Sail Selat Karimata 2016
Sail Selat Karimata 2016

MNOL, Jakarta – Kemenko Kemaritiman menekankan pelaksanaan Sail Selat Karimata 2016 yang diselenggarakan pada 17 Agustus-15 Oktober 2016 mendatang selain membawa dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara juga harus menjadi penggerak roda perekonomian di kawasan Indonesia bagian barat.

Hal itu dikatakan Deputi IV Kemenko Kemaritiman Safri Burhanuddin usai acara peluncuran Sail Selat Karimata 2016. “Kami tidak ingin sekali event ini selesai terus tidak ada apa-apa setelahnya, harus ada impact (dampak.red) yang dirasakan rakyat,” kata Safri.

Sementara itu, Presiden Jokowi menetapkan tahun 2016 sebagai tahun percepatan akselerasi sektor pariwisata. Melalui jajarannya, pemerintah menargetkan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dalam kurun waktu lima tahun sebanyak 20 juta orang.

Berbagai program ditempuh, salah satu diantaranya menyelenggarakan even Sail (pelayaran) Karimata 2016 yang dilaksanakan secara berurutan mulai dari Kepulauan Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bangka Belitong, Kalimantan Barat serta Kabupaten Kayong Utara.

Sebagai bentuk usaha meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi wisata di Indonesia, Sail Karimata merupakan gabungan konsep dari kegiatan pelayaran, riset, seminar kemaritiman, pelayanan kesehatan, bakti sosial, festival seni dan budaya, festival kuliner hingga kompetisi bahari.

Di 2016 ini rangkaian kegiatan sail diawali dengan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-71 di Pulau Enggano, salah satu pulau terluar di Provinsi Bengkulu. Pemerintah mengundang berbagai komunitas pengguna kapal pesiar dan yachter dari mancanegara guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke lokasi-lokasi dimana event sail dilaksanakan. Menurut catatan Humas Pemkab Kayong Utara, lebih kurang 30 yachter dari 14 negara sudah mendaftar untuk mengikuti rangkaian kegiatan Sail Karimata.

Terpisah, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis berharap agar kegiatan Sail Selat Karimata 2016 yang diikuti para peserta dari mancanegara tersebut bisa dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk mempromosikan semua potensi daerah yang dimiliki.

“Yang dapat dipromosikan, mulai dari potensi budaya, flora dan fauna, kekayaan alam, kerajinan tangan dan lain sebagainya, sehingga kegiatan Sail Karimata 2016 nanti dapat membawa efek positif dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke atau peningkatan investasi di Kabupaten Kayong Utara,” ujar Gubernur.

Dalam persiapannya, berbagai pembangunan infrastruktur  telah dilakukan jelang kegiatan sail yang ke-8 ini. Pembangunan tersebut antara lain pembangunan dan pelebaran jalan, pembangunan drainase dan gorong-gorong, pemugaran dan penataan obyek wisata sejarah & purbakala, pembuatan trotoar, serta pemecah ombak di Pantai Pasir Padi.

Kegiatan ini melibatkan beberapa kementerian dan lembaga pemerintah diantaranya  Kemenko Kemaritiman, Kemenko PMK, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dekin (Dewan Kelautan Indonesia), Kemensos, Kementerian BUMN, Kemendes, Kemenristekdikti, KemenPUPR, Setkab, TNI AL, Pemprov Jambi, Kepri, Bangka Belitung dan Pemkab Kayong Utara.

Kegiatan sail yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga pemerintahan tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2009. Diantaranya adalah Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Belitong, Sail Morotai, Sail Komodo, dan Sail Raja Ampat. Pemerintah mendesain kegiatan sai-sail tersebut untuk membantu percepatan pembangunan di lokasi destinasi.

Gelar Seminar di Jambi

Dalam menyemarakkan perhelatan Sail Selat Karimata 2016, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Pemerintah Provinsi Jambi sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara Sail Selat Karimata 2016 menggelar Seminar Nasional Kemaritiman bertema “Menjadi Negara Maritim Yang Mandiri, Maju, dan Kuat”, di Ballroom Hotel Ratu Convention Centre, Jambi, Kamis (25/8).

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Asep D. Muhammad yang hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan dalam sambutannya mengatakan secara faktual dan berdasarkan konstitusi Indonesia adalah Negara Kepulauan. Untuk itu Indonesia diharapkan bisa menjadi negara maritim yang maju, mandiri, dan kuat.

“Maju dalam arti menguasai iptek dan memiliki basis perekonomian yang kuat, mandiri dalam arti mampu mengelola sendiri sumber daya maritim yang dimiliki secara bebas menentukan masa depannya, sedangkan kuat dalam artian mampu menjaga kedaulatan, berwibawa dan disegani bangsa-bangsa di dunia”, ujar Asep.

Adapun untuk mewujudkan Visi menjadi negara maritim yang mandiri, maju, dan kuat menurut Asep, dibutuhkan 3 Misi. Pertama, harus memperkuat jati diri Indonesia sebagai Negara Kepulauan dan bagsa bahari yang berkarakter.

Kedua, harus mampu mengelola sumber daya alam dan lingkungan maritim secara berkelanjutan dengan memaksimalkan manfaat dan meminimalkan resiko terhadap lingkungan. Ketiga, harus mampu menyediakan infrastruktur konektifitas secara merata, serasi, dan selaras dalam kesatuan ruang negara kepulauan Indonesia.

“Untuk itu Seminar Nasional Sail Selat Karimata ini saya harapkan dapat menghasilkan rekomendasi percepatan perwujudan Indonesia sebagai negara maritim yang maju mandiri dan kuat yang kita cita-citakan,” ungkapnya.

Selain Sesmenko Asep, turut hadir Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat (BPSDMP KP) KKP Rifky Effendi Hardijanto yang mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dan Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar yang mewakili Gubernur Jambi Zumi Zola.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *