
MNOL, Jakarta – Mantan Dubes Irak tahun 2012-2015 Letjen TNI Mar (Purn) Safzen Noerdin dikisahkan pengalamannya dalam sebuah buku yang berjudul ‘Hari-Hari Rawan di Irak’. Buku itu secara garis besar berisi suka dukanya kala menjadi Dubes di daerah rawan konflik seperti Irak.
Sebagai mantan Komandan Korps Baret Ungu, maka peluncuran buku itu diselenggarakan di Graha Korps Marinir, Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun No. 40 Jakarta Pusat, Rabu malam (30/03/2016). Acara yang dibuka langsung oleh Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lanana, S.E. itu antara lain turut dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, A.M. Fachir, Laksamana (Purn) Widodo AS, Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono, Laksamana TNI (Purn) Slamet Subiyanto, Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdjianto, Penasehat Menhan RI Bidang Ekonomi Adnan Ganto, MBA, para Pejabat Tinggi TNI/Polri dan Sipil, dan undangan lainnya.
Dankormar dalam sambutannya mengungkapkan bahwa buku ini dapat memberi pencerahan dan informasi bagi warga Indonesia tentang Irak secara profesional.
”Bukan hanya sekedar negeri penuh dengan konflik dan kekerasan, tetapi Irak juga sebagai negeri yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan sekaligus sebagai tantangan dan peluang bagi hubungan bilateral antara kedua negara,” ujar Buyung.
Buku setebal 350 halaman yang ditulis oleh Dr. Satrio Arismunandar, wartawan senior yang pernah beberapa kali ke Irak, menceritakan pengalaman pria kelahiran Aceh 64 tahun silam itu selama tiga tahun sembilan bulan menjadi Dubes Ri. Dalam kurun waktu tersebut, Safzen banyak menghabiskan waktu bersama dengan para staf-nya, di mana kerap mengalami berbagai hal menegangkan di Irak seperti, ancaman bom hingga serangan kelompok ekstrem ISIS. (TAN)






