Penulis: Arief Poyuono SE.M.Kom – Komisaris Pelindo

Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060 melalui transisi energi menuju pembangunan rendah karbon. Dalam proses ini, pendanaan berkelanjutan menjadi kunci, tidak hanya dari sisi kapasitas ekonomi tetapi juga dari legitimasi hukum yang mendasarinya.

Pendirian Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) baru menghadirkan peluang strategis untuk memperkuat investasi hijau pada sektor panas bumi, energi surya, serta hilirisasi nikel berbasis dekarbonisasi.

Artikel ini bertujuan menganalisis peran Danantara dalam mendukung transisi energi Indonesia dengan menekankan integrasinya ke dalam kerangka hukum lingkungan.

Seiring upaya dunia untuk mengurangi emisi karbon, pelabuhan tidak hanya perlu mengadopsi cara-cara untuk mengurangi jejak karbon mereka sendiri, tetapi juga harus siap mendukung pelanggan di sektor pelayaran dalam ambisi dekarbonisasi mereka. Untungnya, berbagai opsi rendah karbon dan langkah-langkah “menghijaukan infrastruktur konvensional membawa serta penghematan dan peluang baru.

Sepanjang sejarah panjangnya, pelabuhan selalu menjadi pusat perubahan pola perdagangan dan tren ekonomi global, serta terus menyesuaikan desain dan operasionalnya guna mengakomodasi perkembangan tren transportasi dan kargo. Saat dunia semakin gencar mencari solusi rendah karbon, pelabuhan pun mulai merespons dengan menyempurnakan operasional serta beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Di tengah persimpangan jalan upaya global untuk mengatasi emisi pelayaran, terdapat peluang bagi pelabuhan dan kota tempat pelabuhan tersebut berada untuk memainkan peran yang lebih signifikan dalam menangani perubahan iklim dan pembangunan ekonomi, sembari menjaga kesehatan laut serta kesehatan manusia.
Jika sektor pelayaran global adalah sebuah negara, sektor ini akan menempati peringkat enam besar penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) yang merusak iklim di dunia.

Delapan puluh persen perdagangan internasional yang menjadi tulang punggung ekonomi global serta penyedia barang-barang kebutuhan sehari-hari kita — dilakukan melalui jalur laut dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, dan menghasilkan 3% dari total emisi GRK global. Mengurangi emisi ini merupakan langkah yang sangat mendesak demi melindungi iklim, lautan, perekonomian, dan kesehatan manusia.

Berbagai negara telah mencurahkan perhatian besar pada upaya dekarbonisasi kapal dan pengembangan bahan bakar baru.

Baru-baru ini, setelah melalui proses pengembangan dan negosiasi selama 10 tahun, dunia bersiap mengesahkan kerangka kerja baru dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang akan menciptakan sistem berbasis pasar untuk mendorong dekarbonisasi kapal dan alat alat Pelabuhan
Kapal yang melampaui batas target intensitas karbon akan dikenai denda, sementara kapal yang kinerjanya lebih baik daripada target tersebut akan mendapatkan insentif serta dapat menjual kredit karbon. Sistem ini juga akan menghimpun dana bagi sebuah lembaga internasional yang bertujuan mendorong transisi menuju penggunaan bahan bakar rendah emisi.

Pelabuhan merupakan sumber polusi utama yang menghasilkan emisi berbahaya, namun jarang diprioritaskan dalam upaya perintisan aksi iklim, terlepas dari peran pentingnya bagi laut dan pelayaran global. Dari 50 pelabuhan terbesar di dunia, 42 di antaranya terletak di sekitar kawasan perkotaan; pelabuhan-pelabuhan ini menciptakan lapangan kerja yang menopang perekonomian lokal maupun nasional serta jaringan perdagangan global.

Di tengah persimpangan jalan upaya global untuk mengatasi emisi dari kapal, terdapat momentum dan peluang bagi pelabuhan beserta kota tempatnya berada untuk memainkan peran yang lebih signifikan dalam menangani perubahan iklim dan mendorong pembangunan ekonomi, sembari tetap menjaga kesehatan laut dan manusia.

LANGKAH AWAL UNTUK KEBERHASILAN DEKARBONISASI PADA PELABUHAN

Sejumlah negara dan pelabuhan telah mulai merintis jalan menuju dekarbonisasi pelabuhan secara menyeluruh. Langkah-langkah awal ini memberikan pengalaman berharga yang dapat memfasilitasi kemajuan lebih luas—memberikan wawasan mengenai apa yang berhasil, apa yang tidak, serta kondisi regulasi, keuangan, dan politik apa yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan.

Pelindo mendukung penerapan Green Shipping melalui pengurangan emisi di Pelabuhan berupaya untruk berkontribusi mewujudkan green shipping melalui pemberian jasa di bidang marine, peralatan, solusi pengerukan, galangan, dan jasa utilitas yang berfokus pada pengurangan emisi pada transportasi laut.

Green shipping adalah proses untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh aktivitas kapal yang lebih rendah. Sedangkan, green ship adalah suatu kapal yang menerapkan sebuah teknologi yang bertujuan untuk mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi secara bersamaan.

Pelindo telah melakukan penyiapan dan perencanaan terkait pelabuhan yang berkelanjutan hingga 5 tahun ke depannya. Rencana ini nantinya akan dilakukan secara bersama di lingkup Pelindo Grup dimana sudah dibuat target-target yang dapat dicapai baik dalam 10 tahun mendatang, maupun peta implementasi jangka panjangnya.

Langkah lain yang ditempuh oleh Pelindo adalah elektrifikasi atau de-dieselisasi peralatan. Konversi penggunaan bahan bakar berbasis fosil ke sumber energi yang ramah lingkungan terus ditingkatkan.

Dimana Pelindo akan merealisasikan pelabuhan ramah lingkungan atau disebut juga pelabuhan hijau melalui elektrifikasi pada peralatan maupun kapal-kapal yang dimiliki Pelindo, dan hingga kini elektrifikasi di 125 pelabuhan kelolaan Pelindo telah mencapai 41 banding 59 persen.
Atau jika dilihat dari jumlah alat bongkar muat sekitar 310. yang sudah terelektrifikasi mencapai 126 alat dan yang masih berbasis diesel sebanyak sebanyak 184 alat.

Pelabuhan Barcelona saat ini sedang memasang fasilitas listrik darat (shore power) bagi kapal peti kemas maupun feri penumpang, dengan menggunakan listrik yang bersumber 100% dari energi terbarukan. Pelabuhan tersebut juga berinvestasi pada straddle carrier listrik untuk memindahkan peti kemas sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk memangkas emisi karbon hingga separuhnya pada tahun 2030 (dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2017).

Sementara itu, Pelabuhan Trelleborg di Swedia menargetkan pencapaian emisi nol bersih (net-zero emissions) pada tahun 2040 dan tengah menjajaki berbagai opsi bahan bakar ramah lingkungan. Pelabuhan ini juga sedang membangun “koridor hijau” yang bertujuan menciptakan rute transportasi rendah emisi bersama pelabuhan-pelabuhan mitra.

Di Tiongkok, Pelabuhan Shanghai telah menyusun rencana kerja untuk mendorong transisi menuju bahan bakar maritim alternatif. Langkah ini akan meningkatkan pasokan gas alam cair (LNG), metanol, dan amonia untuk pengisian bahan bakar kapal (yang dikenal sebagai bunkering). Sebuah pusat dekarbonisasi maritim juga direncanakan untuk membantu mengoordinasikan upaya transisi menuju bahan bakar alternatif tersebut.

Di Belanda, pusat perdagangan utama seperti Rotterdam telah menetapkan tujuan yang jelas untuk menjadi pusat pelayaran ramah lingkungan di Eropa. Mereka, serta sejumlah pelabuhan yang lebih kecil termasuk Walvis Bay di Namibia telah mulai melakukan uji coba produksi hidrogen hijau.

MEMINIMALKAN PENGERUKAN UNTUK DEKARBONISASI PADA PELABUHAN

Terdapat berbagai opsi rendah karbon dan langkah ramah lingkungan yang dapat (dan dalam beberapa kasus sudah) diterapkan oleh pelabuhan, antara lain: mengoptimalkan operasi pengerukan dan, jika memungkinkan, memanfaatkan material hasil pengerukan demi kelestarian lingkungan; merancang infrastruktur pelabuhan dengan penggunaan material konstruksi seminimal mungkin; menghadirkan unsur keanekaragaman hayati pada struktur yang sudah ada maupun yang baru; memanfaatkan lokasi pelabuhan secara maksimal untuk menghasilkan energi terbarukan di area pelabuhan; menyediakan layanan bagi industri tenaga angin lepas pantai; serta beradaptasi untuk mendukung evolusi desain kapal seiring beralihnya industri ke bahan bakar rendah karbon dan nol karbon.

Mengurangi emisi melalui penyempurnaan praktik dan teknik pengerukan merupakan salah satu langkah paling nyata bagi pelabuhan untuk menekan jejak karbon; langkah ini dapat menghasilkan penghematan biaya yang signifikan sekaligus memberikan manfaat ekologis.
Untuk mengurangi volume material yang dikeruk, pemahaman mendalam mengenai pergerakan kapal di dalam pelabuhan dan alur akses menjadi kunci utama.

Simulasi navigasi dapat digunakan untuk memodelkan manuver kapal acuan desain guna menentukan secara lebih presisi area mana yang memerlukan pengerukan.

Kami baru-baru ini menerapkan pendekatan untuk membantu klien mengurangi kebutuhan pengerukan pemeliharaan (serta emisi karbon terkait) secara signifikan; langkah ini juga menghemat biaya pengerukan dan akan terus memberikan penghematan besar dalam kegiatan pengerukan pemeliharaan di masa mendatang

MEMULIHKAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

Untuk dermaga baru maupun yang sudah ada, terdapat berbagai langkah yang dapat diambil untuk mendorong flora dan fauna menghuni struktur tersebut, yang dapat membantu mengimbangi sebagian keanekaragaman hayati yang hilang selama tahap konstruksi.

Contoh penerapannya pada struktur dinding adalah dengan memasukkan elemen desain berupa serangkaian tingkat bertingkat atau sejumlah platform berukuran lebih kecil. Area-area ini bertujuan untuk memungkinkan akumulasi sedimen secara lokal guna mendorong kolonisasi oleh infauna dan epifauna.

Struktur dinding lainnya dapat ditingkatkan dengan menciptakan permukaan yang tidak terlalu halus dan memiliki struktur lebih kompleks, sehingga memungkinkan melekatnya alga, kerang (mussel), teritip, dan fauna lainnya.

Hal ini mungkin cocok diterapkan pada dinding dermaga yang memiliki struktur tambat terpisah (mooring dolphins), misalnya, karena kapal menambat jauh dari dinding utama dan tidak bersentuhan langsung dengan dinding yang dibuat bertingkat atau bertekstur kasar tersebut.

Terdapat banyak contoh pemecah gelombang (breakwater) yang dapat direkayasa untuk menyediakan habitat ideal bagi berbagai kelompok hewan.

Kerang (mussel) dan tiram adalah contoh yang tepat, karena hewan-hewan ini sering hidup pada substrat keras atau berbatu. Desain unit pelindung beton untuk pemecah gelombang dapat dimodifikasi untuk menarik dan mempertahankan spesies yang secara alami ada di wilayah tersebut.

Struktur yang dimodifikasi ini dapat berkontribusi pada keanekaragaman hayati laut setempat, meningkatkan ketahanan populasi alami, serta berpotensi menambah hasil tangkapan yang dapat menjadi sumber pangan bagi masyarakat sekitar.

BAHAN BAKAR RENDAH KARBON

Terdapat peluang bagi pelabuhan untuk menyediakan fasilitas pendukung bagi aktivitas pelayaran rendah karbon dan nol karbon di masa depan. Sektor pelayaran sedang memulai transisi menuju emisi yang lebih rendah hingga nol emisi; hal ini mengharuskan pelabuhan untuk mempertimbangkan infrastruktur seperti fasilitas pengisian bahan bakar LNG (bunkering) dan penyediaan listrik dari darat (onshore power) yang dapat mengurangi dampak iklim sembari menunggu kematangan teknologi bahan bakar alternatif baru.

Infrastruktur ini juga memberikan manfaat berupa peningkatan kualitas udara di sekitar pelabuhan, pengurangan risiko pencemaran air, serta perbaikan hubungan dengan masyarakat sekitar. Saat ini, klien telah bekerja sama dengan kami untuk mengidentifikasi lokasi optimal bagi fasilitas pengisian bahan bakar LNG serta mengkaji aspek keselamatan manuver kapal pengangkut bahan bakar LNG.
Sumber energi alternatif juga menawarkan berbagai peluang bagi pelabuhan.

Pelabuhan tidak hanya dapat mempertimbangkan penggunaan atau bahkan produksi bahan bakar rendah karbon di lokasi pelabuhan itu sendiri, tetapi juga berpotensi menyediakan layanan bagi sektor energi terbarukan yang bernilai miliaran poundsterling. Seiring dengan pengembangan sektor pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai (offshore wind) ke perairan yang lebih dalam, beberapa pelabuhan mulai mempertimbangkan penyesuaian fasilitas untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut akan area luas untuk penempatan material dan fabrikasi, serta pangkalan pendukung yang memadai.

Untuk jangka panjang, hal ini juga dapat mencakup kegiatan transfer dan penyimpanan energi dalam bentuk hidrogen atau amonia.

Selain ditenagai oleh bahan bakar baru, kapal juga akan mengangkut bahan bakar tersebut. Dalam jangka panjang, bahan bakar ini bisa berupa biofuel, amonia, dan hidrogen, dengan kemungkinan adanya tahap transisi menggunakan bahan bakar rendah emisi seperti LNG.

Pelabuhan perlu memantau potensi penurunan permintaan terhadap produk-produk tertentu, seperti batu bara, minyak, dan gas, serta meresponsnya dengan infrastruktur baru guna mengakomodasi perubahan jenis muatan kapal secara aman dan efisien.

Di negara-negara seperti Inggris, di mana sebagian besar pelabuhan dimiliki oleh sektor swasta, investasi mitigasi perubahan iklim mungkin tidak memiliki alasan finansial yang kuat dalam jangka pendek.

Sebaliknya, investasi semacam itu akan dilakukan sebagai respons terhadap peraturan nasional dan internasional serta tekanan dari pemegang saham dan masyarakat; namun, keberhasilan penerapannya dapat memberikan keuntungan komersial bagi pelabuhan yang dinilai memiliki perencanaan masa depan, bertindak secara bertanggung jawab, dan memimpin sektor ini.

Untuk merespons tuntutan pengurangan emisi secara tangkas dan berkelanjutan secara ekonomi, pelabuhan perlu menemukan solusi kreatif dalam memperbarui dan memelihara infrastruktur (termasuk alur akses dan area pengerukan lainnya).

Di masa depan, kapal-kapal akan memiliki skala dan karakteristik yang berbeda, sehingga aktivitas di pelabuhan pun akan menuntut kebutuhan ruang yang berbeda pula. Beberapa pelabuhan perlu dirancang sedemikian rupa agar industri energi masa depan dapat beroperasi di sana secara aman dan efisien. Studi simulasi navigasi dapat membantu mengoptimalkan desain infrastruktur baru tersebut.

Langkah beralih ke solusi rendah karbon membuka peluang baru bagi Pelabuhan seperti menawarkan layanan baru dan menghemat biaya melalui penerapan praktik-praktik baru namun hal ini memerlukan pendekatan yang tangkas.

Seiring dengan adanya tekanan bagi pelabuhan untuk mengurangi emisi dan menjadi lebih berkelanjutan, langkah-langkah seperti pemanfaatan kembali sedimen hasil pengerukan, pemulihan habitat, dan penanaman vegetasi menjadi semakin penting. Pelabuhan perlu memperluas cakupan strateginya untuk mencakup berbagai opsi dekarbonisasi.

EMPAT MANFAAT UTAMA DEKARBONISASI PELABUHAN

Dekarbonisasi pelabuhan dapat memberikan keuntungan empat lapis (quadruple win), yakni menyediakan opsi efektif untuk mitigasi perubahan iklim, peluang ekonomi, peningkatan kesehatan manusia, serta manfaat bagi ekosistem laut.

1) Kekuatan Besar dalam Melawan Perubahan Iklim

Dekarbonisasi sektor pelayaran dan pelabuhan merupakan salah satu peluang paling nyata dan dapat diwujudkan saat ini untuk mendukung pengembangan ekonomi kelautan yang berkelanjutan sekaligus memitigasi dampak perubahan iklim. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan di tujuh sektor ekonomi kelautan dapat menyumbang lebih dari 35% pengurangan emisi yang diperlukan pada tahun 2050 guna membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit).

Dari sektor-sektor tersebut, dekarbonisasi pelayaran dan pelabuhan dapat memitigasi emisi sebesar dua gigaton setara karbon dioksida per tahun pada tahun 2050 jumlah ini setara dengan lebih dari 3% emisi gas rumah kaca global, atau setara dengan meniadakan sekitar 430 juta mobil berbahan bakar bensin dari jalan raya setiap tahunnya.

2) Lebih Banyak Peluang Ekonomi dan Lapangan Kerja

Dekarbonisasi pelabuhan dapat menciptakan peluang ekonomi baru, meningkatkan ketahanan di sektor energi dan pangan, serta memperkuat konektivitas dan kemitraan perdagangan global yang stabil. Menurut Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyimpulkan bahwa ekonomi kelautan global yang berkelanjutan akan terus tumbuh dengan produksi yang meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan tahun 2020.

Jika dilihat dari aspek lapangan kerja, dekarbonisasi pelabuhan dan pelayaran berpotensi mendukung penambahan 13,3 juta lapangan kerja pada tahun 2050 mencakup bidang pembuatan kapal, produksi bahan bakar terbarukan dan alternatif, modernisasi (retrofitting) kapal dan fasilitas pelabuhan, pembongkaran kapal (shipbreaking), pekerjaan kelistrikan, dan lain-lain dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa (business-as-usual).

3) Hasil Kesehatan yang Lebih Baik bagi Masyarakat

Dekarbonisasi pelabuhan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan manusia. Kapal-kapal yang saat ini beroperasi menggunakan bahan bakar minyak berat (heavy fuel oil) menghasilkan polusi udara beracun yang mencakup partikulat, karbon hitam, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan karbon monoksida. Dekarbonisasi kapal, jika diterapkan secara luas di berbagai pelabuhan di seluruh dunia, dapat membantu mencegah hingga 265.000 kematian dini setiap tahunnya. Peningkatan kualitas udara tidak hanya akan bermanfaat bagi pekerja pelabuhan tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Pelabuhan yang banyak di antaranya berada dalam kondisi kurang beruntung dibandingkan dengan kawasan permukiman kota lainnya.

Hal ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anak, karena mereka menghirup udara dalam volume yang lebih besar dibandingkan berat tubuh mereka dan sedang berada pada tahap perkembangan kritis, sehingga membuat mereka sangat rentan terhadap dampak polusi udara.

4) Ekosistem Laut yang Lebih Sehat

Kesehatan laut akan mendapat manfaat dari dekarbonisasi pelabuhan melalui potensi berkurangnya frekuensi dan skala tumpahan minyak serta bahan bakar diesel. Dekarbonisasi juga akan mengatasi masalah pengasaman laut lokal yang terkait dengan emisi nitrogen oksida dan sulfur dioksida dari bahan bakar fosil. Seiring dengan upaya pemulihan habitat pesisir yang lebih luas, kita mungkin akan mulai melihat kembalinya alam ke kawasan pelabuhan.

PETA JALAN PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR DAN ANALISIS BIAYA MANFAAT UNTUK KONVERSI SYSTEM DI PELINDO

Pelabuhan Indonesia (Pelindo) memulai transisi dekarbonisasi dengan dimulai melalui elektrifikasi kendaraan operasional darat di pelabuhan seperti traktor terminal, derek (crane), straddle carrier, forklift berkapasitas besar, dan kendaraan angkut barang berat yang berfungsi sebagai peralatan penanganan kargo.

Kendaraan-kendaraan ini digunakan secara intensif dan terus-menerus di pelabuhan, serta umumnya ditenagai oleh mesin pembakaran internal diesel model lama. Kendaraan-kendaraan tersebut mengonsumsi sekitar 15% dari total energi pelabuhan, namun menyumbang hingga 30% dari emisi partikulat. Beralih ke tenaga listrik akan menghasilkan perbaikan signifikan pada kualitas udara setempat sekaligus mengurangi polusi suara.

Selain itu, menyiapkan elektrifikasi kapal Pelabuhan milik Pelindo yang melayani rute jarak pendek termasuk kapal tunda (tugboat), kapal pandu (pilot boat), kapal penambat (mooring tender), dan kapal pemeliharaan berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca pelabuhan hingga 25%. Elektrifikasi diterapkan sebagai metode untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi emisi gas rumah kaca berbasis pelabuhan, dengan Norwegia sebagai pelopor utamanya.

Program Pelindo selanjutnya adalah mendorong kapal-kapal besar yang singgah di Pelabuhan milik Pelindo seperti kapal pesiar dan kapal kargo (misalnya kapal kontainer) untuk menggunakan listrik yang dipasok dari darat (dikenal juga sebagai cold ironing) saat bersandar.

Langkah ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan dan memperbaiki kualitas udara dengan segera, karena meminimalkan kebutuhan untuk menyalakan generator diesel. Analisis menunjukkan bahwa emisi karbon yang dihasilkan oleh kapal saat bersandar dapat berkurang antara 30% hingga 60%, tergantung pada sumber listrik darat yang digunakan.

Untuk mendukung elektrifikasi fasilitas darat di Pelabuhan Pelindoakan meningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan dan kapasitas penyimpanan baterai (melalui sistem microgrid) menjadi hal yang sangat penting. Pembangkit listrik tenaga angin, surya, dan pasang surut air laut menunjukkan potensi besar di pelabuhan, serta dapat semakin meningkatkan ketahanan operasional terhadap gangguan jaringan listrik utama maupun fluktuasi harga energi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *