
MNOL, Bogor – Kunjungan Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan ke kediaman Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto di hambalang, Bogor, (31/10/16) lalu, membawa catatan tersendiri bagi kedua tokoh nasional itu lantaran pernah menjadi rival dalam Pipres 2014 silam.
Usai momen tersebut, Luhut yang juga dikenal sebagai jebolan Korps Baret Merah (Kopassus TNI AD) bersama-sama dengan Prabowo itu juga memiliki kisah menarik di antara keduanya. Mereka kerap berbeda pendapat dalam beberapa sudut pandang sejak masih berpangkat Letnan.
Namun sebagai tokoh nasional, Luhut memberikan kesannnya dalam sebuah komentar di akun facebook-nya yang menyatakan kami tetap satu atas nama NKRI.
“Saya kenal Pak Prabowo sejak dari pangkat Letnan. Sudah lebih dari 30 tahun kami berteman, walaupun kadang kami berbeda pendapat. Tapi kalau kami sudah bicara tentang NKRI, kami jadi sepakat, kami jadi satu dan kokoh. Kami tidak mau ditawar soal itu,” tulis Luhut.
Selanjutnya, mantan Plt Menteri ESDM ini juga mengungkapkan pertemuan bersejarah yang berlangsung selama dua jam tersebut. Sebelumnya, Luhut yang diutus oleh Jokowi untuk menemui Prabowo terlebih dahulu menyatakan maksud Presiden untuk memenuhi janji yang diucapkannya 2014 silam, yakni untuk mengunjungi kediaman Pak Prabowo di Hambalang.
Karena humble dan sangat menghargai sistem, Pak Prabowo awalnya menyampaikan kesanggupannya untuk menghadap ke Istana Negara. Tetapi akhirnya beliau sepakat juga bahwa Pak Jokowi yang akan pergi ke Hambalang,” kata Luhut.
Pertemuan kedua tokoh nasional kemarin di Hambalang itu berlangsung dalam suasana yang sangat cair, meskipun dulu mereka merupakan rival ketat. “Banyak guyonan di sana-sini meski tetap ada diskusi-diskusi serius. Topik pembicaraan adalah seputar masalah keamanan, ekonomi nasional, sampai tentang berkuda,” kenang Luhut.
Sambungnya, ada satu titik di mana mereka bersepakat bahwa negara ini harus dikelola dengan demokrasi yang baik, tanpa perpecahan. Boleh saja kita berbeda pendapat, tapi jangan sampai kita saling mengeluarkan sumpah serapah.
“Saya pikir pertemuan kemarin merupakan contoh kematangan berdemokrasi. Bahwa rivalitas boleh saja, tapi persahabatan harus tetap dipegang sehingga tidak melahirkan perasaan dendam. Yang paling penting, pada pertemuan kemarin mereka memberikan contoh kepada elit-elit Indonesia tentang bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang benar.Jangan lupa bahwa kita hidup di negara yang majemuk,” pungkasnya. (Tan)






