Amoroso Katamsi dalam perannya sebagai pak Harto di film G/30 S PKI

MN, Jakarta – Seputar hiruk pikuk pemutaran film Pengkhianatan G/30 S PKI dan instruksi Presiden terkait pembuatan film PKI versi baru untuk generasi milenial mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat. Hal itu juga ditandai dengan pengepungan gedung LBH oleh beberapa ormas karena menggelar diskusi soal Peristiwa 1965.

Sebagian pihak menganggap, pemutaran film Pengkhianatan G/30 S PKI yang dirilis pertama pada tahun 1984 besutan sutradara beken saat itu, Arifin C Noer, mengundang trauma masa Orde Baru. Selain berbau kekerasan, film itu dinilai penuh manipulasi dan terlalu menonjolkan peran Soeharto dan TNI AD.

Tentunya aktivis pro kiri menganggap film ini adalah pembodohan publik ala Orde Baru yang jangan diulangi lagi. Namun, sebagian lagi yang berasal dari kalangan TNI dan kelompok agamis, tetap menganggap bahwa pemutaran film itu perlu agar anak muda zaman sekarang mengetahui kekejaman PKI pada tahun 1965.

Terlepas dari perdebatan itu, tentunya ada nostalgia yang dialami oleh generasi kelahiran akhir 1970-an hingga awal 1990-an soal film Pengkhianatan G/30 S PKI. Film yang diputar setiap malam 1 Oktober sejak 1984 hingga 1997 itu penuh kenangan dari generasi yang terlahir di periode itu.

Dari kewajiban di sekolah untuk menulis ulang karangan di film itu hingga harus sembunyi-sembunyi menonton karena film ini sampai larut malam. Orang tua mana pun menghendaki anaknya yang menonton hanya part 1 saja yang saat itu masih dibawah jam 10. Sedangkan part 2 dan 3 biasanya sudah di atas jam 10 hingga lebih dari jam 12 malam.

Perlu diketahui tokoh utama dari film itu ialah Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad. Ia merupakan aktor penumpas dari Gerakan 30 September yang dirancang oleh Syam Kamaruzaman dan DN Aidit yang kemudian dijalankan oleh Letkol Untung Syamsuri sebagai Komandan Lapangan.

Meskipun baru muncul di pertengahan film pasca terjadi penculikan dan pembunuhan jenderal di Lubang Buaya, Soeharto yang ketika film itu diputar adalah orang nomor satu di negeri ini, berdasarkan adegan film itu langsung mengutus Kolonel Sarwo Edhi Wibowo untuk mencari tahu apa yang terjadi. Praktis, Sarwo Edhi yang saat itu menjabat sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) langsung memerintahkan pasukannya menuju Gambir dan Hotel Indonesia.

Mungkin tak banyak yang tahu siapa pemeran tokoh Soeharto yang legendaris itu. Kecuali bagi yang sudah dewasa di saat itu. Dialah Amoroso Katamsi ayah dari musisi Dody Katamsi.

Sebelum memerankan Pak Harto pada film Pengkhianatan G/30 S PKI, ia juga sudah memerankan tokoh yang sama di film Djakarta 1966 tahun 1982. Dan tak banyak yang tahu pula, aktor kelahiran 1940 yang memainkan berbagai film itu adalah seorang lulusan Institut Angkatan Laut (IAL). Bahkan ia sempat menyandang pangkat terakhir sebagai Laksamana Pertama (Bintang Satu).

Walaupun sedikit informasi yang menerangkan masa penugasannya di TNI AL, namun pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini sangat cocok membawakan peran Pak Harto sebagai sosok militer. Kala itu yang usianya masih 40-an tahun terlihat begitu berwibawa mengenakan kacamata hitam saat memimpin pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya.

Adegan yang tetap diingat ialah ketika mantan Ketua PARFI ini menghisap rokok dalam-dalam saat adegan Pak Harto kebingungan mengusut otak dibalik G/30 S PKI. Seusai menyuruh stafnya, Sudharmono, Pak Harto langsung menemui Bung Karno di Istana Bersama J.Leimena, Mayjen Pranoto Reksosamudro, dan Marsdya Omar Dhani.

Amoroso Katamsi sebagai Pak Harto

Dalam pertemuan itu, Pak Harto didaulat sebagai Pangkokamtib yang bertugas mengamankan situasi, yang secara tidak langsung menggantikan peran Letjen TNI Achmad Yani yang gugur di rumahnya pada malam 1 Oktober 1965.

Seusai itu, Pak Harto langsung menghubungi seluruh jajarannya untuk menyatukan kekuatan menggebuk pasukan yang membelot ke pimpinan Letkol Untung. Adegan demi adegan itu tentu akan terkenang di benak generasi kelahiran 1980-an yang sempat mengisi di ruang alam pikirannya selama 13 tahun.

Kaharuddin Syah

Masih seputar pemeran Pak Harto, tokoh penting yang memimpin negeri ini selama 32 tahun. Kini di dalam film Janur Kuning tahun 1979 yang menceritakan kiprah Pak Harto di Yogyakarta saat memimpin Serangan Umum 1 Maret.

Dialah Kaharudin Syah, pemeran Pak Harto muda yang saat itu keluar masuk hutan kala menyiapkan pasukan untuk serangan besar-besaran ke markas Belanda di Ibukota RI. Aktor yang membintangi beberapa film ini, ternyata juga seorang jebolan TNI AL dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.

Kaharuddin Syah sebagai Pak Harto dalam film Janur Kuning

Sosoknya yang begitu wibawa membawakan Pak Harto muda telah menjadi idola kaum hawa di masa itu. Kaharuddin yang dilahirkan di Tebing Tinggi tahun 1942 ini tutup usia pada 12 Maret 2012 setelah sempat bermain di film terakhirnya, Mihrab Cinta (2010).

Jika film Pengkhianatan G/30 S PKI akan digarap lagi dalam bentuk versi baru sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, lalu siapakah aktor yang akan memerankan sebagai Pak Harto? Apakah dari sosok TNI AL lagi? Kita nantikan rilisnya bersma.

 

(Adit/MN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *