Published On: Thu, Jan 28th, 2021

Respon Masuknya Inggris dan AS, China Gelar Latihan Militer di LCS

Laut Cina Selatan

Peta Laut Tiongkok Selatan. Tampak pada gambar garis merah putus-putus yang menggambarkan klaim Tiongkok.

MN, Jakarta – Hawa Laut China Selatan (LCS) kembali memanas setelah Beijing menyatakan bahwa militer Negeri Tirai Bambu tersebut akan melakukan latihan militer di perairan yang telah dinamakan ulang menjadi Laut Natuna Utara (LNU) oleh Indonesia tersebut, pada Selasa (26/1).

Pernyataan dikeluarkan oleh Administrasi Keselamatan Maritim China beberapa hari setelah menanggapi dan  mengecam kehadiran Amerika Serikat di wilayah peraiaran yang sedang menjadi sengketa antara China dengan beberapa negara yang berada di kawasan tersebut.

Sebelumnya diberitakan bahwa Inggris akan mengirimkan kapal induk mereka, RMS Queen Elizabeth, ke Laut China Selatan yang ditanggapi langsung dengan protes oleh China yang mengancam akan bertindak tegas bila rencana Inggris ini direalisasikan.

Mendengar ancaman China tersebut, Amerika Serikat (AS) pun bereaksi dengan pernyataan akan turut mengirimkan kapal perangnya, USS The Sullivan, untuk mengawal kapal induk Inggris tersebut, yang juga turut pula diprotes oleh China.

Kembali kepada pernyataan yang dikeluarkan oleh Administrasi Keselamatan Maritim negara China sebelumnya. China meminta seluruh kapal sipil tidak masuk ke sebagian perairan di Teluk Tonkin di sebelah barat Semenanjung Leizhou, barat daya China.

Larangan masuk tersebut tercatat mulai berlaku dari 27 Januari hingga 30 Januari tahun ini. Namun demikian, pemberitahuan itu tidak secara rinci menyertakan tentang kapan tepatnya dimulainya latihan maupun dalam skala jenis apa mereka latihan.

Sekelompok kapal perang AS yang dipimpin kapal induk USS Theodore Roosevelt memasuki kawasan Laut China Selatan pada Sabtu (23/1). Rombongan yang dipimpin oleh RADM Doug Verissimo tersebut, hendak mempromosikan “kebebasan laut” di wilayah perairan yang menjadi sengketa antara China dengan beberapa negara ASEAN.

“Setelah berlayar melalui perairan ini selama 30 tahun karier saya, sangat menyenangkan berada di Laut China Selatan lagi, melakukan operasi rutin, mempromosikan kebebasan laut, serta meyakinkan sekutu dan mitra,” jelas Doug..

Konflik ini sejatinya berakar dari klaim China atas hampir seluruh wilayah Laut China Selatan dengan dasar nine-dash line atau sembilan garis putus-putus. Dalam beberapa waktu terakhir, China terlihat semakin agresif dan bahkan membangun pangkalan militer di atas singkapan batu serta mengerahkan para penjaga pantai dan milisi maritimnya.

Perairan Laut China Selatan juga diklaim oleh negara-negra pesisir yang berada di wilayah tersebut, Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, dan juga Taiwan. Wilayah perairan ini telah menjadi salah satu bagian terpanas dalam hubungan bilateral Beijing dan Washington, ketika militer AS meningkatkan aktivitas di laut.

Pada Senin (25/1), China mengeluhkan operasi kapal militer AS di Laut China Selatan. Negeri Tirai Bambu ini menilai bahwa hal tersebut bisa menimbulkan suasana yang tak kondusif bagi stabilitas di kawasan.

“AS sering mengirim pesawat dan kapal ke Laut China Selatan untuk melenturkan ototnya. Ini tidak kondusif untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian, Senin (25/1).

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com