
Maritimnews, Jakarta – Untuk kesekian kalinya di awal 2016 tepatnya (13/2) malam lalu KM Azula tengelam. KM Azula kandas di perairan Asmat pada malam sekitar pukul 20.03 WIT akibat mengalami kebocoran setelah masuk ke area perairan dangkal. Sebanyak 13 orang anak buah kapal (ABK) KM Azula yang tenggelam di perairan Asmat, Papua pada Sabtu (13/2) malam, hingga kini belum ditemukan.
Sekjen Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri turut angkat bicara dalam fenomena ini. Menurutnya, kasus ini kembali mencoreng dunia pelayaran Indonesia yang hendak menjadi poros maritim dunia.
“Ironi negara maritim setelah kemarin di tahun 2015 APMI telah mencatat bahwa ada 3 kejadian besar mengenai tengelamnya kapal. Di antaranya adalah KM Wihana Sejahtera pada bulan Oktober, KLM Arief Sosial pada bulan Desember, dan di akhiri KM Marina pada bulan yang sama. Tengelamnya KM Azula menunjukan jelas tidak hadirnya pemerintah di laut,” ulasnya.
Hal ini tentunya sekali lagi harus menjadi warning bagi pemerintah dan seluruh stakeholder yang berhubungan dengan konstruksi perkapalan, owner kapal, dan pemberi izin kapal. Kapal KM Azula merupakan jenis kapal Tanker yang berakibat bukan hanya terhadap keselamatan jiwa para kru kapal melainkan juga pencemaran laut yang terjadi akibat kapal tersebut tengelam.
“Pemerintah bersama seluruh stakeholder harus dapat segera membentuk tim khusus untuk dapat menangani kasus tengelamnya kapal. Sekali lagi saya sampaikan ini bukan hanya menyangkut program poros maritim, melainkan integritas maritim Indonesia di mata dunia. Bagaimana klasifikasi kita akan masuk kedalam IACS jika kasus seperti ini terus terjadi,” selorohnya.
APMI berharap, pemerintah bersama seluruh stakeholder dapat membahas dengan serius mengenai kasus kecelakaan kapal. “Jangan sampai lagi-lagi kita bicara maritim secara konseptual namun, hilang substansi secara kontekstual,” pungkas lulusan Perkapalan Undip tersebut. (AN)






