Published On: Thu, Mar 23rd, 2017

Menteri Susi Berjanji akan Merevitalisasi Kampung Suku Bajo

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat meninjau kampung Suku Bajo, di Desa Mola Utara, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Kamis (23/3).

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat meninjau kampung Suku Bajo, di Desa Mola Utara, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Kamis (23/3).

MNOL, Wakatobi – Di hari keempat rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Tenggara, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan didampingi Bupati Wakatobi Arhawi meninjau kampung Suku Bajo, di Desa Mola Utara, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Kamis (23/3).

Saat berkeliling kampung, Susi mendapati kondisi lingkungan sekitar yang tidak bersih, banyak sampah plastik berserakan disekitar rumah warga yang berada di pinggir pantai tersebut, sehingga terkesan kumuh dan tidak layak huni.

Melihat banyaknya sampah di kampung tersebut, Susi mengajak warga untuk melakukan kerja bakti membersihkan sampah serta berencana memberikan bantuan dana untuk masyarakat agar  dapat menjaga kebersihan lingkungan. Ia pun menghimbau warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. “Jangan buang sampah ke laut ya, sampahnya dikumpulkan, nanti petugas kebersihan yang ambil. Kalau di laut banyak sampah, ikannya nanti tidak ada,” imbuhnya.

Tak hanya itu, setelah berbincang dan berinteraksi langsung, ternyata banyak warga setempat memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik. Susi secara spontan mengajak warga tersebut untuk berobat ke rumah sakit, serta menghimbau mayoritas bermata pencaharian nelayan tersebut untuk segera mendaftarkan diri mengikuti program asuransi nelayan. “Kalau Bapak sakit, nanti ada biaya pengobatan hingga dua puluh juta rupiah yang ditanggung asuransi. Jadi segera daftar asuransi nelayan ya pak,” ujarnya.

Dengan semua permasalahan yang ada, Susi pun mengusulkan untuk dilakukan revitalitasasi kampung Suku Bajo dengan memindahkannya (relokasi) ke tempat lain dengan penataan pemukiman yang baik. Pemerintah akan mencarikan dana untuk mewujudkan rencana tersebut. Adapun lokasi yang akan dijadikan tempat relokasi masih berada di Kecamatan Wangi-wangi Selatan, yakni Desa Liya Mawi. Selain agar kehidupan suku bajo lebih baik, lokasi baru ini juga diharapkan dapat menjadi objek wisata baru di Wakatobi.

Desa Liya Mawi merupakan desa pesisir dengan sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai pembudidaya rumput laut. Usai mengunjungi kampung bajo, Susi juga menyempatkan diri melihat kondisi lahan budidaya rumput laut di Desa Liya Mawi. Kondisi lahan sudah terjadi pendangkalan (sedimentasi) akibat penambangan pasir secara ilegal di sekitar lokasi tersebut. Hal itu dikeluhkan oleh pembudidaya, karena berpengaruh terhadap penurunan produksi rumput laut. Sedangkan rencana tempat relokasi tak jauh dari lahan budidaya rumput laut tersebut.

Sebelumnya, pada pagi hari setibanya di Pulau Wangi-wangi, Susi juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Sentral, yang letaknya cukup dekat dengan kampung Suku Bajo, Desa Mola Utara. Ia masih menemukan lobster bertelur dan kepiting/rajungan berukuran kecil diperjual belikan dipasar tersebut. “Kenapa dijual bu, ini (lobster) bertelur ? Kalau ditangkap terus nanti habis,  Ibu tidak bisa berjualan lagi. Tolong bisa dilepas lagi saja  ke laut,” jelasnya.

Selanjutnya, Susi juga meninjau Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK), untuk melihat langsung proses pengawasan sumberdaya kelautan dengan menggunakan perekayasaan teknologi, serta mengunjungi  STP Kampus Konservasi di Wakatobi yang akan dikembangkan menjadi Akademi Komunitas Wisata. Pengembangan akademi ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kesepakatan bersama KKP dengan Kementerian Pariwisata beberapa waktu yang lalu. Untuk angkatan pertama, akan didik 50 orang terbagi menjadi masing-masing 25 orang pada program studi wisata bahari dan program studi konservasi.

Sedangkan sore harinya, Susi menyeberang ke pulau sebelah, mengunjungi perkampungan Suku Bajo di Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, dan mendapati sebagian besar nelayan disana belum mengikuti program asuransi nelayan. Imbauan serupa juga diutarakan Susi, “Jika sayang keluarga, ayo daftar asuransi nelayan. Tidak bayar, syaratnya juga gampang, fotokopi KTP (jika belum memiliki kartu nelayan) dan kartu keluarga” terangnya.

Terakhir Susi menjelaskan, pemerintah memang memprioritaskan suku tradisional bajo untuk masuk ke dalam program asuransi nelayan. Hal ini sebagai bentuk perlindungan yang diberikan pemerintah, mengingat sebagian besar hidup suku ini berada di lautan, sehingga risiko kecelakaan dilaut yang dihadapi sangat tinggi. (Anugrah/MNOL)

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha