
MNOL, Jakarta – Salah satu bentuk kerjasama pertahanan Indonesia dan Australia diwujudkan dalam bentuk seminar internasional yang rutin diselenggarakan setiap tahun sejak 2011 oleh Universitas Pertahanan (Unhan) bersama Ikatan Alumni Pertahanan Andonesia-Australia (IKAHAN).
Dalam diskusi kali ini, acara berlangsung di Hotel Four Seasons, Jakarta (9/5) yang membahas soal kerjasama pertahanan dan keamanan di kedua negara dan dampaknya bagi kawasan.
Dekan FMP Laksda TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D yang tampil sebagai pembicara kedua menyampaikan beberapa pemikiran akademis dalam paparannya berjudul ‘Developing Indonesia’s Military and Non Military Maritime Security Capabilities.
Secara khusus ia membahas implementasi kepentingan nasional pada Trilateral Maritime Patrols on Sulu Sea oleh ketiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Filipina. Hal tersebut merupakan tanggung jawab negara pantai berdasarkan Hukum Laut Internasional 1982 yang telah diratifikasi ke dalam UU Nomor.17 Tahun 1985.
Selain itu dibahas pula pentingnya kerjasama intelijen dalam skema arsitektur kawasan untuk mengantisipasi dinamika konflik di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan.
Ketiga pembicara lainnya adalah Dr. John Blaxland dari Australian National University, Dr. Ian Montratama, S.E., M.E.B., M.Si (Han) dari Institute for Defense and Strategic Research (IDSR) dan Pak Andrew W. Mantong, S.Sos., M.Sc. dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Seminar ditutup dengan diskusi panel yang membahas beberapa fenomena maritim, seperti masa depan Selat Malaka jika Terusan Kra di Thailand benar-benar akan dibuka. Diskusi panel berlangsung intens dengan banyaknya tanggapan dari seluruh peserta seminar.
Acara ini dihadiri oleh para pejabat Kemhan RI, Lemhannas RI, Kedubes Australia di Jakarta, Mabes TNI dan Mabes ketiga Angkatan, Perwira Siswa Sesko Angkatan, para dosen dan mahasiswa Unhan dari Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP), Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) dan Fakultas Keamanan Nasional (FKN).
(Adit/MN)






