Ilustrasi: Lafadz Allah di langit
Ilustrasi: Lafadz Allah di langit

MNOL, Jakarta – Visi poros maritim dunia yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2014 silam sejatinya merupakan visi luhur yang berangkat dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia beserta kejayaan Nusantara. Namun, 2 tahun perjalanan visi tersebut, kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia semakin jauh dari tatanan yang semestinya, yaitu berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sehingga timbul fenomena yang sempat menggoncangkan keberagaman kita sebagai bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
 
Ucapan yang mengarah pada penistaan agama apalagi dilakukan oleh seorang Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), jelas menyayat kehidupan dalam negara Pancasila. Buah dari ucapan tersebut menghasilkan suatu gejolak sosial yang bukan hanya mengarah pada diri Ahok, melainkan sudah mengarah kepada pemerintah karena dianggap tidak adil dalam melakukan penegakan hukum.
 
Seorang tokoh pergerakan kebangsaan yang sangat concern terhadap dunia kemaritiman yang biasa disapa Mbah Liem ini menuturkan fenomena 4 November 2016 mendatang tidak bisa dianggap sepele.
“Ini merupakan dentuman sebuah energi Illahi melalui ayat Al-Maidah-51 menyeruak ke seantero persada Indonesia, merasuk ke dalam jiwa-jiwa yang hampa namun sejatinya tertindas oleh keangkuhan bangsanya sendiri,” jelas dia.
Lanjutnya, jiwa-jiwa itu yang di dalamnya bersandar hanya pada kekuatan Illahi. Indonesia yang dulunya bernama Nusantara, sebuah negeri yang merupakan replika surga dengan persinggahan beberapa para Nabi, Sebuah Negeri yang diperjalankan siang dan malam, sebuah negeri yang merupakan torehan ayat-ayat Tuhan.
 
“Maka janganlah sekali-kali mempermainkan ayat-Nya di negeri yang diridhai ini,” tambah Mbah Liem. 
Ayat bisa berarti yang tertulis bisa berarti wujud peradaban dan bisa juga berarti yang bersemayam dalam jiwa-jiwa yang tertindas. Tuhan telah memerdekakan bangsa ini dengan Pancasila dan UUD 1945-nya. “Inilah kesatuan integral yang harus terwujud bila menginginkan negeri ini masih ada,” tegasnya.
 
Masih kata dia, meskipun kekuatan Yahudi telah bermain dengan para antek-anteknya untuk menjajah dan ingin menghancurkan Indonesia, kekuatan akhir abad 21 ini tetap akan muncul di negari ini. “Kekuatan itu ialah yang membawa amanah leluhur dan rakyat yang sejati dengan Jiwa Pancasila dan UUD 1945 Asli, jiwa yang bersamanya energi Illahi dan jiwa yang bersamanya energi alam Indonesia,” terangnya.
 
Saat ini dukungan terhadap Aksi Bela Islam II di Istana Negara terus mengalir baik secara langsung maupun tidak langsung dari seluruh penjuru tanah air. Dukungan ini bukan saja dari umat Islam tetapi umat agama lain juga turut mendukung dengan harapan kepada presiden bahwa Ahok harus diproses secara hukum yang berlaku.
 
Jika tidak, maka rakyat menganggap Jokowi turut melindungi Ahok walau pernyataan Jokowi di hadapan ulama MUI, NU dan Muhammadiyah di Istana Presiden, Selasa,(1/11/16) lalu, menyatakan bahwa pemerintah tidak melindungi Ahok. Akan tetapi, kalau terjadi kebuntuan hukum tentu kasus ini akan kembali lagi ke Presiden Jokowi dan menjadi bola liar karena sudah menjadi kasus hukum yang macet atau sengaja dimacetkan.
 
“Menurut ulama dan beberapa kyai arti 4+11+20+16 = 51 yaitu surat Al Maidah ayat 51, akan tetapi menurut perhitungan karena saya orang Jawa asli,  besok jumat pon adalah (Jumat=6, Pon=7, jumlah 13 yang artinya Air, maka air bisa menjadi tenang, riak-riak kecil atau bahkan bisa menjadi Gelombang Tsunami, waspadai jam 11, 12 serta 15 dan 16. Bukan klenik loh ya,” tutur Mbah Liem sambil tersenyum lepas.
Serta yang menarik lainnya dari 4 November 2016 ini, menurutnya ialah titik kumpul di Masjid Istiqlal, yang artinya Istiglal adalah Kemerdekaan. Titik kumpul ini memberi makna Kemerdekaan adalah dasar dari tujuan perjuangan luhur Bangsa Indonesia. 
Sedangkan merdeka itu artinya bebas dari penjajahan, berdiri sendiri, saling menghormati, tidak menghina, dan tidak dihina, tidak dinista dan tidak menista, tidak dijajah dan tidak menjajah. Oleh karenanya menista atau menghina sama dengan menjajah.
 
“Akan tiba saatnya kembali ke UUD 1945 asli. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Presiden Jokowi sebagai Presiden RI ketujuh merupakan pembuka jalan untuk kembalinya jatidiri bangsa ini, Pambukaning Gapuro dan di situlah sebenar-benarnya poros maritim dunia, ”pungkasnya. (Tan)

Area lampiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *