Ilustrasi; Cuaca Ekstrem di laut

MNOL, Jakarta – Maraknya cuaca ekstrem dua pekan terakhir menyebabkan banyak nelayan enggan melaut karena memiliki risiko yang besar. Praktis pendapatan mereka juga menurun dan harga ikan pun membumbung tinggi.

Tidak hanya itu, risiko kegagalan usaha pembudidayaan ikan dan pergaraman juga bakal dialami oleh pembudidaya ikan dan petambak garam.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim mendesak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk melakukan beberapa hal strategis. Di antaranya, mempercepat penyaluran program asuransi perikanan dan asuransi pergaraman bagi nelayan kecil, pembudidaya ikan, dan petambak garam yang belum terjangkau.

“Kita hasus memastikan penggunakan dana APBN/APBD untuk menanggulangi dampak perubahan iklim yang dialami oleh nelayan kecil, pembudidaya ikan, dan petambak garam tepat sasaran dan kegunaannya,” ungkap Halim biasa disapa.

Ia mencatat, jumlah hari nelayan melaut mengalami penurunan drastis hingga 85%. Dalam kondisi itulah, penghasilan nelayan juga anjlok hingga 90%. Penurunan pendapatan ini pun dialami oleh pembudidaya ikan dan petambak garam.

“Pemerintah mesti bergerak cepat untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh nelayan di tengah kebutuhan hidup mereka yang juga terus berjalan,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Inovasi dan tanggung jawab kebijakan itu sejatinya juga sudah diatur dalam UU No. 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam. Pemerintah sebagai pemegang amanat konstitusi tidak ada alasan untuk tidak menjalankan itu.

Inovasi Teknologi

Selain nelayan, cuaca ekstrem itu juga berdampak pada seluruh jenis pelayaran baik yang mengangkut penumpang maupun barang. Dalam visi Poros Maritim Dunia, adanya cuaca ekstrem justru menjadi tantangan untuk menciptakan inovasi.

Di tempat terpisah, mantan Kasal Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Shondakh juga mengamati fenomena cuaca ekstrem itu di berbagai daerah. Menurutnya, fenomena itu adalah kejadian baru yang marak sekitar satu dasawarsa terakhir.

“Cuaca ekstrem baru beberapa tahun ini saja. Memang perubahan alam secara cepat itu tidak bisa kita hindari. Hampir setiap hari kita melihat di media peringatan larangan melaut dari BMKG,” kata Kent saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, sambung Kent, sudah seharusnya diciptakan teknologi yang dapat menghadapi situasi tersebut. “Para pembuat kapal dan galangan sudah seharusnya memikirkan teknologi untuk menghadapi kondisi ini. Karena banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari laut,” tandasnya.

Senior Manajer Divisi Asset PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), Sjaifuddin Thahir selaku ahli perkapalan menyatakan bagi kapal dan pelaut tidak ada kompromi dalam menghadapi ganasnya gelombang laut.

“Apapun jenis kapalnya di dunia akan takluk dengan ganasnya laut. Oleh karena itu kita sebagai masyarakat maritim jangan bermain-main dengan ganasnya laut. Jangan menyepelekan akan keselamatan kapal, penumpang dan muatan di laut,” ujar Thahir biasa akrab disapa.

Lebih lanjut, lulusan Perkapalan ITS ini merujuk berdasarkan Surat Edaran dari IMO melalui dokumen MSC.1/Circ.1228 tentang pedoman bagi Nakhoda kapal untuk menghindari situasi laut yang membahayakan, situasi cuaca buruk di laut yang berbahaya dan kondisi laut yang tidak bersahabat bagi pelayaran.

“Dalam edaran panduan IMO tersebut disampaikan bahwa kondisi cuaca buruk di laut antara lain gelombang laut dan gelombang angin atau kondisi gelombang yang meningkat dari hasil pengamatan. Ini harus selalu diantisipasi.

Bila kapal berlayar dalam kondisi cuaca buruk, kapal cenderung akan menghadapi berbagai macam fenomena laut yang berbahaya, yang dapat menyebabkan kapal bisa terbalik atau gerakan gelombang laut dapat memperparah dan menyebabkan kerusakan muatan, kendaraan, peralatan dan personel yang ada di atas kapal.

Kepekaan kapal harus dimiliki dalam menghadapi fenomena laut yang berbahaya. Kepekaan tergantung pada parameter stabilitas kapal yang telah disahkan, kepekaan tergantung pada bentuk dan konstruksi lambung kapal yang telah diperiksa badan klasifikasi, ukuran kapal dan kecepatan kapal.

“Ketanggapan kapal terhadap situasi yang berbahaya dan kemungkinan kapal terbalik tentunya berbeda untuk setiap kapal,” tambahnya.

Sesuai dengan perkembangan teknologi, beberapa kapal telah dilengkapi dengan komputer yang dapat melakukan evaluasi terhadap stabilitas kapal, dan kapal ada yang menggunakan software khusus untuk memperhitungkan stabilitas yang aktual dan karakteristik dinamis dari kapal dalam kondisi perjalanan.

“Namun perlu diperhatikan bahwa software tersebut harus mendapat persetujuan dari pihak flag state. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut hanya dapat dianggap sebagai alat pendukung saja dalam proses pengambilan keputusan di kapal,” pungkas Thahir. (Aljun/MN)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *