dr. Chandra Sembiring Meliala di Pos Aid Periche. (Foto: DokPribadi)
dr. Chandra Sembiring Meliala di Pos Aid Periche. (Foto: DokPribadi)

Maritimnews, Jakarta Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2015 yang diselenggarakan oleh Kemenko Kemaritiman bekerja sama dengan TNI AL pada Juni 2015 silam merupakan ekspedisi yang bertujuan untuk memupuk rasa cinta bahari bagi para pesertanya. Karakter cinta bahari itu kemudian berjalan lurus dengan semangat cinta tanah air dan kebangsaan dalam mewujudkan cita-cita poros maritim dunia.

Ekspedisi tersebut telah melahirkan jebolan-jebolan yang membuat harum nama bangsa Indonesia di kemudian hari. Salah satunya, dr. Chandra Sembiring Meliala, tim medis yang merangkap panitia ENJ 2015 itu merupakan pemateri tentang wawasan kesehatan dan SAR kepada para peserta ENJ 2015 selama pelayaran berlangsung. Kini dirinya  menjadi dokter Indonesia pertama yang mengikuti Pelatihan Medis Alam Liar (Wilderness Medicine) bersama profesional dokter dari seluruh dunia, di Gunung Everest, Nepal.

Melalui informasi yang dihimpun dari media sosialnya, lulusan Kedokteran Universitas Padjajaran itu sering menulis tentang aktivitas sehari-harinya di Nepal. Saat dihubungi maritimnews.com, dokter asal Sumatera Utara itu menceritakan berbagai pengalamannya agar menjadi pelajaran berharga bagi seluruh rakyat Indonesia dalam berkancah di dunia internasional sesuai dengan profesinya.

Dokter Biring biasa akrab disapa itu memulai kegiatannya bersama Wilderness Medicine. Dari Ibukota Nepal, Khatmandu, yang merupakan akses utama mencapai jalur pendakian gunung tertinggi dunia itu, dia bersama tim dokter dari berbagai negara telah dibina oleh dokter senior dari Wilderness Medicine.

“Kami sibuk mempersiapkan Aid Post, seperti mengikuti kuliah-kuliah dari ahli Wilderness Medicine dan Travel Medicine. Selain itu juga mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang akan kami bawa ke Periche Post,” ungkapnya sesuai ditulis dalam akun facebook-nya.

Pria yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial di tanah air itu selanjutnya akan ditempatkan di Pheriche, suatu daerah termasuk dalam gugusan Pegunungan Himalaya.

“Hari pertama saya bertugas di HRA (Himalayan Rescue Association-red) setelah 5 hari perjalanan darat dari Lukla ke Pheriche. Cuaca hari ini cukup dingin, sekitar minus 6 derajat celcius. Kegiatan hari pertama ini menyusun obat-obataan, membersihkan semua ruangan dan perlengkapannya yang sudah ditinggal sekitar 3 bulan oleh tim dokter sebelumnya,” terangnya.

Pasca gempa yang mengguncang Nepal pada pertengahan tahun lalu, Periche menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah. Sehingga banyak bangunan yang rusak dan belum sepenuhnya tertata rapih.

Di tempat itu dia mengaku kesulitan akan akses komunikasi, terlebih soal fasilitas internet. Hal itu yang menjadi kendala saat melakukan interview ini, karena dibalasnya jawaban dari pertanyaan yang diajukan baru sekitar 2-3 hari.

“Karena internet di klinik mati, saya harus menggunakan internet everest link dengan harga yang cukup mahal. Tetapi, saya akan terus update kegiatan di sini secara berkala,” sambungnya.

Untuk men-support pendakian musim semi pada bulan April mendatang, Tim Dokter HRA sudah mempersiapkan pos-pos medis yang diisi oleh tim dokter seperti di Manang dan Periche.Di mana tim itu akan tinggal di HRA Aid Post selama sekitar 3 bulan, yang berangkat pada akhir Maret 2016.

Pendakian Everest di Nepal baru dibuka pada musim semi ini, setelah sebelumnya ditutup selama hampir satu tahun karena gempa berkekuatan 7,9 skala Richter yang mengguncang Nepal. Akibat gempa yang menewaskan sekitar 8.000 jiwa itu membuat jalur pendakian ke Everest perlu perbaikan dan rehabilitasi.

Selain itu, tambahnya, ada tim dokter yang bertugas di Everest Basecamp yang tidak ikut bersamanya. Tim Everest Basecamp ini adalah tim dokter yang sebelumnya telah selesai bertugas di HRA Aid Post.

“Ya kurang lebih ada pergantian tugas, tim ini akan terus di-rolling sampai batas waktu yang ditentukan,” ucapnya.

Dokter Biring mengaku, pada intinya apa yang dilakukan olehnya di Nepal adalah bagian untuk mengharumkan nama bangsa. Karena di sini dia terus ditempa dan dibina oleh dokter-dokter senior dari Wilderness Medicine. 

“Saya perlu belajar bagaimana men-develope dana, sistem yang efektif dan apa yang dilakukan dokter dalam penanganan kedaruratan ini. Jadi bukan hanya dapat ilmu medis saja tetapi manajemen sistemnya juga,” pungkasnya.

Tentunya, apa yang diperolehnya selama di Nepal akan sangat bermanfaat saat kembali ke tanah air. Pasalnya, Indonesia juga menjadi negara yang rawan benacan seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lain-lain.

Kebanggaan untuk Tanah Air

Kiprah Dokter Biring selama di Nepal terus mendapat pujian dan dukungan dari rekan-rekannya di tanah air. Berbagai kebanggaan berbalut doa terus mengalir kepadanya hingga nanti kembali ke tanah air dengan selamat.

Dansatgas ENJ 2015, Letkol Laut (P) Heri Prihartanto menyatakan simpatinya kepada Dokter Biring, yang selain membawa nama Indonesia juga tersemat nama Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 di pundaknya.

“Saya bangga dengan apa yang dilakukan oleh Dokter Biring dalam mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Sukses selalu buat Dokter Biring, semoga selamat sampai kembali ke tanah air,” ujar Pamen TNI AL yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Komandan Satlinlamil Jakarta itu.

Lebih lanjut, lulusan AAL tahun 1994 itu berpesan agar Dokter Biring selalu meningkatkan prestasinya dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak seperti apa yang sering dipublikasikan oleh dunia internasional.

“Dunia selalu menganggap orang Indonesia itu tidak bisa apa-apa, maka itu saya minta Dokter Biring untuk membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar,” tandasnya.

Senada dengan Dansatgas ENJ 2015, salah seorang peserta ENJ, Saesar Agung Trawanda juga menyatakan rasa bangganya kepada Dokter Biring. Peserta ENJ asal Lampung itu berseloroh untuk jangan memalukan Indonesia.

“Dokter Biring jangan malu-maluin Indonesia ya di sana, tunjukan terus kebolehan dan kualitasmu. Tinggal nanti kami menunggumu di tanah air untuk sharing ilmu dan pengalamannya,” ucap Saesar. (TAN)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *