Published On: Mon, May 22nd, 2017

Perjuangkan Nasib Pelaut, PPI Serukan Aksi Besar-besaran Pasca Lebaran

Ketua Umum PPI, Andri Yani Sanusi

MNOL, Jakarta – Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) terus komitmen memperjuangkan nasib pelaut di Indonesia. Hal itu mengingat masih banyak pelaut Indonesia yang memiliki standar hidup jauh dibawah rata-rata baik standar yang ditetapkan oleh International Labour Organization (ILO) maupun oleh International Maritime Organization (IMO).

Ketua Umum PPI Andri Yani Sanusi menyatakan himbauan kepada seluruh pelaut Indonesia untuk menuntut kepada negara agar mewajibkan sertifikat pelaut standar IMO dalam Amandemen Seafarers’ Training, Certification and Watchkeeping (STCW) 2010.

Padahal Indonesia juga sudah meratifikasi MLC 2006 yang isinya memuat tentang hak dan kewajiban pelaut. Menurut Andri, selama ini pihaknya telah berusaha untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh aturan tersebut seperti mengikuti STCW 2010. Namun hal yang sama juga perlu dilakukan oleh perusahaan dalam menaikan upah pelaut.

“Jadi jangan pelautnya saja yang ditekan dan diwajibkan, bagaimana dengan perusahaan pelayaran? Kita tunggu batasnya hingga 1 Juli 2017 semua pelaut wajib mengikuti STCW 2010 dan apakah perusahaan diwajibkan juga untuk mengikuti standar IMO? Ini yang harus kita perjuangkan,” tandasnya.

Andri yang dikenal kritis tersebut memberi signal bila ketentuan itu juga masih belum dilalakukan oleh perusahaan pelayaran dan negara tidak memberi jaminan, maka pihaknya akan mengadakan aksi pelaut secara besar-besaran dan serentak di beberapa daerah.

“Kalau ternyata perusahaan masih banyak yang memberi upah ke pelaut seenak perutnya, menurunkan dan memecat pelaut sesuka hatinya, kita turun ke jalan besar-besaran sehabis Lebaran di seluruh kota yang ada DPD dan DPW PPI,” tegasnya.

Apalagi dalam visi presiden untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan melalui program tol laut, maka aksi ini membawa dampak soal bagaimana perbaikan nasib pelaut sebagai SDM utama dalam pembangunan maritim.

Tak hanya itu, ketika pelaut masih dianak tirikan maka saat itu juga bisa dibilang Indonesia masih belum serius dengan sektor kemaritimannya. Bahkan kedaulatan maritim Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang negara lain.

“Kita satukan kekuatan, kita bersatu dengan serikat buruh transportasi lainnya, jangan menjadi anak tiri di negeri sendiri, jangan kita jadi budak ‘aseng’ dan ‘asing’. Saya Andri Sanusi terlahir dan diciptakan untuk pelaut Indonesia dan tidak akan pernah mundur selangkah pun,” tegasnya lagi.

Dengan yakin Andri pun menyatakan bahwa langkahnya ini telah mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Karena apa yang diperjuangkannya ini adalah bagian untuk mewujudkan NKRI sebagai negara maritim yang berwidawa dan disegani oleh dunia internasional.

“Para Kyai Sepuh sudah perintahkan saya untuk membela kaum tertindas khususnya pelaut, mandat ini tidak akan saya ingkari karena NKRI harga mati bagi saya, siapapun yang berniat menghancurkan rakyat dan negara, dia adalah musuh utama saya,” seloroh Andri.

Dalam mewujudkan cita-cita keadilan sosial sesuai amanat sila kelima Pancasila bagi pelaut, musuh utama yang dihadapinya adalah para pengkhianat bangsa. Ia pun menegaskan bahwa PPI merupakan kumpulan dari para pelaut yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

“Siapa pun pengkhianat rakyat dan bangsa, dia adalah musuh sejati saya.Yang merasa pengkhianat bangsa diharamkan bergabung dengan PPI, yang bergabung dengan PPI hanyalah orang-orang patriot sejati yang setia pada NKRI,” pungkasnya.

 

(Adit/MN)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha