
MNOL, Jakarta – Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, mau tidak mau harus tetap dibenahi dan ditata agar pelabuhan Tanjung Priok dapat bersaing dengan pelabuhan internasional lainnya, baik Asia maupun Eropa.
“Keterbatasan lahan tidak membuat IPC menyerah mengembangkan kapasitas di pelabuhan Tanjung Priok,” jelas Direktur Komersal dan Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia II Saptono Rahayu Irianto kepada Maritimnews usai acara seminar sehari Forwami, di Cisarua, Kamis (26/1).
Menurut Saptono, pengembangan dilakukan agar produktifitas meningkat. Salah satunya mempersiapkan lapangan penumpukan dengan betonisasi agar kapasitas kontainer bisa lebih banyak, serta pendalaman kolam dan alur agar kapal-kapal besar dapat masuk. “Optimalisasi lahan yang sempit harus diprioritaskan agar dapat dimanfaatkan untuk produktifitas. Salah satunya pembangunan New Priok atau Kalibaru,” ujarnya.
New Priok memiliki luas mencapai 500 hektar, dan pembangunnya dilakukan dua tahap. Tahap pertama tersedia terminal petikemas internasional dengan didukung fasilitas alat yang berstandar modern. NPCT1 memiliki luas lahan sekitar 32 hektar dan kapasitas sebesar 1,5 juta TEUs per tahun dengan total panjang dermaga 850 meter dan kedalaman -14 meter low water spring (LWs).
“IPC dan Otoritas Pelabuhan punya semangat sama untuk kemajuan pelabuhan Tanjung Priok, Regulator sangat membantu dalam semangat membenahi pelabuhan Tanjung Priok sebagai simpul utama merealisasikan program Tol Laut serta upaya IPC menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sejajar pelabuhan Singapura dan Malaysia bahkan pelabuhan di Eropa. Maka harus dilengkapi infrastruktur dan pengelolaan dengan istilah Indonesia Integrated Chain Port,” pungkas Saptono. (Bayu/MN)






