
MNOL, Jakarta – Dalam sebuah wawancara khusus dengan maritimnews di ruang kerjanya di Koarmabar, Jakarta, (13/7), Pangarmabar Laksda TNI A. Taufiq R bercerita soal pengalamannya dalam membebaskan sandera pembajakan kapal tanker oleh gerombolan separatis Aceh pada tahun 2004. Waktu itu dirinya masih berpangkat Letnan Kolonel yang diamanatkan mengomandani KRI Karel Satsuit Tubun-356 di bawah jajaran Koarmatim, Surabaya.
Kisahnya bermula ketika terjadi pergolakan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (dulu D.I Aceh), di mana kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melancarkan serangan bersenjata untuk memisahkan diri dari NKRI. “Untuk membiayai operasional gerakannya, mereka memanfaatkan jalur pelayaran Selat Malaka yang ramai dengan kapal-kapal dagang. Saat itu kapal tanker milik PT Pertamina mereka bajak dan menyandera 36 awaknya,” kenang Taufiq biasa akrab disapa.
Atas perintah Kasal Laksamana TNI Bernard Kent Shondakh, dirinya ditugaskan memimpin operasi pembebasan tersebut. Karena biasa non stop di laut selama 30 hari, Taufiq bersama anak buahnya mulai menyisir di Peraiaran Malaka untuk menemukan kapal tersebut. Selama 3 minggu di sana akhirnya dia menemukan kapal naas yang dibajak oleh gerombolan GAM itu.
Dengan memantau dan mempelajari gerak-gerik penyandera hingga menunggu momentum yang tepat untuk melakukan penyerangan, lulusan AAL tahun 1985 ini tetap tenang seraya mengingat pengalaman-pengalaman operasi pembebasan sandera sebelumnya.
‘Sewaktu saya masih sekolah dulu saya pernah membaca buku operasi pembebasan sandera Woyla di Bangkok pimpinan Pak Beny (LB Moerdani-red). Dengan tetap bernegosiasi dan menunggu momentum yang tepat baru melakukan penyerangan,” ungkapnya.
Teori tersebut dia terapkan kala mengamati kapal tanker yang dibajak pada pertengahan Bulan Juni 2014 tersebut. Tepat pukul 12 malam waktu setempat saat para penyandera sudah mulai lengah, pasukannya langsung bertindak dengan menembak seluruh penyandera. Alhasil, 36 sandera selamat tanpa luka sedikit pun dan seluruh penyandera tewas.
“Operasi dimulai pukul 1 malam dan berakhir jam 3 malam. Kita lihat saat itu mereka sudah menurunkan senjata dan ada yang bernyanyi-nyanyi, itu tandanya mereka sudah lengah. Saya perintahkan untuk menembak terlebih dahulu pimpinannnya agar mereka panik,” jelasnya sambil menunjukan foto-foto penyandera yang ditembak mati.
Berdasarkan informasi intelijen, gerombolan yang berjumlah 5 orang itu dipimpin oleh seorang berbadan tegap dan selalu menggunakan topi. Operasi yang berjalan sempurna itu langsung mendapat pujian dari dunia internasional atas kiprah TNI AL dalam mengamankan selat teramai di dunia itu.
Sambungnya, Angkatan Laut negara asing saat itu sudah mengultimatum akan masuk ke Selat Malaka bila negara pantai tak mampu mengamankan wilayah. Ultimatum itu pun dia jawab melalui keberhasilan operasi yang sempurna kala membebaskan kapal tanker yang dibajak leh GAM.
Di tengah perannya sebagai pemimpin operasi, pria kelahiran Sukabumi 55 tahun silam ini tetap merasa bahwa seluruh penyandera yang menjadi korban eksekusi itu sejatinya merupakan saudara sendiri. Kendati perbedaan ideologi yang mencuat saat itu tetap dirinya tidak tega menghabisi nyawa gerombolan tersebut.
“Jadi jangan sampai karena dendam masa lalu, timbul lagi kelompok-kelompok yang ingin memisahkan diri dengan NKRI,” tandasnya.
Terlepas dari keberhasilan tersebut, Taufiq tidak pernah mengharap jabatan dan pujian. Segala yang dilakukannya demi negara dan kebanggaan yang disandang itu bukan atas pangkat atau jabatan melainkan prestasi yang telah ditorehkannya.
Bahkan, usai operasi itu dirinya sempat dicurigai atas kebenaran peristiwa pembebasan sandera tersebut. Namun, tidak pernah terfikirkan olehnya menjadi sebuah masalah yang serius.
“Itu tadi prinsip saya yang terpenting ialah keberhasilan dalam tugas, bukan pada pangkat dan jabatan. Biarkan semua itu mengalir saja,” imbuhnya.
Menghadapi Keterbatasan
Sebelum terjadi peristiwa itu, Taufiq mengaku kondisinya penuh dengan keterbatasan. Yang pertama dia ceritakan ialah soal kondisi KRI Karel Satsuit Tubun-356 yang dibuat sekitar tahun 1967 di Belanda. Fregat Van Speijk Clas ini merupakan kapal perang yang didatangkan dari Belanda tahun 1980, di mana pada tahun 2004 usianya sudah 40-an tahun.
“Padahal masa laik operasi kapal itu 20 tahun. Logistik kapal itu membutuhkan BBM 90 ton per hari, kalau diberikan hanya 400 ton maka hanya cukup berlayar 4 hari, jadi tidak cukup kalau melakukan operasi yang lama,” ungkapnya.
Ulasnya, kebijakan pemerintah untuk me-repowering dari turbin gas ke diesel tentu membawa dampak yang cukup signifikan. Kapal bisa berlayar hingga kecepatan 18 knot dengan bahan bakar hanya 12 ton per hari. Jadi kapal akhirnya bisa berlayar 30 hari non stop.
Keterbatasan selanjutnya kata Taufiq ialah soal pasukan. Dalam operasi saat itu dia memerlukan pasukan khusus tambahan namun tidak ada. Mengingat saat itu banyak personel yang diterjunkan di Aceh sejak pecah perang pada tahun 2003.
“Untungnya sebelum itu saya sudah sering melatih anak buah saya untuk latihan fisik, halang rintang, menembak dan bela diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi,” tambahnya.
Hal tersebut dinilai tidak lazim bagi seorang komandan kapal dianggap kejam dan menyiksa anak buahnya. Namun hal itu dia hiraukan dan baru terlihat hasilnya pasca operasi. Terobosan-terobosan itu yang kemudian sering dia lakukan saat menjadi Pangarmabar dari tahun 2015.
Hingga saat ini, pria asal Sukabumi itu masih kerap berlari memanggul senjata dengan anak buahnya. Hal yang tentu tidak wajar dilakukan oleh seorang Perwira Tinggi Bintang Dua di jajaran TNI AL. Bahkan dirinya juga masih sempat berimprovisasi untuk merakit senjata yang akan digunakan oleh anak buahnya.
Karakter inovatif seperti yang sudah dilakukannya sejak menjadi Komandan KRI dan menjadi pengajar di Kodikal. Sehingga tidak salah bila Kasal Laksamana TNI Bernard Kent Shondakh kemudian menjadikannya sebagai golden boy di masa itu.
“Segala keterbatasan itu bisa disiasati, jangan sampai karena keterbatasan, tugas untuk menjaga kedaualatan terabaikan,” pungkasnya.
Keberhasilan operasi pembebasan sandera itulah yang kemudian dirinya ditugaskan kembali untuk membaskan sandera KM Sinar Kudus di Somalia pada tahun 2011. Sampai dengan akhirnya mengantarkannya menjadi Pangarmabar di tahun 2015.
Pengalaman-pengalaman berharga itu sejatinya sangat dibutuhkan saat ini dalam menghadapi kerawanan pembajakan yang terjadi di Peraiaran Sulu dan Sabah, perbatasan tiga negara antara Indonesia, Malaysia dan Filipina.






