Sjafrie Sjamsoedin saat menjadi pembicara kuliah umum bertema "Leadership di Era Globalisasi" di Aula Abdul Latief Hendraningrat Gedung IDB Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (23/9).
Sjafrie Sjamsoedin saat menjadi pembicara kuliah umum bertema “Leadership di Era Globalisasi” di Aula Abdul Latief Hendraningrat Gedung IDB Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (23/9).

MNOL, Jakarta –  Mantan Wakil Menteri Pertahanan RI era Kabinet Indonesia Bersatu II, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kaum muda harus mewaspadai perang asimetris yang merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.

“Perang asimetris yang tampak di depan adalah membanjirnya tenaga kerja asing di Indonesia. Hal ini tentu menutup peluang tenaga kerja lokal mencari nafkah,” kata Sjafrie saat menjadi pembicara kuliah umum bertema “Leadership di Era Globalisasi” di Aula Abdul Latief Hendraningrat Gedung IDB Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (23/9).

Perang asimetris di antaranya membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/kapitalisme, melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat.

Dalam kondisi saat ini bukan rahasia umum lagi bila bangsa Indonesia sudah meninggalkan Pancasila sebagai filosofinya. Terlebih saat amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali pada tahun 1999-2002.

Sjafrie yang merupakan mantan Kapuspen TNI ini menegaskan pentingnya membangun karakter kebangsaan sebagai counter terhadap serangan asimetris seperti saat ini. Terutama pemudanya, sebagai tulang punggung bangsa harus memiliki semangat kebangsaan yang tinggi.

“Kalian para mahasiswa harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan yang sekarang sudah mulai meluntur. Hidupkan lagi nilai-nilai Pancasila di kehidupan kita,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut Sjafrie juga menyoroti masalah kepemimpinan di era globalisasi yang serba canggih.

“Perlu diingatkan bahwa pemimpin itu harus rela berkorban, bukan malah mengorbankan rakyatnya,” ujar mantan Pangdam Jaya ini.

Memang tak dapat dipungkiri, dalam era globalisasi ini peran pemimpin begitu vital. Apalagi sebagai figur yang menetukan nasib 240 juta jiwa rakyat Indonesia, seorang pemimpin harus menjadi suri teladan, pemberi semangat, sekaligus benteng bagi tegaknya kedaulatan rakyat Indonesia.

Turut hadir pejabat unj yakni hadir Rektor UNJ Prof Dr Djaali, Warek 1 UNJ Prof Dr Muchlis R Luddin, Warek 3 UNJ Prof Dr Sofyan Hanif, Dekan5 Fakultas Ilmu Sosial UNJ Dr. Muhammad Zid, Penyelenggara Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan. (Tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *