Published On: Wed, Dec 7th, 2022

Dinilai Mampu Cetak SDM Unggul, Rektor Unhan Layak Jadi Kasal

 

 

Rektor Universitas Pertahanan Laksamana Madya TNI Prof. Amarulla Octavian.

Jakarta (Maritimnews) – Terpilihnya Laksamana TNI Yudo Margono sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Andika Perkasa membuat jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) berikutnya menjadi jatah para Perwira Tinggi (Pati) TNI AL Bintang Tiga.

Saat ini ada 9 Pati TNI AL Bintang Tiga yang menempati berbagai jabatan baik di TNI AL maupun di luar TNI AL. Di antaranya Wakasal Laksamana Madya Ahmadi Heri Purwono (57 Tahun), Pangkoarmada RI Laksamana Madya Herru Kusmanto (56 tahun). Angkatan 1988, Kapushidrosal Laksamana Madya Nurhidayat (56 tahun), Dankodiklatal Letnan Jenderal (Mar) Suhartono (56 tahun), Irjen TNI Letnan Jenderal (Mar) Bambang Suswantono (57 tahun). Angkatan 1987, Pangkogabwilhan I Laksamana Madya Muhammad Ali (55 tahun), Kepala Bakamla Laksamana Madya Aan Kurnia (57 tahun). Angkatan 1987, menjabat sebagai Kepala Bakamla, Sesjen Wantanas Laksamana Madya Harjo Susmoro (57 tahun) dan Rektor Universitas Pertahanan Laksamana Madya Amarulla Octavian (57 tahun).

Menurut Guru Besar Fakultas Teknologi Trisakti Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, Rektor Unhan Laksdya TNI A. Octavian lebih berpeluang menjadi Kasal penerus Yudo Margono.

“Laksdya TNI Amarulla Octavian dikenal sebagai seorang akademisi yang andal ketika memimpin Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal). Karirnya pun melesat menjadi Rektor Universitas Pertahanan. Rekam jejak saat memimpin kedua lembaga pendidikan tersebut patut untuk dipertimbangkan sebagai pilihan Kasal yang baru,” ujar Dadan kepada Maritimnews, Rabu (7/12).

Sambung dia, Keberhasilan memimpin Universitas Pertahanan dapat dinilai hingga kini. Keberhasilan dalam waktu cepat mendirikan berbagai program studi baru dengan kualitas tinggi menghasilkan para mahasiswa yang banyak berprestasi.

“Ada kedokteran militer, ada insinyur militer, serta pengakuan internasional atas peran penting Universitas Pertahanan di dunia juga banyak dipublikasikan. Bahkan WHO dalam waktu singkat memberi kepercayaan penuh agar Universitas Pertahanan menjadi pusat pelatihan kesehatan internasional,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sekretaris Senat Universitas Trisakti itu menilai keberhasilan Octavian ketika memimpin Seskoal tidak terlepas dari pengalaman operasi militernya yang segudang. Dari Letnan hingga Kolonel, karir militernya selalu bertugas di kapal-kapal kombatan hingga menjadi komandan korvet dan komandan frigate.

“Berbagai operasi militer yang berbahaya berhasil diselesaikan dengan baik. Karir militer yang cemerlang sebagai kombatan hingga terpilih menjadi Komandan Satuan Kapal Cepat berpeluru kendali. Berikutnya dipercaya menjadi Komandan Gugus Tempur Laut. Suatu jabatan benar-benar hanya untuk kombatan,” beber dia.

Masih kata Dadan, prestasinya sebagai kombatan terbukti secara internasional ketika memimpin operasi pengamanan Selat Malaka bersama kekuatan laut Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Dia berinisiatif membentuk Western Fleet Quick Respons (WFQR) sebagai satuan pemukul cepat yang sangat disegani. Berbagai prestasi tempur di lapangan dituangkan ke dalam berbagai buku-buku referensi di Seskoal. Dia juga menghasilkan beberapa teori dan strategi peperangan laut baru operasi-operasi tempur,” bebernya lagi.

“Di pundak Laksdya TNI Amarulla Octavian kita harapkan mampu meningkatkan kualitas lembaga pendidikan TNI AL yang lainnya. Sekolah Tamtama. Sekolah Bintara. Sekolah Teknologi Angkatan Laut. Akademi Angkatan Laut. Kapasitas semua lembaga pendidikan harus meningkat dengan cepat agar dapat menghasilkan prajurit laut yang andal,” tambah dia.

Dadan menegaskan, Layaknya Octavian mengemban jabatan Kasal bukan tanpa alasan. Pasalnya, tantangan TNI AL ke depan tidaklah semakin mudah. Banyak permasalahan yang dirasakan untuk segera diselesaikan dengan tuntas.

Dadan menyebut dari aspek operasional dibutuhkan kemampuan penegakan hukum di laut atas banyaknya pelanggaran. Luas wilayah laut yang harus dipatroli dan diamankan belum sebanding dengan jumlah kapal perang dan pesawat udara yang dimiliki TNI AL.

“Dibutuhkan pola operasi laut yang baru sesuai dengan tuntutan tugas pokok tetapi di sisi lain adanya keterbatasan anggaran. Belum lagi kapal-kapal yang ada dan aset lainnya harus dihemat agar tidak cepat rusak. Ini kebutuhan logistik juga. Kebutuhan kapal-kapal perang untuk beroperasi sekaligus harus dirawat dengan baik di tengah keterbatasan anggaran,” tuturnya.

“Tentu tidak mudah bagi Kasal yang baru untuk menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut. Kuncinya di kualitas SDM. Dibutuhkan Kasal yang mampu membina SDM yang unggul. Dibutuhkan Kasal yang mampu meningkatkan kompetensi prajurit laut yang andal,” tambahnya lagi.

Tegas Dadan lagi, dengan SDM yang unggul, maka akan tercipta pola operasi laut yang efektif dalam penegakan hukum. Dengan SDM yang unggul, maka akan tercipta cara-cara baru dalam merawat kapal agar tidak cepat rusak. Dengan SDM yang unggul, maka dapat tercipta cara-cara baru untuk menghemat anggaran.

“Jika ingin meningkatkan SDM, maka kuncinya di lembaga pendidikan. SDM yang unggul hanya dapat dilahirkan dari lembaga pendidikan yang unggul. Kemampuan tempur perorangan dan satuan juga sangat tergantung dari kualitas para guru militer, instruktur dan para dosen. Jadi, dibutuhkan Kasal baru yang memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas semua lembaga pendidikan TNI AL,” pungkasnya. (*)

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com