapal musuh untuk meluncurkannya.

Solusi untuk masalah anti kapal permukaan adalah teknologi. Pembaruan rudal Exocet harus dilakukan. Penggunaan data link antara rudal dan kapal penembak memungkinkan operator untuk menetapkan target yang paling tepat. Secara taktik, rudal anti kapal jarak jauh lebih dari lima belas mil laut adalah sangat cocok untuk menggantikan Strella. Selain itu, serangan terkoordinasi yang memungkinkan beberapa peluncuran secara simultan dari beberapa helikopter dari arah yang berbeda dari target harus dikembangkan.

Vassel milik AL

Pertempuran di daerah pesisir juga mencakup perluasan pengaruh angkatan laut ke daratan (“Perang-dari-laut”). Cara paling penting untuk melakukannya adalah melalui operasi amfibi. Sayangnya, Angkatan Laut tidak lagi memiliki jenis kapal yang tepat dengan daya tembak yang cukup untuk mendukung serangan amfibi secara memadai. Dua aspek penting dari serbuan amfibi adalah penyerangan pesawat pembom melalui serangan udara langsung (SUL) terhadap daerah pendaratan yang dimaksud dan bantuan tembakan kapal (BTK) selama penyerangan tersebut.

Bantuan tembakan kapal tidak semudah yang terlihat. Gagasan untuk menggunakan meriam berkaliber besar 120 mm, namun kondisi material kapal berusia lebih tiga puluh tahun membuat gagasan itu tidak efektif, karena sistem pengendalian senjata yang keakuratannya berkurang. Biaya untuk memperbaiki sistem akan sangat mahal. Sementara kapal-kapal baru hanya memiliki meriam 76 mm dengan efek penggentarnya tidak sebesar 120 mm. Sistem saluran penembakan meriam yang canggih di kapal-kapal baru, kelas Sigma dan PKR 10514, cukup membantu dalam keakuratan bantuan tembakan kapal dalam operasi pendaratan amfibi.

“Perang di laut” dalam peperangan ranjau

Manuver dari laut (“Perang-dari-laut”) menyiratkan bahwa angkatan laut tidak hanya beroperasi di lepas pantai tapi juga berarti memproyeksikan kemampuan ke darat. Angkatan Laut berpengalaman dalam penggunaan pesawat angkatan laut untuk memproyeksikan kekuatan, namun terlanjur mempunyai perspektif hanya melalui serangan amfibi. Salah satu aspek operasi amfibi yang kurang mendapatkan perhatian adalah peperangan anti ranjau. Pengembangan doktrin operasi amfibi saat ini kurang membahas tentang peperangan anti ranjau. Di lain pihak, taktik peperangan ranjau ini pun juga telah usang, walaupun terdapat perkembangan teknologi peperangan yang mendukungnya.

Operasi pembersihan ranjau menghadirkan tantangan di arena teknologi dan taktis. Penambahan dan peningkatan jumlah kapal penyapu ranjau tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah ranjau. Peningkatan pengumpulan data intelijen juga diperlukan. Peperangan ranjau telah menjadi ancaman yang jauh lebih serius bagi Angkatan Laut karena dua alasan. Pertama, ranjau angkatan laut yang digunakan saat ini jauh lebih canggih daripada yang digunakan di masa lalu. Kedua, korban kapal akibat ranjau tidak dapat diterima baik secara politis maupun kapal penyebar ranjau juga tidak dapat diterima baik secara politik maupun operasional. Sebuah tinjauan terhadap operasi amfibi utama dalam Perang Dunia Kedua menunjukkan bahwa ranjau tidak efektif sebagai efek penggentar dan penghalang untuk operasi amfibi. Alasannya yang jelas untuk ini tampaknya hanya berdasarkan jumlah korban saja. Di perang tersebut, kekuatan amfibi AS pada umumnya cukup besar dan pasukannya tersebar di antara kapal-kapal yang banyak, sehingga beberapa kapal yang tenggelam oleh ranjau tidak menghentikan serangan amfibi tersebut.

Kesimpulan

Berkembangnya jenis ancaman di laut di masa depan, menjadi akan semakin sulit bagi angkatan laut untuk mendapatkan dominasi di area pertempuran di zona littoral. Agar Angkatan Laut dapat mempertahankan supremasinya di laut, kepemimpinan nasional harus membuat komitmen untuk mendukung jenis sistem persenjataan yang diperlukan untuk memproyeksikan dan mempertahankan kekuatan “di-laut” dan “dari-laut”, terutama dalam peperangan litoral. Kekuatan angkatan laut harus memiliki kombinasi antara penyerangan terhadap musuh, waktu mobilisasi yang cukup, kerja sama dengan kekuatan udara, dan medan yang menguntungkan. Angkatan laut perlu mempertahankan serangkaian kekuatan modern yang beragam, yang dapat berfungsi dalam kondisi yang lebih menuntut daripada yang mereka hadapi dalam “perang di laut” dalam.

 

Daftar Pustaka

Washington Post, 4 Juli 1988. Dapat diakses di http://www.washingtonpost.com/wp-srv/inatl/longterm/flight801/stories/july88crash.htm

The New York Times, 18 November 1988. Dapat diakses di http://www.nytimes.com/1988/11/18/opinion/witness-to-iran-flight-655.html?pagewanted=all&src=pm

History.com, Military Blunders : Iran Airliner Shot Down, 3 Juli 1988. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20070518142130/http://www.history.com/minisite.do?content_type=Minisite_Generic&content_type_id=1271&display_order=3&mini_id=1278

Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php

Naval Science 302 : Navigation and Naval Operations II. Case Study on USS Vincennes. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20060527221409/http://dolphin.upenn.edu/~nrotc/ns302/20note.html

Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77

Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039.

Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.

 

[1] Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77.

[2] Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

[3] The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039

[4] Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.

[5] Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com