Ilustrasi: Para Pasukan BKR Laut di tepi Kali Kresek pimpinan M. Hasibuan
Ilustrasi: Para Pasukan BKR Laut di tepi Kali Kresek pimpinan M. Hasibuan

MNOL – Buruh angkut di Pelabuhan Tanjung Priok, mogok tak mau membongkar kapal perang Inggris yang bersandar di pelabuhan, sudah dua hari itu di awal oktober 1945. Kapal kapal perang Inggris merapat di pelabuhan terbesar di Batavia itu, namun rupanya para buruh angkut yang dipelopori pemuda pelabuhan mogok kerja! Alasannya sederhana, ada tentara Belanda di kapal itu.

Buat mereka, Belanda adalah musuh, mereka baru saja mendengar Bung Karno membacakan Proklamasi kemerdekaan. “Untuk apa lagi Belanda kembali? Pasti mau macam-macam lagi di sini”, pikir mereka saat itu.

Itu yang ada di kepala para pemuda pelabuhan Tanjung Priok, maka mogok kerja adalah bentuk perlawanan awal mereka pada Sekutu yang jelas jelas membawa orang Belanda. Para buruh hanya menonton tentara Sekutu yang di dalamnya juga ada NICA dan Gurkha, mengangkut dan mengeluarkan barang-barang dari kepalnya.

Singkat cerita Inggris membuat garis pertahanan di sekitar pelabuhan, hari berikutnya markas Polisi Istimewa di Cilincing di geledah dan semua anggota polisi Istimewa yang berjumlah 50 orang dan memiliki 60 pucuk senjata itu ditahan dan disita Inggris.

Markas BKR Laut di pelabuhan juga disatroni Inggris, hasilnya terjadi pertempuran singkat karena kalah jumlah, anak anak BKR Laut yang di pimpin M. Hasibuan menyingkir ke seberang Jembatan Kali Kresek dan membuat garis pertahanan baru di sana.

Sebelumnya, pada 10 September 1945, dengan dipelopori oleh Mas Pardi, para pemuda pelaut Indonesia mendirikan BKR Laut menyusul instruksi berdirinya BKR sebagai cikal bakal TNI. Berdirinya BKR Laut Pusat yang dipimpin oleh Mas Pardi dan kemudian disahkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat itu juga diikuti di beberapa daerah.

Setelah mendapat pengesahan lalu dibentuk pasukan-pasukan BKR Laut yang memulai aksi-aksi mengambil alih gedung Jawa Unko Kaisha dan gedung-gedung yang terdapat di Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya akhirnya dipercayakan kepada M. Hasibuan untuk memimpin BKR Laut Cabang Jakarta yang bermarkas di Tanjung Priok.

Saat pindah ke Cilincing, setelah Tanjung Priok diduduki Inggris maka front perlawanan dilancarkan oleh Hasibuan dan kawan-kawannya. Inggris yang masuk ke pertahanan BKR Laut di Cilincing itu menemui kesulitan karena letaknya yang berada di pinggir kali dan belum memiliki jembatan untuk menuju sana. Sehingga kondisi itu menguntungkan para pasukan BKR Laut dalam menjaga pertahanannya.

Pertempuran sehari semalam terjadi di Kali Kresek itu boleh dibilang merupakan salah satu pertempuran tersengit pasca Indonesia merdeka selain di Surabaya, Ambarawa dan Medan Area.   Bantuan buat anak-anak BKR Laut berdatangan dari mana-mana seperti Cilincing, Marunda, Tanah Merdeka, Kalibaru, Cakung, dan bahkan dari Bekasi.

Dengan bahu-membahu memperkuat garis pertahanan yang hanya bermodalkan senjata yang pas-pasan dan semangat mempertahankan tanah air, BKR Laut mampu mengimbangi negara pemenang Perang Duni II itu. Letusan senjata diiringi teriakan ‘Merdeka’ dan ‘Allahu Akbar’ menggelegar di front pertahanan BKR Laut di Cilincing hingga Cakung yang dibantu oleh rakyat.

Inggris pun kaget dengan tanggapan dari “pemuda-pemuda Kampung” yang dianggapnya baru bisa menggunakan senjata. Sama halnya dengan di Surabaya pada 10 November 1945, pertempuran yang terjadi di pertengahan Oktober 1945 itu membuat Inggris heran karena beberapa hari lalu mereka terlihat hanya sebagai kuli pelabuhan.

Inggris akhirnya menurunkan pesawat P-40 dari Pangkalan Kemayoran. Pesawat tempur ini menembaki garis pertahanan BKR Laut dan pemuda di Kali Kresek. Masih belum cukup, Inggris juga menembakkan meriam artileri dan tank mereka. Akhirnya setelah hampir seharian, pertempuran tanpa jeda, terbuka juga garis pertahanan anak-anak BKR Laut itu.

Memang tidak pernah tertulis dalam buku sejarah di SD, SMP dan SMA mengenai pertempuran heroik di kawasan Cilincing-Cakung yang dipelopori oleh BKR Laut pimpinan M Hasibuan. Tetapi setidaknya catatan itu menjadi bukti kegigihan BKR Laut yang merupakan cikal bakal TNI AL pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.

Bagi masyarakat Cilincing ada satu nama pemuda yang melegenda dalam pertempuran itu yang bernama Itjang. Pemuda asal Cilincing itu, melihat porak-porandanya pertahanan BKR Laut setelah dibom-bardir, selanjutnya dia mengambil inisiatif dengan maju ke depan membawa senapan Karaben Jepang tua. Dia dengan beberapa teman temannya memimpin maju ke hadapan tank Inggris.

Hasilnya, 4 teman Itjang gugur tertembak dan dia sendiri tertangkap, kemudian dibawa tahanan di Batavia. Saat Perjanian Renvile, Itjang dibebaskan dan bergabung ke TNI. Pada masa Pemberontakan DI/TII di tahun 1948, Itjang saat itu bertindak sebagai Komandan Pleton yang ikut ditugaskan menumpas pemberontakan pimpinan SM Kartosuwiryo itu. Dia gugur bersama anak buahnya karena diracun oleh kepala desa yang pro pemberontakan. (Tan)

(Dikutip dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *