
Maritimnews, Jakarta – Program Transfer of Technology (TOT) antara Indonesia dan Korea Selatan terkait pembangunan Kapal Selam Changbogo yang dicanangkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan RI pada Minimum Essensial Force (MEF) Renstra pertama 2010-2014 masih menemui kendala. Hal itu disampaikan oleh Sekjen Kemhan Laksdya TNI Widodo di sela-sela penyerahan KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934 dari Kemhan ke TNI AL di Dermaga Kolinlamil, Jakarta, (15/316).
Menurut mantan Wakasal itu, pembangunan yang sudah direncanakan sejak tahun 2014 itu masih menemui kendala-kendala teknis di antaranya mengenai kesiapan PT PAL Indonesia selaku perusahaan galangan kapal nasional yang ditunjuk pemerintah dalam proyek ini.
“Tentunya pengadaan kapal selam ini sudah direncanakan dari jauh-jauh hari dan ini beberapa konsekuensi terkait kendala teknis harus kita hadapi,” ujar Widodo.
Lebih lanjut, lulusan AAL tahun 1983 ini mengaku tidak bisa memaksakan kondisi tersebut. “Jika kita paksakan takutnya tidak optimal dalam proses ini. Dan mudah-mudahan keterlambatan ini tidak menggangu mekanisme dari MEF itu sendiri,” terangnya.
Kapal Selam Changbogo yang dibangun atas kerja sama dengan galangan kapal Korea Selatan Daewoo Shipbuilding Marine and Engineering (DSME) itu dipesan sebanyak 3 unit oleh Indonesia. Dengan mekanisme pembangunannya, yaitu satu kapal full dibangun di Korea, setengah di Korea dan setengah di Indonesia dan terakhir full dibangun di Indonesia dalam hal ini PT PAL Indonesia.
“Saat ini PT PAL tengah melakukan persiapan tinggal bagaimana pemerintah mengucurkan anggaran untuk meningkatkan kapasitas, barangkali assembling-nya,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Pangarmabar itu.
Secara umum, Kapal Selam Changbogo atau DSME209/1400 memilki beberapa kelebihan dari sisi teknologinya. State of the art technology yang dimiliki oleh kapal selam ini meliputi Latest combat system, Enhanced operating system, Non-hull penetrating mast and Comfortable accommodation. Dan sebagai elemen terpenting dalam kapal selam, baterai buatan Korea digunakan sebagai sumber tenaga utamanya.
Jenis baterai kapal selam buatan Korea ini digunakan pada semua kapal selam Korea. Salah satu poin yang mengejutkan adalah mengenai Persenjataan dan Sistem kendali senjatanya. Selain dipersenjatai 8 buah tabung peluncur Torpedo untuk torpedo berukuran 533 mm Blackshark juga mampu untuk men-deploy ranjau laut, Ia juga memiliki desain yang mampu untuk meluncurkan rudal.
Beberapa informasi terakhir yang dihimpun maritimnews.com, PT PAL Indonesia masih menyiapkan beberapa instrumen pendukung terkait pembangunan kapal selam ini. Kucuran anggaran dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) masih ditunggu realisasinya dari pemerintah.
Selain itu, Kemhan saat ini juga fokus melakukan penjajakan dengan Rusia terkait pemesanan pesawat Sukhoi-SU 35. Dalam waktu dekat, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryaccudu akan melakukan lawatan ke negeri Beruang Merah tersebut guna membahas lebih lanjut tentang pemesanan itu.(TAN)







ayook PT PAL jadilah kebanggaan indonesia