Ilustrasi

MNOL, Jakarta – Menjadi prajurit TNI AL khususnya menjadi pengawak KRI merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena tidak semua prajurit TNI AL memiliki kesempatan menjadi pengawak KRI. Demikian pesan yang disampaikan oleh Komandan Satuan Kapal Amfibi Koarmabar (Dansatfibarmabar) Kolonel Laut (P) Hari Widodo, S.A.P., didampingi Komandan KRI Teluk Sibolga-536 Letkol Laut (P) Mandri Kartono pada saat meninjau KRI Teluk Sibolga-536 di dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dansatfibarmabar menjelaskan bahwa menjadi pengawak KRI adalah suatu hal yang unik. Karena semua suku, agama, emosional, dan karakter pribadi yang berbeda menjadi satu.

Hal inilah yang menjadi solidaritas dan profesionalisme prajurit dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing sehingga dalam melaksanakan operasi dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Bangga menjadi pengawak KRI tidak hanya menggunakan seragam KRI tetapi dengan diwujudkannya kebersihan, keamanan KRI baik saat berada di Pangkalan maupun pada saat berlayar.

“Tingkatkan kewaspadaan dan laksanakan latihan rutin yang membentuk kecepatan serta ketangkasan prajurit dalam menghadapi bahaya yang tidak diinginkan seperti bahaya kebakaran dan kebocoran. Karena prajurit yang tangguh terlahir dari prajurit yang terlatih,” ujar Dansatfibarmabar.

Selanjutnya, lulusan AAL tahun 1993 ini menyampaikan bahwa menjadi pengawak KRI adalah prajurit pilihan, selain memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit TNI AL, juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarga.

“Sebagai manusia biasa kita harus bisa menempatkan tugas negara dan tugas sebagai kepala keluarga. Di sinilah kita dituntut untuk bersikap profesional dalam menjalankan 2 peran tersebut. Di mana 2 peran tersebut adalah tugas yang harus kita seimbangkan,” bebernya.

Pada bagian lain, Dansatfibarmabar mengatakan, dalam kehidupan di KRI, memerlukan ketabahan, keuletan, serta kekuatan fisik yang lebih. Meningggalkan kehidupan normal di darat bersama keluarga, teman, dan tetangga. Bisa dengan hitungan hari, bulan, bahkan bisa jadi dalam hitungan tahun.

“Cuaca yang tidak pasti, gelombang yang tinggi, dengan lingkungan sekeliling kapal berupa laut yang dalam dan jauh dari daratan, bisa menjadi kekurang nyamanan fisik dan timbulnya rasa jenuh. Hal inilah yang sulit dihadapi oleh pribadi yang berfisik lemah dan bermental cengeng,” tandasnya.

“Tetapi bagi prajurit KRI yang berdiri di hadapan saya, hal itu bukanlah hambatan untuk tetap melaksanakan pengabdian kepada NKRI”, tegas Dansatfibarmabar.

Dalam kesempatan tersebut, Dansatfibarmabar juga  menekankan kepada prajurit agar menjaga kehormatan dan keamanan pribadi sendiri. Saat berkendaraan, lengkapi surat surat kendaraan dan perlengkapan berkendara.

“Hindari bentrok dengan instansi lain dan yang paling utama adalah jangan sekali-kali timbul rasa ingin menikmati narkoba karena apabila ada prajurit yang terbukti menggunakan narkoba hukumannya adalah dikeluarkan dari TNI AL. Pikir panjang lagi sebelum bertindak, jangan hanya kenikmatan sesaat tetapi menimbulkan kesengsaraan yang berkepanjangan,” pungkasnya.

 

(Anug/MN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *