
MNOL, Jakarta – Dalam acara perdana Maritime Learning Centre yang diselenggarakan oleh Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) dan maritimnews.com, di Cipete, Jakarta, (10/6) juga dihadiri oleh ketua bidang kemaritiman DPP KNPI, Baharudin Farawowan.
Dalam diskusi singkat dengan APMI usai berbuka bersama, Baharudin menyampaikan apresiasi dan pandangannya terhadap pergerakan APMI sebagai salah satu organisasi kepemudaan maritim yang cukup eksis dan mampu mengusung agenda-agenda kemaritiman secara substantif.
Pasalnya dari gagasan dan pandangan yang sering disampaikan APMI di media-media maritim nasional, itulah yang seharusnya dilakukan oleh organisasi-organisasi pemuda maritim, yakni substansi dari apa yang disampaikan terkait permasalahan-permasalahan maritim terkini dan kerap terjadi.
“Di era poros maritim saat ini pemuda memang belum mendapatkan tempat untuk dapat mengawal isu-isu kemaritiman secara serius dalam pemerintahan. Tetapi jika kita semua berjalan bersama-sama masalah itu bisa diantisipasi,” ungkap Baharudin.
Sejauh ini KNPI telah menggelar acara Jambore Poros Maritim Pemuda yang diadakan di Bangka Belitung Maret lalu. Kendati banyak pejabat negara yang tidak hadiri, namun Baharudin mengakui gebrakan itu sudah mampu membuat para pemuda untuk sadar maritim.
“Di acara itu, betul-betul di pinggir laut kemudian ada permainan-permainan yang membangkitkan budaya maritim. Karena kita yakin bagaimana dia mau mengerti maritim tetapi dia tidak merasakan langsung bagaimana hidup di laut,” tandasnya.
KNPI juga sudah mengadakan MoU dengan Bakamla mengenai pembentukan Satgas Pemuda Maritim yang fungsinya turut membantu Bakamla dalam mengamankan perairan Indonesia.
Selanjutnya, dia mengulas bahwa KNPI sendiri sebenarnya lebih dominan di bidang politik. Maka dari itu hasratnya untuk menggandeng APMI saat bergerak menjadi niatan KNPI karena sudah diakui basic studinya dan pemikirannya, organisasi yang dinahkodai oleh Reynaldi Bahri Tambunan itu concern di bidang maritim.
“Berbagai elemen kepemudaan khususnya maritim harus saling bersinergi agar tercapainya lima pilar pembangunan maritim yang telah dicanangkan pemerintah,” terang pemuda asal Jayapura tersebut.
KNPI menilai, Indonesia yang saat ini bicara poros maritim dunia, namun berbagai kebijakan yang saat ini dihasilkan masih jauh dari targetan-targetan tersebut.
“Ke depan kita perlu bahas satu per satu agar diluruskan konsep poros maritim, dan diletakkan kepada jalannya program agar sesuai. KNPI dan APMI ke depan dapat berjalan bersama mengawal isu-isu tersebut,” lanjutnya.
.
Menanggapi pernyataan ketua bidang Maritim DPP KNPI, Ketua APMI menyambut dengan cukup antusias ajakan tersebut. Pasalnya APMI yang sudah berjalan sejak 2013 merupakan sebuah organisasi bentukan yang lahir dari rahim keprihatinan pemuda terhadap permasalahan bangsa ini khususnya di bidang maritim.
“Kami mengambil maritim sebagai isu yang kami usung sebagai salah satu upaya memberikan kontribusi untuk pembangunan Indonesia. Permasalahan indonesia sangat banyak, tentunya akan sulit jika ingin kita selesaikan semua, maka itu perlu sebuah organisasi yang memang membahas satu fokus isu, dan kami memilih maritim,” jelas Reynaldi.
Karena maritim merupakan potensi dasar dan anggota APMI sendiri juga berasal dari berbagai latar belakang Tentunya APMI berharap, dengan dukungan KNPI semakin menambah gebrakan APMI terutama saat berkolaborasi dengan instansi pemerintahan.
“Sambutan positif yang diberikan oleh KNPI menjadi semangat bagi kami agar dapat lebih ekspansif melakukan doktrin-doktrin mengenai isu-isu kemaritiman, “ tegasnya.
Harapannya setelah pertemuan ini, APMI dan KNPI dapat lebih mengerucut untuk mengusung agenda-agenda bersama dalam mengawal pembangunan kemaritiman Indonesia.
Setelah itu acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penukaran pin APMI dan KNPI, (Tan)






