Published On: Sun, Sep 24th, 2017

Salah Tanggal Peringatan Hari Maritim, Akibat Kita Terlalu Sibuk Urus Gestapu

Sukarno dan Suharto di sekitar Gestapu

MN – Entah sudah berapa puluh tahun, bulan September di negeri selalu gaduh dengan berbagai hal yang terkait dengan masa lalu kelam dalam perjalanan bangsa ini, yaitu G30 S PKI. Bahkan, kegaduhan tersebut semakin meningkat paska reformasi yang  terjadi pada tahun 1998 yang lalu.

Tercatat paska reformasi, polemik mengenai G30 S PKI tersebut semakin menguat dan meningkat intensitasnya. Bila sebelum reformasi polemik hanya sebatas kajian-kajian tersembunyi, maka di masa paska reformasi polemik ini muncul ke permukaan, secara terang-terangan, dan bahkan hingga melibatkan pejabat publik.

Polemik yang terus menerus tersebut, seakan menjadi ritual tahunan kala memasuki bulan September. Meski tak menutup kemungkinan polemik tersebut juga muncul di bulan-bulan lainnya, namun sudah hampir dipastikan di bulan September ini polemik ini pasti terjadi. Bila dibiarkan terus berlarut, tentunya Ini tentunya tidak baik bagi kehidupan  berbangsa dan bernegara kita dan sudah saatnya diakhiri.

Salah satu efek buruk dari perhatian kita yang setiap tahun tertuju pada polemik seputar pemberontakan Partai Komunis Indonesia tersebut adalah terpinggirkannya hari-hari penting nasional lain yang ada di bulan ini. Padahal di bulan September ini sendiri terdapat banyak hari penting nasional yang seharusnya diperingati dan secara makna jauh lebih penting dari pada sekedar meributkan masa lalu yang sarat kepentingan sepihak.

Bila merujuk pada laman http://setkab.go.id/hari-hari-penting-di-indonesia/,  laman resmi milik Sekretariat Kabinet (Setkab) RI, di bulan September ini setidaknya minimal ada 17 hari penting nasional yang sudah diinventarisasi olehnya. Ini masih ditambah oleh hari-hari besar keagamaan yang bisa saja jatuhnya di bulan September ini.

Ada satu hari nasional yang pada dasarnya sangat penting untuk diperingati oleh seluruh elemen bangsa ini. Sebagai bangsa yang mengaku bernenek moyang seorang pelaut, memiliki lebih dari 17 ribu  pulau, diapit oleh dua benua dan dua samudera, serta memiliki garis pantai terpanjang nomor dua di dunia sudah selayaknya seluruh elemen bangsa mengetahui dan memeringati hari ini, yaitu hari maritim nasional yang jatuh 21 Agustus 2017 kemarin.

Namun ironisnya, hari maritim nasional ini dan juga hari-hari penting nasional lainnya seakan dilupakan oleh kita. Semua perhatian hanya tertuju pada 30 September, yang sebenarnya masih ada peristiwa penting selain kudeta PKI yang pernah terjadi di tanggal tersebut.

Hal ini lah yang bisa jadi mengakibatkan banyak dari kita pada saat ini salah dalam memperingati hari maritim nasional. Konsentrasi kita yang terlalu terpusat berlebihan pada kudeta PKI tersebut, ditambah ketidakpedulian kita akan hari-hari besar nasional yang layak diperingati mengakibatkan hal ini akhirnya terjadi.

Pada 21 Agustus yang lalu, banyak instansi  dan bahkan kementerian sekelas KKP mengucapkan selamat hari maritim nasional. Hal ini tentu saja menjadi rancu dikarenakan pemerintah sendiri sejak orde lama hingga kabinet kerja pimpinan Presiden Joko Widodo ini, tak sekalipun pernah mewacanakan perubahan tanggal peringatan hari maritim nasional tersebut, apalagi sampai meresmikannya.

Dan hal ini, tidak berlangsung di tahun ini saja, namun sudah berlangsung sejak 2015 yang lalu. Dengan turut sertanya KKP mengucapkan selamat pada tanggal tersebut, menjadikan tanggal tersebut seakan-akan tanggal peringatan hari maritim nasional yang diakui oleh pemerintah. Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal dan bila dibiarkan terus berlanjut bisa mengakibatkan kesalahan yang turun temurun ke pada generasi-generasi mendatang.

Namun di sisi lain, hal ini pada dasarnya bisa dimaklumi, karena memang sudah bertahun-tahun perhatian kita hanya terfokus pada bahasan tentang kudeta PKI, yang mencakup gugatan tentang kebenaran kudeta PKI, tuntutan permintaan maaf dari negara kepada PKI, hingga tuntutan pencabutan Tap MPRS No. 25 Tahun 1966.

Kita mungkin terlalu sibuk mengurusi permintaan hingga kita melupakan hal penting lainnya yang mungkin jauh lebih penting. Padahal di bulan september ini setidaknya minimal ada enam belas hari besar penting nasional lainnya, di mana delapan di antaranya merupakan hari yang ditetapkan langsung oleh Presiden melalui surat keputusan atau kepres. Tetapi kita sebagai angsa malah terjebak pada satu tanggal yang pada dasarnya hanya memperingati pemberontakan suatu kaum yang pada saat itu ingin merusak tatanan bangsa yang sudah dibangun oleh bapak-bapak pendiri bangsa ini.

Pemerintahan saat ini memiliki visi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Menjadi ironi karena hari maritim nasionalnya saja banyak elemen bangsa ini yang tidak tahu. Lebih memprihatinkan lagi, ternyata ada yang memperingatinya namun di tanggal yang berbeda, yang entah dari mana asal muasal penetapannya. Ini masih ditambah dengan salah satu kementerian strategis yang terkait langsung dengan dunia kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, malah turut merayakan peringatan di tanggal yang salah tersebut.

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha