oleh: Karnali Faisal
(Penasehat FORWAMI)
Ada orang yang meninggalkan jejak melalui jabatan yang pernah didudukinya. Ada pula yang dikenang karena cara bekerja, cara memperlakukan orang lain, dan gagasan yang ditanamkannya sepanjang perjalanan.
*David P. Sirait, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong*, yang berpulang pada Sabtu, 24 Oktober 2026, adalah sosok yang bagi saya meninggalkan keduanya.
Saya mengenalnya sejak 2008, ketika ia masih menjadi Manajer Operasi di Jakarta International Container Terminal (JICT). Setelah itu menjadi Manajer Behandle dan Depo Support, hingga Control Tower Manager, David tumbuh bersama dinamika terminal peti kemas yang terus bertransformasi.
Bersama timnya, ia menjadi bagian dari perjalanan JICT menembus angka _throughput_ dua juta TEUs untuk pertama kalinya. Ia juga mengawal digitalisasi terminal, sebuah proses yang menuntut lebih dari sekadar penguasaan teknologi: dibutuhkan ketekunan, disiplin, dan kemampuan menggerakkan orang untuk berjalan menuju tujuan yang sama.
Karena itu, ketika David kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi penting di lingkungan Pelindo, saya tidak merasa heran. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya mengandalkan kewenangan jabatan. Ia seorang pekerja keras yang memahami bahwa keberhasilan operasional pelabuhan tidak pernah lahir dari kerja satu orang.
Ada sebuah kenangan yang hingga kini melekat dalam ingatan saya. Ketika masih menjadi Manajer Operasi, seorang operator crane berhasil mencapai target produktivitas. David spontan memberikan jam tangan seharga sekitar Rp5 juta sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian tersebut.
Bagi sebagian orang, mungkin itu sekadar hadiah. Namun, bagi saya, ada pesan kepemimpinan yang lebih dalam: kerja keras anak buah tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa, apalagi dilupakan begitu saja.
Dalam kesempatan lain, ia membongkar sekat di ruang kerjanya sebagai manajer agar tidak ada pembatas fisik antara dirinya dan anak buah. Ia ingin membangun tim yang bekerja tanpa jarak.
Saya masih mengingat penjelasannya: kerja tim tidak boleh dibatasi sekat. Kalimat sederhana itu menggambarkan cara David memandang kepemimpinan—bahwa orang-orang yang bekerja bersama harus merasa menjadi bagian dari tujuan yang sama.
Pertemuan terakhir saya dengan David berlangsung pada Juni 2026 di kawasan Jakarta Selatan. Ia mengajak makan siang. Suasananya hangat, jauh dari kesan pertemuan formal antara seorang direktur utama dan saya yang bukan siapa-siapa.
Sejumlah stafnya dari Terminal Teluk Lamong hadir, begitu pula istrinya. Kami berbincang tentang pekerjaan, pengalaman, dan rencana-rencana ke depan.
Di antara percakapan itu, David menyampaikan keinginannya menulis buku tentang operasional pelabuhan, bidang yang benar-benar dikuasainya setelah puluhan tahun bergelut di dalamnya.
Buku itu bukan semata-mata untuk mendokumentasikan pengalaman atau menambah daftar karya pribadi. Ia ingin menjadikannya bahan ajar, sesuatu yang bisa membantu mahasiswa memahami dunia kepelabuhanan sekaligus meningkatkan kapasitas generasi penerus.
Saya menangkap ada keinginan untuk membagikan pengetahuan yang selama ini diperolehnya melalui pengalaman langsung, dari lapangan hingga ruang pengambilan keputusan.
Sayangnya, rencana itu belum sempat menjadi kenyataan. David lebih dahulu berpulang, meninggalkan gagasan yang belum selesai dan pengetahuan yang semestinya masih bisa ia wariskan melalui tulisan.
Sebenarnya, saya pernah menyiapkan tulisan panjang tentang perjalanan karier dan pemikiran David. Tulisan itu tak pernah saya publikasikan karena khawatir terdengar seperti pujian yang berlebihan.
Kini, setelah kepergiannya, saya justru menyadari bahwa ada kisah yang memang perlu dituliskan, bukan untuk mengagungkan seseorang yang telah tiada, melainkan untuk merekam pelajaran yang layak diwariskan.
Dalam tulisan tersebut, David pernah menyampaikan sebuah moto yang sederhana, tetapi mencerminkan pandangannya terhadap kehidupan dan pekerjaan: *_“Do your best, let God do the rest.”_* Lakukan yang terbaik, lalu serahkan selebihnya kepada Tuhan.
Kalimat itu terasa menemukan maknanya sendiri ketika kita mengenang perjalanan seorang pekerja pelabuhan yang mengawali karier dari bawah sebagai operator _head truck_, kemudian menapaki berbagai jenjang hingga dipercaya memimpin Terminal Teluk Lamong.
Jabatan dapat berakhir, perjalanan hidup dapat terhenti, tetapi kerja keras, gagasan, dan kebaikan yang ditinggalkan seseorang tidak harus ikut selesai.
Selamat jalan, David Sirait. Buku tentang operasional pelabuhan itu mungkin belum sempat Anda tulis, tetapi pengalaman dan pelajaran yang Anda tinggalkan akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja bersama, mengenal, dan belajar dari Anda.***






