
MNOL, Jakarta – Mantan Wamenhan Letjend TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoedin menegaskan TNI adalah pengawal kedaulatan rakyat, yang lahir dari rakyat serta berjuang bersama rakyat mempertahankan tanah air tercinta ini. Hal itu ia sampaikan dalam pesan singkatnya yang diterima redaksi, Senin (30/1/17).
Pesan tersebut mencerminkan kegundahan hatinya kala melihat fenomena yang berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Ia menyatakan sejak 2014 marak kampanye “war by proxy” secara aktif baik ke tubuh TNI maupun ke simpul heterogen komponen bangsa.
“Kampanye yang sekarang sering disampaikan oleh panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo itu untuk mengingatkan bangsa ini betapa rawan keamanan nasional bagi negara kita yang memiliki sumber daya alam di atas geografi yang multi guna ini,” terang Sjafrie dalam pesan singkatnya.
Jika terus-menerus mengalami penetrasi maka akan berakibat rusaknya kesejahteraan dan keamanan bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai falsafah hidupnya.
“Early warning“ TNI ini adalah kewajaran universal bagi militer profesional di negara manapun dengan sebutan “Ultima Ratio”. Ini mengingatkan bangsa dan negara untuk cermat dan waspada terhadap gelagat yang ditimbulkan kerusakan bagi kelangsungan hidup negara,” ujarnya lagi.
Di sisi lain, hal itu merupakan tanggung jawab moral TNI kepada konstitusi dan rakyat yang melahirkannya. Mantan Pangdam Jaya ketika Reformasi 1998 itu mengungkapkan kampanye war by proxy, isu makar, dan “Apel Nusantara Bersatu” harus dijelaskan oleh TNI agar tidak terjadi bias tafsir di tengah masyarakat kita.
“Inilah yang memerlukan penjelasan dari TNI sebagai penjaga dan pengawal kedaulatan rakyat kepada rakyat sebagai pemilik asli kedaulatan rakyat agar fenomena yang tampak kabur bisa jernih di mata rakyat,” tandas pria asal Sulawesi Selatan itu.
Indonesia di tengah visi poros maritim dunia saat ini memang dihadapkan pada situasi War by Proxy yang kemudian melahirkan fenomena-fenomena perpecahan. Gejala seperti yang harusnya bisa segera diantisipasi oleh pemerintah dan TNI sebelum meluas kepada spektrum yang lebih besar.
Sebagai salah seorang keluarga besar yang lahir dan dibesarkan selama 34 tahun oleh almamater TNI, ia ingin mengingatkan ketajaman pena sejarah mencatat perjalanan TNI yang senantiasa tegas dan komitmen bersikap sebagai Warga Negara-Patriot –Kesatria dan Prajurit.
“Itulah Wasiat Sapta Marga yang perlu diserap maknanya oleh TNI dari generasi ke generasi bahwa ia lahir dari rakyat yang berjuang,” pungkasnya. (Tan/MN)






