Published On: Sat, Sep 16th, 2017

Sepakbola Pantai Indonesia, Ironi Negara Pantai dengan Penggemar Besar

Ilustrasi anak-anak bermain sepakbola di pantai. (Foto: kelanakecil.wordpress.com)

Ilustrasi anak-anak bermain sepakbola di pantai. (Foto: kelanakecil.wordpress.com)

MN, Jakarta – Beberapa waktu yang lalu tim sepakbola Indonesia kembali gagal mempersembahkan gelar juara pada ajang SEA Games yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun ini setelah dikalahkan Malaysia dengan skor 1-0. Tidak berselang, beberapa jam yang lalu Tim Nasional Usia di bawah 19 tahun kita juga kembali gagal di ajang AFF Cup U-19 yang berlangsung di Myanmar setelah dikalahkan Thailand melalui babak adu penalti. Dua kegagalan ini menambah panjang daftar kegagalan timnas sepakbola kita di ajang internasional.

Indonesia terakhir kali meraih gelar juara pada ajang SEA Games 1991 yang berlangsung di Manila, Filipina. Itu adalah kali terakhir, Timnas senior sepakbola kita merasakan podium juara meski hanya dalam regional.

Selain sepakbola, ada dua cabang olahraga lain yang juga dinaungi oleh FIFA, yaitu futsal dan sepakbola pantai. Kedua cabang olahraga tersebut juga telah memiliki komunitas dan kejuaraannya tersendiri. Mulai dari kejuaraan tingkat nasional di beberapa negara hingga kejuaraan tingkat dunia yang melibatkan berbagai negara dari seluruh dunia.

Prestasi timnas futsal Indonesia pun tak jauh berbeda dengan olahraga induknya sepakbola, meski dalam beberapa kesempatan sempat membuat kejutan. Saat ini timnas futsal Indonesia menempati peringkat 52 dunia.

Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam berbagai hal yang berkaitan dengan dunia kemaritiman, termasuk sektor olahraga di dalamnya.

Menilik prestasi dari timnas sepakbola dan juga timnas futsal kita yang masih jauh dari kelas dunia, tak ada salahnya kita sebagai bangsa yang saat ini mencoba mengembalikan kejayaan maritimnya, melirik cabang sepakbola pantai sebagai ajang untuk meraih prestasi.

Meski belum sepopuler sepakbola dan futsal, di Indonesia sepakbola pantai memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Selain karena memiliki garis pantai yang sangat panjang, Indonesia juga memiliki basis penggemar sepakbola yang sangat besar, dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

Selain berjumlah besar, penggemar sepakbola Indonesia juga terkenal sangat fanatik. Bisa kita lihat dari saat Tim Nasional kita bermain, bila kita yang menjadi tuan rumah maka stadion yang menggelar pertandingan tersebut akan terisi penuh dan bahkan meluber hingga keluar stadion. Bagi yang tidak bisa hadir langsung di stadion maka banyak yang berusaha untuk tetap menyaksikannya melalui layar kaca atau sekedar memantau melalui media sosial.

Bagi yang sedang dalam perjalanan, tak sedikit yang meminggirkan kendaraan mereka untuk singgah di tempat-tempat di mana televisi tersedia, baik itu di tempat-tempat seperti kafe atau restoran hingga sekedar mampir di warung kopi atau warung rokok pinggir jalan.

Ini masih ditambah dengan beberapa hal lainnya, misalnya kegemaran menonton liga-liga utama dunia beserta perbincangan yang terjadi setelahnya. Pembicaraan tentang sepakbola merupakan hal umum di masyarakat Indonesia, dan boleh dikatakan sepakbola sudah sangat mendarah daging di negeri ini.

Visi Maritim dan Sejarah

Dalam pidato pelantikannya, Presiden Joko Widodo bertekad mengembalikan Indonesia sebagai Negara maritim. Visi pemerintah saat ini menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia tentu memerlukan dukungan yang besar dari semua elemen bangsa. Namun di sisi lain, ironi yang terjadi di masyarakat kita saat ini, yang belum sepenuhnya menyadari akan takdirnya yang terlahir sebagai bangsa maritim, bangsa pelaut, dan bangsa yang dalam sejarahnya pernah sangat disegani reputasi kemaritimannya, membuat hal ini sedikit berat.

Belajar dari sejarah perjuangan dan pergerakan mewujudkan kemerdekaan oleh para pendahulu bangsa ini, sepakbola merupakan salah satu alat perjuangan yang pernah digunakan oleh para founding fathers bangsa ini. Seperti Bung Hatta yang turut membidani lahirnya klub PSP Padang atau Soeratin yang membidani lahirnya PSSI sebagai alat perjuangan, di mana Soeratin menjadikan PSSI sebagai representasi perwujudan indentitas ke-Indonesiaan kita.

Berkaca dari beberapa hal tersebut, suatu keniscayaan kali ini sepakbola juga bisa kembali menjadi alat perjuangan untuk mewujudkan visi Indonesia menjadi poros maritim dunia. Seperti kita ketahui dan telah kita bahas sebelumnya Indonesia memiliki masyarakat yang fanatik terhadap sepakbola. Hal apapun yang terkait sepakbola, memiliki daya tarik dan daya jual yang tinggi di negeri ini. Dan setiap waktu, jumlah penggemar sepakbola di Indonesia semakin tinggi, dengan tingkat fanatisme yang juga semakin luar bisa.

Lalu, ada satu hal menarik yang pasti menjadi nilai lebih, yaitu meningkatnya ketertarikan kaum perempuan terhadap olahraga ini. Bila di masa pergerakan dahulu sepakbola didominasi oleh kaum pria, maka di masa ini wanita pun sudah cukup banyak mengisi area-area yang terkait dengan cabang olahraga ini. Ini menjadi faktor penting yang bukan hanya sekedar memperbesar jumlah dukungan, namun juga terkait dengan beberapa hal yang bilamana terdapat peran wanita di dalamnya, nilainya menjadi jauh lebih baik.

Dan dari beberapa faktor tersebut, sudah cukup untuk menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan visi pemerintah tersebut. Namun, dikarenakan ini merupakan ranah yang terkait dengan kemaritiman sepakbola yang cocok tentunya adalah sepakbola pantai. Dan di sinilah permasalahan tersebut mulai terjadi. Selain dikarenakan sepakbola pantai itu sendiri sebagai suatu cabang olahraga belum popular di Indonesia,  pengelolaan berbagai macam hal yang terkait cabang olah raga ini juga bisa dikatakan minim, atau mungkin bisa jadi tidak ada sama sekali.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penggemar sepakbola terbanyak di dunia yang disertai dengan tingkat loyalitas yang tinggi. Setidaknya, menurut salah firma sport Inggris, Initiative Futures Sports + Entertainment, Indonesia berada pada peringkat ke tiga supporter sepak bola paling fanatic di dunia. Dipadukan dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki garis pantai ke dua terpanjang di dunia, sudah selayaknya Indonesia bisa berbicara banyak dalam kancah sepak bola pantai dunia.

Namun, jangankan untuk berbicara banyak di kancah dunia, di kancah Asia saja Indonesia tidak dikenal. Bahkan di Piala Asia Sepak Bola Pantai tahun 2017 di Malaysia yang lalu, Indonesia tidak ikut serta. Hal ini menjadi ironi dikarenakan negara seperti Afganistan yang merupakan salah satu negara yang tidak memiliki pantai namun ikut pada kejuaraan ini.

Akan menjadi lebih ironis lagi apabila kita melihat visi pemerintahan saat ini yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Visi yang tentu saja membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Sudah menjadi rahasia umum olah raga terutama sepakbola bisa dijadikan sebagai sarana penggalangan dukungan atau sarana promosi atau sosialisasi yang efektif. Banyak perusahaan ternama yang mau membayar mahal agar nama mereka bisa dipasang di kostum sebuah klub atau dipajang di papan – papan iklan dalam stadion.

Bung Karno pun juga melakukan yang sama dengan menjadikan olah raga sebagai sarana penyampaian pesan dan visi negara. Seperti halnya saat Indonesia menolak bermain di Olimpiade setelah Olimpiade dianggap tidak sejalan dengan cita–cita bangsa di mana kemudian Bung Karno menggagas Ganefo sebagai sikap penentangan tersebut, yang menggambarkan pandangan bangsa ini dalam kancah dunia.

Menilik dari penjabaran tersebut, sudah selayaknya kita mulai berpikir untuk membenahi dan mengembangkan olah raga ini. Mengutip salah satu frase dalam pidato Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa kita sudah terlalu lama memunggungi laut, mungkin dengan mulai mencintai sepak bola pantai kita mulai bisa menghadap ke laut atau setidaknya mau mulai mengenal laut sekaligus  memajukan persepakbolaan tanah air.

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha