Published On: Fri, Jun 22nd, 2018

Tanggap Tragedi Sinar Bangun, PP GMKI Bentuk Tim Investigasi dan Posko Konseling Keluarga Korban

Konferensi Pers GMKI tentang pembentukan tim investigasi independen dan posko

Konferensi Pers GMKI tentang pembentukan tim investigasi independen dan posko

MN, Jakarta – Tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di perairan Danau Toba pada Senin (18/6) merupakan tragedi terburuk dalam rentetan kecelakaan yang terjadi pada musim libur lebaran tahun 2018 ini. Hingga saat ini, belum diketahui pasti berapa total penumpang yang menjadi korban dalam musibah ini.

Empat hari berlalu setelah peristiwa tersebut, satu demi satu kejanggalan dan pertanyaan kemudian mencuat, mulai dari kelaikan kapal yang tidak sesuai regulasi, manifes pelayaran, nahkoda yang tidak terdaftar secara resmi (nakhoda tembak), hingga lambatnya respon pencarian dan pertolongan.

Padahal nilai yang diutamakan dalam suatu musibah adalah setiap detik berharga bagi keselamatan korban. Ini masih ditambah dengan minimnya upaya trauma healing bagi keluarga korban.

Berdasarkan penelusuran GMKI saat memantau proses pencarian dan pertolongan pertama pada kecelakaan ini, di sekitar Danau Toba sebenarnya tersedia peralatan pertolongan yang memadai, seperti banyaknya kapal milik perusahaan, individu, maupun instansi yang berada di kawasan Danau Toba.

Begitu juga dengan tersedianya beberapa helikopter yang dtempatkan di Sumatera Utara, baik milik Polri, TNI, Basarnas, serta milik beberapa individu dan perusahaan swasta di sekitar Danau Toba yang sayangnya pada hari pertama tragedi tersebut, pertolongan maksimal dari kapal dan helikopter tidak segera dilakukan.

Selanjutnya, pada hari ini tersiar kabar bahwa para korban kapal terjebak di dalam bangkai kapal. Temuan ini bisa diartikan bahwa pada saat tim pertolongan dan pencarian korban yang pertama tiba di dekat lokasi KM Sinar Bangun tenggelam, tidak dilakukan observasi bawah air.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah koordinasi manajemen terkait  dengan sistem pelayaran di kawasan Danau Toba. Bagaimana koordinasi antar instansi tersebut ketika terjadi kondisi tanggap darurat seperti yang terjadi saat tenggelamnya KM Sinar Bangun tersebut.

Seperti apa bentuk koordinasi yang dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Samosir, Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Badan Otorita Danau Toba, Kementerian Perhubungan, Kemenko Maritim, Basarnas, serta berbagai instansi terkait lainnya.

Pada 20 Juni 2018 yang lalu, Menteri Perhubungan RI Budi Karya menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan audit kelaikan kapal. Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah selama bertahun-tahun instansi terkait itu rutin melakukan audit kelaiklautan kapal? Ataukah ada pembiaran dan kesengajaan dari pihak instansi yang berwenang dengan pihak swasta sehingga kapal yang tidak memenuhi regulasi dapat tetap berlayar secara rutin.

Terlebih kecelakaan yang kurang lebih sama sudah pernah terjadi tahun 1997, yakni tenggelamnya KM Peldatari I yang memakan banyak korban jiwa. Kapal tersebut tenggelam karena mengangkut penumpang melebihi daya angkutnya.

Dalam insiden maut itu, sebanyak 83 korban ditemukan tewas dan puluhan penumpang lainnya hilang, dan 85 korban ditemukan selamat. Apakah selama belasan tahun ini, audit kapal dan sistem pelayaran sudah dilakukan secara berkala di seluruh pelabuhan di Indonesia, khususnya dalam kasus ini, di Danau Toba?

Sangat disayangkan jika visi baik dari pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai  poros maritim dunia, ternyata tidak bisa diterjemahkan secara lebih rinci dan teknis di tingkatan pelaksananya. Terlebih GMKI menduga ada kebobrokan pengelolaan sistem pelayaran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kami menduga kondisi yang terjadi di Danau Toba, juga banyak terjadi di pelabuhan-pelabuhan lainnya di Indonesia.

Berdasarkan beberapa temuan awal ini, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia akan menggunakan seluruh potensi organisasi yang ada di Sumatera Utara untuk melakukan langkah investigasi.

Tim ini nantinya akan memberikan perimbangan informasi yang beredar tentang hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tenggelamnya kapal Sinar Sinabung. Hasil dari investigasi ini kami akan sampaikan ke beberapa pihak terkait dan kami harapkan dapat memperjelas kondisi yang saat ini terjadi di Danau Toba, dan menjadi evaluasi berharga untuk memperbaiki sistem pelayaran di Indonesia.

Selain akan melakukan investigasi, Pengurus Pusat GMKI juga akan membentuk posko konseling untuk korban dan keluarga korban. Sehingga keluarga korban yang saat ini mengalami tekanan kesedihan dan kelelahan bisa mendapatkan trauma healing. Begitu juga anak-anak keluarga korban dapat didampingi. Semoga dukungan ini dapat membantu keluarga korban dan meringankan beban kesedihan yang dirasakan keluarga korban.  (Anug)

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com