
MNOL, Jakarta – Geliat pergerakan Indonesia menuju poros maritim dunia membuat Korps Alumni Akademi Usaha Perikanan-Sekolah Tinggi Perikanan (KORAL AUP-STP) ikut berperan serta dalam mewujudkannya, salah satunya dengan cara mengadakan acara Seminar Nasional pertama yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 27 April 2016. Acara tersebut mengusung tema ‘Pembangunan Perikanan yang Berdaya Saing Tinggi, Berdaulat dan Berkelanjutan bagi Kesejahteraan Bangsa Indonesia’.
Beberapa pembicara dan moderator antusias dalam mengikuti Seminar Nasional ini, antara lain adalah Viva Yoga (Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI), Dr. Soe’nan Hadi Poernomo (Dosen STP), Dr. Aji Soelarso (Mantan Dirjen di KKP), Dr. Chandra Motik (Pakar Kelautan), Suhartono (Pengusaha). Seminar Nasional ini juga dipandu oleh Dr. Effendi Ghazali (Pakar Komunikasi) dan Prof. Dr. Dietriech G. Bengen (Guru Besar Ilmu dan Teknologi Kelautan – IPB).
Dalam sambutannya Dr. Deni Achmad Soeboer sebagai Ketua Panita Seminar Nasional KORAL AUP-STP menyatakan bahwa dalam upaya mensejahterakan Bangsa Indonesia maka perlu adanya kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah dan pengusaha dalam bidang Kelautan dan Perikanan.
“Harapan yang ingin dicapai dalam kegiatan Seminar Nasional ini adalah agar semua stakeholder baik itu masyarakat, pemerintah, akademisi dan pengusaha dapat bertukar pikiran serta saling memberikan masukan agar usaha perikanan dapat berkembang dengan baik sehingga dapat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,” terang Deni.
Beberapa topik hangat didiskusikan dalam kesempatan ini, salah satu yang menarik adalah topik yang dibawakan oleh Dr. Aji Soelarso yang merupakan mantan salah satu Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hak kedaulatan ekonomi perikanan merupakan topik yang dibawakan oleh Dr. Aji Soelarso, di mana topik ini menjelaskan bahwa kegiatan moratorium yang dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan sudah tepat tetapi memiliki banyak kekurangan yang justru menyebabkan kesengsaraan nelayan.
“Moratorium yang dilakukan memang akan membuat ikan bertambah banyak di laut akan tetapi kurangnya kebijakan mengenai pengelolaan perikanan tangkap yang baik akan berimbas kepada kolapsnya industri perikanan, hal ini akan membuat semakin tingginya tingkat pengangguran,” jelas Aji.
Bertindak sebagai moderator adalah Prof. Dr. Dietriech yang merupakan salah satu guru besar bidang kelautan dalam kaitannya dengan moratorium menjelaskan bahwa ikan adalah migratory species atau spesies yang selalu bergerak. sehingga hal itu menyebabkan belum tentu yang menikmati hasil tangkapannya adalah masyarakat Indonesia mengingat bahwa ikan dapat bermigrasi sejauh mungkin.
Penjelasan inilah yang membuat peserta seminar antusias bertanya dimanakah peran nyata pemerintah Indonesia dalam hal ini KKP yang berfungsi membuat regulasi bagi industri perikanan yang mewadahi banyak masyarakat nelayan pada umumnya.
Selanjutnya, menimbulkan kembali pertanyaan apakah moratorium sudah tepat dilakukan tanpa adanya regulasi atau kebijakan yang mengatur tentang moratorium tersebut.
Dalam kaitannya dengan usaha perikanan, pengusaha Suhartono pendiri PT. Guna Citra Kartika yang melakukan usaha di bidang ekspor produk perikanan menjelaskan bahwa masih banyak yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha industri perikanan di Indonesia. Hal itu diungkapkannya karena Indonesia memiliki pesisir dan laut yang luas. Bahkan Suhartono melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi operator kapal cruise Pearl of Papua, yakni usaha pariwisata bahari yang menawarkan pengalaman menyelam dan menikmati alam di Raja Ampat.
“Hanya saya satu-satunya orang Indonesia yang memiliki usaha seperti ini dengan seratus persen kepemilikan sendiri dan harus bersaing dengan orang asing dengan usaha yang sama di Indonesia,” tandas Suhartono.
Luasnya lautan dan panjangnya garis pantai Indonesia harus membawa rasa optimis yang tinggi dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dengan terselenggaranya Seminar Nasional ini memberi bukti nyata semakin tingginya kepedulian masyarakat, pemerintah, akademisi dan pengusaha terhadap sektor kelautan dan perikanan.
“Seminar Nasional ini merupakan seminar yang pertama kali diadakan oleh KORAL AUP-STP dengan target akan diadakan dua kali dalam setahun,” pungkas Deni dalam wawancaranya sebagai ketua panitia Seminar Nasional KORAL AUP-STP edisi pertama ini. (RAP)






