“Bingkisan” Tahunan di Pantai Kuta

 

Oleh : Adli Attamimi*

Mengenaskan - Cemaran sampah di sepanjang Pantai Kuta, Bali (Foto: Dok Adli)
Memprihatinkan – Cemaran sampah di sepanjang Pantai Kuta, Bali (Foto: Dok Adli)

MNOL – Mendengar Bali pasti lokasi yang sering disebutkan oleh para wisatawan adalah Pantai Kuta, destinasi utama dari pulau dewata ini menjadi daya tarik tersendiri bagi turis-turis yang berkunjung. Keindahan pantai dengan pasir putihnya, gelombang yang sangat baik untuk aktifitas selancar, kemilau sunset, dan infrastruktur pariwisata yang lengkap telah menjadikan Kuta sangat terkenal hingga ke mancanegara. Daerah yang paling strategis yang masuk dalam kabupaten Badung ini banyak dikelilingi oleh bangunan penunjang pariwisata seperti hotel, supermarket, dan tempat hiburan lainnya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir keindahan pantai Kuta yang selama ini menjadi ikon pariwisata Bali mulai terganggu oleh tingginya tingkat pencemaran di pantai, terutama fenomena pencemaran sampah yang kerap menumpuk di pantai Kuta pada waktu‐waktu tertentu. Hasil penelusuran penulis dan tim menemukan bahwa fenomena tingginya pencemaran sampah laut yang terjadi akibat beberapa faktor yang mempengaruhi.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kesadaran masyarakat yang masih kurang dan menjadikan sungai sebagai tempat sampah merupakan salah satu faktor masalah yang sudah berlangsung selama bertahun‐tahun. Fenomena angin barat yang bertiup kencang pada Januari‐Maret menyebabkan sampah yang melayang di perairan terseret dan menumpuk di sepanjang Pesisir Bali bagian selatan dan menyebabkan adanya “kiriman” sampah laut yang menuju Pantai Kuta.

Pengelolaan sampah di daerah pesisir yang belum optimal juga menjadi salah satu penyebab utama tingginya konsentrasi sampah di perairan Bali. Padahal kedatangan wisatawan mancanegara hampir terjadi setiap bulan terutama pada bulan Desember-Maret. Permasalahan yang terjadi dimana periode ini adalah waktu dengan jumlah sampah terbanyak.

Estetika dan daya tarik terhadap Pantai Kuta berkurang akibat dampak dari adanya tumpukan sampah. Sampah ini berasal dari luar daerah Bali sendiri yang terbawa oleh aktivitas laut seperti angin, arus, dan gelombang. Di mana sampah laut terapung yang muncul akibat hasil kegiatan manusia di permukaan yang terbawa oleh arus dan gelombang yang mempengaruhi laut.

Perilaku dan konsentrasi cemaran sampah mengalami proses yang rumit, penulis membuat penyederhanaan terhadap fenomena dengan menggunakan metode simulasi pemodelan. Metode ini sudah banyak digunakan untuk kebutuhan teknis laut, tetapi masih jarang digunakan pada permasalahan lingkungan laut. Kompleksitas laut memiliki “sejuta” permasalahan dan keuntungan yang dapat diambil, tetapi bagaimana meyelaraskan kebutuhan manusia terhadap alam dengan menyeimbangkannya terhadap keberlanjutan.

Atas dasar pertimbangan tersebut maka perlu adanya alat bantu yang dapat mensimulasikan  pergerakan, dalam hal ini cemaran sampah yang menggambarkan proses pergerakan air laut dan pola pergerakan sampah guna mengetahui sumber sampah yang datang dari laut dan percepatan upaya mitigasi terhadap cemaran sampah yang ada. Hasil simulasi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan  bagi mengambil keputusan dan juga dapat menjadi langkah nyata bagi Pantai Kuta itu sendiri.

Negara kepulauan seperti indonesia memiliki potensi permasalahan mengenai lingkungan terlebih lagi dampak cemaran terhadap lingkungan yang sangat besar. Perlu adanya perhatian khusus dan kepedulian dari seluruh elemen baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat mengenai permasalahan ini. Keberlanjutan yang banyak disuarakan akan menjadi fantasi dan impian semata apabila langkah nyata yang dilakukan tidak sebesar impiannya.

Pantai Kuta yang merupakan magnet pariwisata di pulau Bali juga menjadi salah satu perhatian khusus yang merupakan penyumbang devisa bagi negara karena aktivitas yang terjadi. Apabila fenomena dan permasalahan ini terus berulang tanpa adanya perlakuan khusus maka kebiasaan ini akan menjadikan bumerang bagi sektor-sektor pariwisata lainnya terkhusus Pantai Kuta itu sendiri.

Perubahan perilaku oleh alam mencerminkan aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keberlanjutan alam itu sendiri, urgensi yang ditunjukan oleh alam berdampak terhadap perubahan pola pikir dan perilaku manusia itu yang seharusnya kembali ke alam dan sadar terhadap alam. Sekarang yang menjadi tolak ukur mengembalikan alam dan menjaganya adalah dari perilaku manusianya itu sendiri, apabila manusia sekarang hanya bisa menyalahkan tanpa memberi solusi maka alam pun akan menghindar dan menjauh dari manusia itu sendiri.

 

*Penulis adalah lulusan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dan aktif di KOMITMEN Group Research, Fisheries and Marine Science Padjadjaran University.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *